Mengenal Lebih Jauh tentang Bahan-Bahan Pewarna Alam Pada Batik Tulis Tradisional

Bagi penggemar batik tulis tradisional, pewarna alam sudah hampir menjadi kewajiban untuk sebuah mahakaya batik. Tidak salah memang karena batik tulis yang menggunakan pewarna alam cenderung lebih memiliki nilai estetika dan kharisma yang lebih indah. Terlebih dengan bahan-bahan yang biasa kita dapatkan langsung dari alam sekitarnya. Untuk itu, hari ini kita akan mengenal lebih jauh tentang bahan-bahan pewarna alam pada batik tulis tradisonal.

Warna yang digunakan dalam batik memiliki beberapa warna pokok, warna biru gelap (nila), kuning kecoklatan (sogan), dan warna merah. Namun dari berbagai kombinasi tersebut, kita bisa mendapatkan berbagai warna lain setelah melewai proses tolet.

Bahan bahan yang tersedia di alam cukup banyak dan bervariasi, namun, setiap pengrajin warna batik pasti memiliki resep tersendiri untuk menghasilkan warna yang klasik dan khas. Inilah beberapa bahan yang sudah tersedia di alam dan cenderung masih mudah ditemukan.

Indigo [ Indigofera ]

Pohon, batang dan daun indigo menghasilkan warna nila atau biru gelap sebagai wana dasar dan latar pada batik tradisional.  Proses pencelupannya bahkan sampai 40-60 kali untuk menghasilkan warna nilah yang indah.

Kayu Nangka [ Artocarpus heterophyllus ]

Kulit dan batang pohon kayu nangka akan menghasilkan warna kuning yang nantinya akan dikombinasikan dengan warna merah atau cokelat untuk menghasilkan warna sogan. Tidak semua pohon kayu nangka bisa untuk bahan, karena membutuhkan serat-serat wana yang masih banyak di dalam batangnya.

Jelawe [ Teminalia cattapa ]

Buah Jelawe ini nantinya direbus dan akan menghasilkan rebusan warna kuning kecokelatan. Warna yang dihasilkan hampir sama dengan warna sogan, namun biasanya akan ada dominasi warna kuning apabila menggunakan buah jelawe ini.

Batang Tingi [ Ceriops candolleana Arn. ]

Kulit dan batang pohon tingi menghasilkan warna khas kecokelatan khas soga. Warna soga yang menggunakan pohon tingi lebih banyak ditemukan pada batik-batik khas Surakarta.

Daun Mangga Kweni [ Mangifera indica ]

Bahan ini masih banyak kita temukan sekarang ini, dan untuk mendapatkan warna kuningnya, daun harus dikeringkan dan direbus untuk menghasilkan warna kuning atau akan dikombinasikan dengan bahan yang lain.

Batang Pohon Mahoni [ Mahonia japonica ]

Warna yang dihasilkan dari batang phon mahoni adalah cokelat kemerahan, namun lebih mengarah pada warna merahnya. Untuk itu harus melalui kombinasi dengan warna kuning agar mendapatkan warna sogan yang khas.

Mengkudu [ Morindra citrifolia ]

Buah noni atau buah pace ini akarnyamampu menghasilkan warna merah, namun mungkin hanya beberapa pengrajin warna yang masih menggunakannya.

Rebusan kulit dan batang pohon soga menghasilkan warna cokelat, lebih tepatnya “cokelat sogan”. Karena saat ini pohon soga sudah jarang ditemukan, dan lebih karena hanya pohon soga yang menghasilkan warna cokela klasik. Para pengrajin warna mulai mencari kombinasi yang tepat untuk mendapatkan warna sogan alam yang klasik seperti warna pohon soga.

Campuran dari kulit pohon tingi, tegeran, dan mahoni direbus untuk mendapatkan warna soga yang diinginkan. Namun sebelum itu, harus melalukan proses pencelupan dengan warna dasar biru dari daun indigo.

Untuk mendapatkan warna biru, daun indigo direndam selama beberapa hari untuk selanjutnya dicampur dengan kapur agar menjadi pasta. Biasanya 10 kg daun indigo akan menghasilkan 500gr sampai 1 kg pasta pewarna biru alami.

Sedangkan rebusan buah jelawe kering dan daun mangga kweni digunakan untuk menghasilkan warna kuning dan kuning kehijauan. Akar mengkudu menghasilkan warna kemerahan atau jingga.

Nahh, sedikit banyak itulah bahan-bahan alam yang sudah disediakan gratis untuk kita, oleh karena itu, bersyuku kepada Tuhan bahwa kita dilahirkan di bumi tempat budaya yang indah ini mengajarkan bagaimana menghargai makhluk hidup yang lain agar tercipta sebuah ekosistem yang damai dan tenteram.

Terima kasih atas waktunya berkunjung, semoga menambah informasi dan semakin menjadikan kita lebih mampu mencintai budaya negeri kita sendiri, Indonesia.

Salam Hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , .

2 Comments

  1. Pingback: Bahan Batik : Bahan Pewarna Alam pada Batik Tulis

  2. Pingback: Bahan Batik : Batang Pohon Mahoni [Mahonia japonica]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *