Guyub Rukun Membangun Desa Batik Tulis Girilayu dengan Motif Batik Klasiknya

‘le, semakin kamu memahami filosofi batik klasik, semakin indah pula kehidupanmu’. Seperti itulah yang dikatakan leluhur kami, meskipun itu juga masih sebatas teori. Sampai akhirnya kami berjodoh dengan ratusan koleksi batik, di sebuah Desa yang memiliki warisan budaya batik, Desa Batik Tulis Girilayu.

Beberapa orang menganggap, batik hanya pakaian, beberapa lagi menganggap itu hanya barang dagangan. Namun, kami menolak, karena ada hal yang lebih besar daripada sebuah kain yang di dalamnya dilukiskan malam dari lelehan canting kehidupan manusia.

Bayangkan saja, ada ratusan motif berbeda yang mengajarkan kita untuk bagaimana menjadi manusia yang lebih baik. Memiliki watak seorang manusia yang ‘memayu hayuning bawana’ ,yang berarti sebagai seorang manusia harus mampu unuk menebarkan kemakmuran dan kesejahteraan bagi kehidupan sekitarnya.

Motif-motif kasih sayang seperti Truntum, Sido Mukti, Sido Asih, Udan Liris, mengajarkan kasih sayang sesama makhluk hidup, menghargai eksistensi manusia untuk hidup saling rukun dan berdampingan. Baik dalam ekosistem rumah tangga, keluarga, masyarakat, maupun hidup bernegara.

Atau motif-motif yang memiliki karakter yang kuat seperti Parang, Drajat, Wirasat, Cakar, Gurdo, yang memberikan wejangan untuk menjadi manusia yang kuat menghadapi kerasnya kehidupan. Karena semua terkadang tidak akan sepeti yang kita inginkan, begitu juga dengan kehidupan, dan bukan menjadi orang yang selalu ‘sambat’ dengan keadaan tanpa mau berusaha atau menerima ‘ing pandum’.

Padahal hidup ini indah dalam artian apabila  kita mau bersyukur, mau menerima segala keadaan yang telah Tuhan berikan. Seperti keindahan motif-motif Alas, Pisang Bali, Sekar Jagad, Kawung yang menyederhanakan kita meskipun kita memiliki derajat dan pangkat yang tinggi. Serta mampu menunjukkan sifat ‘lembah manah dan andhap asor’ dalam menjalani kehidupan, tidak berlebihan dan cenderung secukupnya.

Karena semua itu sudah Tuhan berikan secara cuma-cuma untuk kita, dengan harapan kita mampu lebih memiliki simpati dan empati terhadap kekurangan dan kelebihan orang lain, dan mampu tetap selalu bersyukur dengan apa adanya diri sendiri.

Seperti tergambar dalam motif Wahyu Tumurun, Cuwiri, Bledhak, yang memposisikan manusia sebagai makhluk Tuhan yang hanya diberikan sedikit waktu untuk mampu menjadi manusia yang menjalani segala perintah Tuhan dan menjauhi larangannya.

Karena itulah, disini, di Desa Batik Girilayu ini ingin, meskipun sedikit, menunjukkan kepada dunia bahwa batik mengajarkan apa arti kehidupan, meskipun tidak semuanya. Dan sejujurnya, pasti akan sangat berat untuk memberikan pemahaman bahwa hidup mengajarkan kita untuk berbagi. Untuk guyub rukun membangun negeri ini, Indonesia.

Dan memang, tidak akan pernah semudah yang kami kira, tetapi apabila kami sendiri tidak mampu menunjukkan apa yang batik tulis ajarkan, bagaimana orang lain akan mengerti bahwa ada keindahan yang tersembunyi di balik semua motif batik yang mereka ciptakan.

Jadi, sedikit romantisme kisah kehidupan ini ingin menjadikan kehidupan yang sementara ini, menjadi lebih bermakna, yang nantinya bukan hanya kita yang akan tersenyum bahagia dan menangis terharu, tetapi juga orang yang berada di sekitar kita.

Salam Hangat dari Desa Girilayu, Indonesia

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *