Mereka Bukanlah Buruh Batik, Tetapi Mereka adalah Para Maesto Batik Kehidupan

Berangkat dari artikel kemarin, membuat kita merasa semakin perlu untuk lebih mengangkat profesi para pembatik tulis tradisional. Dan karena lebih kepada nilai moral yang ingin kita tunjukkan kepada kalian semua. Kaerna mereka bukanlah buruh batik, tetapi mereka adalah para maestro batik kehidupan.

Dari yang kita temui, di sini, di tanah kelahran kami, membatik bukanlah sebuah pekerjaan yang mewah untuk dijalani, terlebih dengan kebutuhan hidup yang begitu memaksa mereka harus mendapatkan penghasilan.

Mungkin bagi generasi muda, lebih baik bekerja merantau, atau lebih baik mencari pekerjaan yang pasti menghasilkan, bukan dari membatik. Dan serta merta pekerjaan membatik hanya akan dijalani oleh para simbah dan simbok yang sudah memasuki usia senja.

Tidak munafik apabila mereka juga membutuhkan penghasilan dari batik yang mereka buat, dan kami perkirakan itu hanya akan cukup untuk beberapa hari. Dai ngengreng saja mungkin hanya mendapatkan 300-400 ribu, belum lagi ketika harus nerusi dan nembok.

Ada yang bilang mereka adalah buruh batik, jadi dengan harga sebesar itu menurut mereka sudah cukup banyak untuk mencukupi kehiupan mereka. Namun dibalik itu semua kita memang tidak melihat semua yang dilihat oleh kedua retina mata kita.

Berulang kali kami tekankan bahwa mereka memang manusia biasa dan mendedikasikan hidupnya untuk batik adalah sebuah keputusan yang harus diambil, meskipun dengan harga yang murah. Jadi merka hanya pelu bersyukur apabila nantinya batik tulis mereka laku dijual.

Sementara itu, kehidupan mereka tidak kunjung membaik, tidak kunjung mendapatkan apresiasi yang semestinya mereka dapatkan, meskipun kami tahu mereka tidak ingin apresiasi apapun dari kegiatan mereka membatik.

Mereka masih hidup dengan kesederhanaan, tidak meminta bantuan dari pihak manapun, tidak perlu mengemis untuk mendapatkan materi yang sangat mereka butuhkan. Dan kebanyakan hanya buta mata dan hatinya untuk melihat sisi yang tidak mau mereka lihat.

 

Terkadang memang sekejam itu kehidupan, dan terkadang manusia menjai begitu egois, begitu rakus akan duniawi, lupa bahwa mereka nantinya juga hanya akan menjadi puing di bawah nisan.

Biarlah kami menuliskan keadaan yang semestinya, tanpa perlu dilebihkan atau dikurangkan, mereka hidup dengan sederhana dan bahagia. Tidak pernah mengeluh tentang kehidupan dan selalu bersyukur besok masih bisa menyelesaikan motif batik mereka.

Merekalah maestro kehidupan dan kesederhanaan, yang tanpa pernah berhenti untuk menyerah, tanpa perlu berteriak untuk mengeluh, mereka yang tahu senja akan tenggelam, dan mereka tahu bagaimana harus menjalani kehidupan dengan tetap bersyukur kepada Tuhan.

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *