Lukisan Senja Renta Kehidupan Seorang Perempuan Tua dengan Batiknya

Menjadi tua adalah sebuah perjalanan yang harus dilalui semua manusia, dan waktu yang akan memakan pejalanan hidup manusia tersebut. Tidak ada yang bisa mengelak dari senja, semua sudah ada pada garis takdirnya masing-masing. Lukisan senja renta kehidupan seorang perempuan tua dengan batiknya.

  Bagi sebagian orang, empati dan simpati itu hanyalah mitos, karena lebih baik mereka hidup dengan egois, paling tidak menyelamatkan diri mereka sendiri. Dan mungkin bagi kami juga, terlalu egois menjalani kehidupan, kaena tidak ada gunanya memikikan orang lain.

Namun

Mereka merubah semua sudut pandang sepihak itu menjadi lebih luas, dari lukisan batik mereka, dari keriput yang mereka coba sembunyikan dalam sisi senyum pahit kehidupan renta mereka. Jauh dari hingar bingar pasar atau bahkan mall yang berdiri tegak sembilan puluh derajat, 5 lantai.

Mereka lebih suka menikmati senja dengan pandangan kosong kepada matahari tenggelam, berharap, ada keajaiban di sana, di generasi selanjutnya, generasi yang melanjutkan perjuangan mereka. Meneruskan lereng-lereng yang penuh dengan motif geometris, meneruskan mekarnya bunga-bunga dalam motif batik mereka.

Perempuan itu terkadang tertunduk, sedikit mengantuk menyelesaikan Babon Angrem yang sudah hampir sebulan beliau kerjakan. Pilu sekali sepertinya, karena beliau menggambarkan kehidupannya sendiri dalam lukisan canting yang sudah membuat tangannya gemetar.

Babon Angrem itu seperti mengerami telur yang tidak kunjung menetas, entah itu telur mereka atau telur dinosaurus yang dititipkan velociraptor kemarin sore. Lukisan motif itu benar-benar menggambarkan seorang induk yang telah berusia senja, dimana anak-anak mereka sudah lupa akan bagaimana memancing ikan di sungai, atau bermain kataman suda manda di halaman tempat mereka biasa membatik.

Sejenak mereka ingin kembali muda, untuk lebih banyak menggambarkan kehidupan mereka dalam setiap motif batiknya. Karena mereka tahu tidak akan lama lagi bersanding dengan gawangan yang sudah lusuh terkena malam yang menghitam.

Dan

Perempuan renta itu akan segera mengambil lentera untuk dia berjalan menuju ke masjid, mengadukan segala duka dan lara mereka yang telah sekuat tenaga mereka tahan. Hanya itu yang mereka punya, berharap besok lukisan batiknya akan segera laku, kemudian menulis lembaran cerita baru yang indah, dengan gerimis di senja sore itu,

Mungkin motif Udan Liris, agar mereka bahagia ketika nanti, berkata kepada cucu-cucunya, bahwa ada keindahan yang tidak setiap orang bisa melihat, bahwa ada jingga dalam setiap senja, dan bahwa ada rindu di setiap motif batik itu.

untuk itu, berjuanglah, cucuku

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *