Batik Wahyu Tumurun, Selukis Harapan Dalam Goresan Canting

Selamat malam para penebus rindu dalam sepi yang tiada berperi. Salam hangat dari bara api yang menyala kecil menemani dingin pelukan malam. Dalam rangkaian doa penuh makna, dalam titipan kasih sayang Yang Maha Kuasa. Memberikan selukis harapan, dalam goresan canting malam hari ini, batik Wahyu Tumurun.

Sadis kan bahasanya, maklum kebanyakan minum kopi tanpa gula, back to topic.

Hari ini kita akan melihat lebih jauh tentang filosofi motif batik Wahyu Tumurun. Batik yang termasuk ke dalam golongan baik klasik ini motifnya mengambil gambaran dari alam, seperti gunung, tumbuhan dan iber-iber yang sudah distrilisasi sedemikian rupa membenuk sebuah motif.

Memiliki pakem tradisional, batik ini juga memiliki ornamen utama, ornamen tambahan, dan isen-isen yang sudah secara turun-temurun diwariskan.

Secara umum batik Wahyu Tumurun memiliki makna sebuah pengharapan akan turunnya wahyu atau anugerah dari Allah SWT melalui proses usaha dan doa yang kita panjatkan. Seperti dalam cerita pewayangan, turunnya wahyu pasti dibarengi dengan ujian dan cobaan yang menguji tekad seseorang dalam menempuh apa yang dia inginkan.

Dahulu, dalam pembuatannya seorang pembatik harus berpuasa mutih 40 hari 40 malam agar bisa menuangkan harapan dan doanya pada batik Wahyu Tumurun yang mungkin nanti akan dipakai untuk pernikahan,ataupun untuk menyambut kelahiran.

Motif yang bernuansa alam ini mengandung doa dan kepercayaan dari pembatiknya unuk mengungkapkan kebebasannya, kepasrahan, legowo. Yang secara khusus berarti sebuah harapan yang tidak memaksa, sehingga hait akan menjadi tenang, tidak terikat dan pasti semua akan berakhir baik karena diserahkan kepada Yang Maha Memiliki Hidup.

Sebagaimana di Desa Girilayu, tempat batik ini diwariskan, dan besar di desa batik ini. Kepercayaan masyarakat merujuk pada pandangan duniawi, harta benda dan kesenangan sesaat tidak perlu dikejar, pun tidak perlu terlalu berambisi. Karena semua sudah ada yang mengatur dan menentukan apa yang terbaik untuk kehidupan kita.

Tidak tercapainya keinginan kita bukan berarti kita gagal, tetapi kita diberikan jalan yang lain untuk mencapai tujuan kita asal dengan tetap berdoa, tetap berusaha. Tiada mungkin Allah tidak menyayangi kita. Dengan begitu, akan muncul kemantapan hai unuk selalu berprasangka baik kepada Tuhan, dengan begitu kita akan lebih banak bersukur dengan setiap apa yang kita terima.

Sedikit filosofi ini mengajarkan kita tentang kehidupan dari selembar kain batik dari selukis motif batik. Dari kehidupan kita yang penuh fatamorgana, dari asa dan harapan yang kita terbangkan ke langit, semoga Tuhan mengembalikannya ke bumi kepada kita dalam berbagai bentuk hal baik yang terbaik untuk kita semua.

Terima Kasih sudah berkenan membaca

Salam Hangat

-prajnaparamita-

One Comment

  1. Pingback:Desa Batik Girilayu, Matahari Terbit Penerus Budaya Warisan Mangkunegaran - Prajnaparamita Indonesian Batik

Leave a Comment

Your email address will not be published.