Desa Batik Tradisional Girilayu, Rumah Para Maestro Batik yang Terlupakan

Selamat siang para pengguna kuota internet yang mungkin sedang istirahat di siang yang cerah ini. Salam hangat dari kami Prajnaparamita Indonesian Batik yang tetap setia menemani kalian berpetualang di tempat-tempat dimana batik tersembunyi dalam budaya Indonesia.  Dan kali ini, kita kembali membahas Desa Batik Tradisional Girilayu, menuju rumah para maestro batik yang terlupakan.

Sebagai salah satu galeri terbesar yang ada di Desa Girilayu, berulang kali kami berkunjung menuju rumah-rumah para pembatik, kadang hanya untuk sekedar mendengar keluh kesah mereka, perjuangan mereka bergelut dengan malam dan canting untuk membuat mahakarya batik.

Dan bukan hal yang aneh apabila sebagian besar masyarakat Desa Girilayu ahli dalam mencanting kain mori untuk dijadikan mahakarya batik tulis tradisional. Mereka yang menjadi maestro dari mahakarya batik-batik tulis berkualitas yang begitu indah, begitu klasik, yang mereka dapatkan turun-temurun dari para leluhur mereka.

Namun.

Nasib para pembaik tidak seindah hasil karya baik mereka. Mereka tetap menjadi orang desa dengan sederhana, bahkan malah cenderung kekurangan. Dan menjadi sebuah pertanyaan, bagaimana, mereka yang seharusnya menjadi juragan dari seni budaya malah harus terpaksa hidup kekurangan.

Yang pertama adalah dari pemasaran batik itu sendiri, meskipun kami juga sudah berusaha sekuat tenaga untuk membantu pemasaran dan penjualan, namun daya beli batik tulis ini memang faktanya masih begitu sulit. Sehingga mungkin dalam jangka waktu yang lama batik tulis tradisional baru bisa terjual.

Yang kedua, para pembatik sebagian hanyalah menjadi buruh batik, mereka masih belum memiliki sugesti untuk membuat sendiri batik tulis jadi (karena mahalnya proses produksi). Sebagian lebih baik menjadi buruh agar segera mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.

Yang ketiga, tidak maksimalnya berbagai organisasi dan koperasi yang bergelut di dunia batik, yang sebagian besar (bahkan termasuk kami) yang terlalu egois dan belum mampu memberikan solusi terbaik untuk para pembatik tersebut agar lebih memiliki motivasi untuk menghasilkan mahakarya batik tulis yang mampu terjual dengan harga yang tinggi, dengan mereka juga bisa merasakan keuntungan yang didapatkan dari perjuangan mereka membatik.

Yang keempat, kurangnya sadar masyarakat untuk ikut serta mempopulerkan batik dan melestarikan batik tulis yang harapannya selain mampu meningkatkan pendapatan dari sektor pariwisata, sektor batik sendiri juga akan muncul dengan sendirinya apabila sektor-sektor wisata sudah lebih dahulu berjalan dengan baik.

Untuk itu.

Dari berbagai permasalahan tersebut, kami berusaha keras untuk satu demi satu, sedikit demi sedikit membantu kehidupan para maestro batik di Desa Batik Girilayu tersebut. Dari mulai donasi dan penjualan dan pemasaran produk batik mereka secara gratis. Pengembangan potensi wisata dan promosi wisata batik unttuk kembali menunjukkan jati diri Desa Batik Tradisional, Girilayu.

Memang, dan sengaja dipublikasikan, agar nantinya akan muncul, organisasi-organisasi ataupun pihak yang dengan senang hati mampu membantu para maestro batik mendapatkan kehidupan yang lebih layak dan lebih menjanjikan dari hasil karya batik tulis mereka.

Untuk melestarikan generasi batik, untuk melestarikan budaya batik tradisional Indonesia yang menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia. Semoga, dari sejejak langkah ini, menjadi awal dari langkah-langkah lain yang besar untuk berlari menuju kejayaan dinasti batik di Indonesia.

Dan kami tunggu sumbangsih saran dan dukungan kalian semua para pecinta batik untuk paling tidak membeikan suntikan semangat agar para maestro batik tersebut mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Terima Kasih

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

One Comment

  1. Pingback: Sentra Batik : Desa Batik Tradisional Girilayu, Rumah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *