Desa Batik Girilayu, Matahari Terbit Penerus Budaya Warisan Mangkunegaran

Hey… para manusia keren yang sudah berkunjung ke website kita ini, semoga kesehatan senantiasa dicurahkan untuk kalian yah. Hari ini kita akan memperkenalkan bumi dimana tanah tinggal kita lahir, Desa Girilayu, matahari terbit penerus budaya warisan Mangkunegaran.

Desa Girilayu merupakan Desa di Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Desa ini memiliki luas kurang lebih 311.41 hektar yang terdiri dari 5 Dusun, 32 RT dan 12 RW. Desa Girilayu merupakan salah satu dari sembilan kelurahan yang ada di Kecamatan Matesih, dan dahulu merupakan daerah kekuasaan Mangkunegaran di Karanganyar.

Sejak dibuat Perjanjian Salatiga, 2 tahun setelah perjanjian Giyanti pada tanggal17 Maret 1757. Isinya adalah penyerahan wilayah bekas Kerajaan Mataram kepada Raden Mas Said (Pangeran Sambernawa) dan menjadi penguasa di Pura Mangkunegaran bergelar Mangkunegara I.

Desa Girilayu menjadi daya tarik wisatawan setelah menjadi komplek makam raja-raja Mangkunegaran. Selain itu desa ini menjadi sentra pembatikan yang muncul dan dibawa oleh para penguasa Mangkunegaran. Ditambah lagi di Desa Batik Girilayu, sekarang ditambah menjadi tempat makam Presiden Kedua Indonesia, Presiden Soeharto dan keluarga.

Budaya membatik yang dibawa para abdi dalem keraton Mangkunegaran ke daerah kekuasaan Mangkunegaran, termasuk Girilayu. Batik-batik warisan Mataram juga ikut terbawa dan dilestarikan oleh masyarakat daerah dan menjadi mata pencaharian ketika menunggu panen.

Motif-motif batik yang dibawa ke Girilayu kemudian diwariskan secara turun-temurun, dikembangkan, dan dilestarikan. Yang menarik, perkembangan batik di Desa Batik Girilayu, terutama motif klasik, tidak meninggalkan pakem yang sudah ada. Namun kreatifitas dalam isen-isennya semakin variatit, rumit, dan menarik. Terutama ukel yang menjadi ciri khas isen-isen pembatik di Desa Girilayu.

Yang semakin menakjubkan adalah cara mereka memelihara batik dari awal pencantingan sampai nanti ketika sudah selesai nembok, batik ini dianggap seperti anak sendiri yang dibesarkan penuh dengan harapan dan doa. Batik yang dibuat akan menunjukkan karaker motifnya, sekaligus seperti ada kekuatan magis yang dimiliki.

Dan bukan hanya itu, keanggunan, keberanian, dan tekad dari para pembatik yang sebagian besar sudah lanjut usia. Menceritakan bagaimana para pembatik mengiringi terbitnya matahari dari ufuk timur yang seolah-olah melahirkan seorang anak yang kelak akan membawa kebaikan, membawa harapan besar bagi keluarga, masyarakat, nusa dan bangsa, Indonesia.

Salam Hangat

-prajnaparamita-

Leave a Comment

Your email address will not be published.