Mengapa Motif Batik Alas-Alasan Banyak Dipakai Untuk Pernikahan Adat Jawa ?

Hello, duh kalian sudah kangen yaa, iya deh iya, ini bahas nikahan lagi nihh. Masih bersama Prajnapaamita Indonesian Batik yang selau ada untuk informasi tentang batik dansegala pernak-pernik kebudayaan Indonesia. Hari ini, ada sebuah pertanyaan diemail, mengapa motif batik Alas-Alasan banyak dipakai untuk pernikahan adat Jawa?

Penasaran? Yuk, cuss.

Batik tidak bisadipisahkan dari pernikahan adat Jawa, karena dari batik banyak sekali petuahdan pelajaran yang bisa kita ambil sebelum menempuh kehidupan pernikahan yang langgeng sampai mau memisahkan. Cieelah..

Banyak motif-motif batik yang digunakan dalam pernikahan adat Jawa, mengingat banyaknya motif, beberapa menjadi begitu populer terutama karena filosofi yang dibawa batiktersebut. Dan sudah turun temurun dilestarikan dan diabadikan sebagai busana pernikahan yang wajib untuk pernikahan adat Jawa.

Motif-motif tersebut menjadi pakem tersendiri dan menjadi pilihan utama dibalik semua filosofinya. Motif seperti Sido Mukti, Sido Luhur, Truntum Garuda, Truntum Ukel, Wahyu Tumurun,dan dan lain sebagainya menyempurnakan kebahagiaan kedua mempelai ketika menikah.

Tetapi tahukah kalian, motif batik Alas-Alasan ternyata juga menjadi pilihan utama ketika kita menikah loh. Jadi bukan hanya motif-motif pakem di atas yang sering kita temukan di pernikahan dengan adat Jawa.

Pemakaian motif batik Alas-Alasan dalam pernikahan adat Jawa biasanya dipakai ketika kedua mempelai menggunakan busana Solo Basahan dengan memakai dodot kampuh. Nah busana dodot kampuh ini adalah salah satu busana klasik Pernikahan Jawa, yang sampai sekarang masih bisa kita nikmati keindahannya.

Dalam busana tersebut kedua mempelai memakai pakaian adat Jawa, dengan kain batik yang memakai motif Alas-Alasan. Sebagian besar Solo Basahan memakai kain batik motif ini untuk memperkuat kesan natural dan alami, disamping itu, sebagai pendukung berbagai aksesoris Solo Basahan yang begitu banyak dan rumit.

Sedikit berbedadengan paes ageng dimana busana ini merupakan busana pernikahan yang klasik. Mempelai laki-laki dengan telanjang dada khas orang Jawa zaman dahulu, dan mempelai perempuan memakai kemben sebagai busananya, bukan kebaya.

Oleh karena itu, kesan klasik dan benar-benar menggambarkan bagaimana penduduk Jawa pada masa lalu dengan segala kearifannya. Dan benar-benar seperti kembali ke masa lalu.

Lebih dari itu, motif batik Alas-Alasan ini adalah bukti bagaimana manusia harus bertindak dan berlaku sesuai dengan tatanan kehidupan, mampu melindungi apa yang ada disekitanya, bukan hanya manusia, tapi alam dan lingkungan tempat kita tinggal dan hidup bermasyarakat.

Mungkin bagi sebagianorang, sudah banyak yang tidak perduli dengan alam sekitar, untuk itu motif batik Alas-Alasan ini diciptakan untuk menjadi pengingat bahwa manusia membutuhkan alam semesta sebagai tempat berteduh, sebagai tempat untuk menjalani kehidupan yang sementara ini.

Batik Alas-Alasan ini juga menjadi sebagai lambang kekuatan keluarga Jawa yang mandiri, andhap asor,dan berbudi luhur dalam setiap laku dan lakon kehidupannya. Mungkin tidak semuanya, tetapi dari yang bisa kita lihat, begitulah orang Jawa.

Terima Kasih

Salam Rahayu, Salam Hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *