Batik Tulis Klasik Tradisional, Ketidaksempurnaan Seni yang Sempurna

Heii, lama kan tidak mendengar admin cantik, iya nih, sibuk dengan real life yang berat, sedih. Hari ini kita mau membahas yang ringan-ringan saja sepertinya, kadang-kadang pusing juga membuat artikel tuhh. Sepeti yang sudah kalian baca di judulnya, baik tulis klasik tradisional, ketidaksempurnaan yang sempurna, nah sudah pasti bingung kan ya? Pegangan dulu biar ngga bingung deh.

Kalian seharusnya sudah tahu mengapa batik tulis lebih mahal ketika dijual dibandingkan dengan batik cap atau dengan batik printing. Padahal apabila kita melihat, batik yang menggunakan pint teknologi memiliki 80-90 % kerapian dan kesempurnaan moti geometris yang terdapat dalam motifnya.

Kemampuan teknologi ini memudahkan pembuatan batik dengan detail dan ukuran yang pas dalam satu lembar kain batiknya. Motif-motif yang tergambar sempurna dan apabila menggunakan pola geometris, maka akan terlihat sama dan rapi.

Ditambah lagi dengan warnanya yang juga mendekati sempurna, atau paling tidak kita bisa mendapatkan warna yang kita inginkan lewat kemajuan teknologi mesin yang memudahkan kita mendapatkan batik hanya dalam hitungan menit saja.

Lalu, mengapa batik printing memiliki harga yang murah dibandingkan dengan batik tulis tradisional?

Disinilah faktor seni budaya itu menjalankan tugasnya. Batik print memiliki motif yang terlalu sempurna, hampir tidak ada kesalahan berari dalam setiap motifnya. Namun, lain dengan batik tulis, di setiap motifnya, akan ada perbedaan, bahkan hampir semuanya berbeda, tidak rapi, dan meskipun menggunakan motif geometris yang bahkan dengan motif yang sudah ada tinggal “ngeblat”, hasilnya akan berbeda.

Kesempurnaan batik print malah menjadikan batik kehilangan sentuhan alaminya. Mesin print tidak akan mampu mengganti tangan-tangan para pembatik yang dengan cantingnya berusaha menyempurnakan setiap lekuk motifnya. Ketidak sempurnaan motif tersebut yang menjadi begitu berharga.

Karena apa, karena tidak akan ada motif yang memiliki pola, motif, dan karakter yang sama di setiap hasil mahakaya batik. Meskipun satu daerah, meskipun satu pola, dan bahkan meskipun satu tangan pembatik.

Ketidak sempurnaan motif ini seakan memberikan tanda bahwa setiap batik memiliki citarasa seni yang berbeda, dengan penuh tumpahan rasa kasih sayang seorang pembatik kepada batik yang dibuatnya. Tidak akan ada kesempurnaan dalam motif batik tulis tradisional, tetapi batik tersebut memiliki kesempurnaan dalam mahakarya seni dan budaya yang diagungkan lewat sebuah rasa yang disampaikan para pembatik dalam setiap lekuk motifnya.

Namun itu juga bukan berarti bahwa batik print itu jelek, justru malah dengan batik print, kita semakin lebih tahu, lebih memahami batik sebagai salah satu warisan kebudayaan Nusantara Indonesia. Dengan itu, semakin kita akan menikmati keindahan budaya yang selama ini kita selalu banggakan di bumi kita tercinta, Indonesia.

Kalau bukan kita, lalu, siapa lagi?

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *