Sejarah dan Falsafah Kehidupan dari Indahnya Tulisan Huruf Jawa Kuno

Kulonuwun, apa kabar kalian semua yang auto ganteng dan cantik ketika sudah berkunjung di website kita yang sederhana. Yang selalu akan membahas budaya Jawa beserta segala keunikan dan keindahannya. Seperti yang akan kita bahas kali ini, sejarah dan falsafah kehidupan dari indahnya tulisan huruf Jawa Kuno.

Pernah melihat di beberapa tempat di daerah Surakarta atau Yogyakarta, beberapa nama jalan ada yang menggunakan tulisan Jawa sebagai identitas. Atau pada waktu kalian belajar Bahasa Jawa ketika di sekolah dasar. Nah itu huruf Jawa yang seperti huruf Thailan kalau kalian melihatnya.

Ribet dan susah, Iya, serius.

Pertama kita harus mengenal dulu siapa yang membuatnya. Menurut beberapa sumber, Huruf (aksara) Jawa terdiri dari duapuluh yaitu ; ha-na-ca-ra-ka-da-ta-sa-wa-la-pa-dha-ja-ya-nya-ma-ga-ba-tha-nga (dalam ucapan/sebutan: ho-no-ro-ko-do-to-so-wo-lo-po-dho-jo-yo-nyo-mo-go-bo-tho-ngo), yang didalamnya ternyata mengandung arti menceritakan sebuah legenda, yaitu tentang seorang pahlawan dalam mitologi yang datang dari Makkah sedang berkelana ke berbagai negara, yang kemudian diketahui bernama Ajisaka.

Tentang Aji Saka sendiri, terdapat berbagai literatur yang mengkisahkan sejarah Ajisaka dalam versi yang berbeda. Menurut Dr. Purwadi, M.Hum dan Hari Jumanto, S.S dalam buku Asal Mula Tanah Jawa (Gelombang Ilmu: Sleman-Yogyakarta: 2006), yang disusun berdasarkan Kitab-kitab Jawa Juno dari Serat Pustaka Raja Purwa karya Raden Ngabehi Ranggawarsita, juga diambil dari kisah-kisah Babad Tanah Jawi. Dr. Purwadi,M.Hum dan Hari Jumanto, S.S menyebutkan, Ajisaka adalah orang yang pertama menginjakkan kaki di tanah Jawa dengan nama Prabu Isaka atau Prabu Ajisaka.


Ajisaka datang di Srilangka pantai India Selatan kemudian di Sokadana (mungkin yang dimaksud adalah Sumatera) dan akhirnya tiba suatu tempat di Pulau Jawa yang waktu itu masih dihuni oleh raksasa-raksasa. Pertamakali, Ajisaka menemukan sejenis gandum yang dinamakan “jawawut” sebagai makanan pokok penduduk di tempat itu, yang kemudian ia memberi nama pulau itu menjadi “Nusa Jawa”.

Nah, ada sebuah dongeng tentang Ajisaka yang kita akan bahas lain waktu saja, karena kita akan membahas filosofi di balik keindahan huruf Jawa itu sendiri. Sebenarnya, banyak referensi mengenai arti huruf Jawa itu sendiri. Kita pelajari dari bait per baitnya dahulu.

Ha na ca ra ka : Ada utusan

HA : hurip : hidup

NA : legeno : telanjang

CA : cipta : pemikiran, ide ataupun kreatifitas

RA : rasa : perasaan, qolbu, suara hati atau hati nurani

KA : karya : bekerja atau pekerjaan atau di lahirkan.

Manusia ” dihidupkan “ dalam keadaan telanjang akan tetapi manusia memiliki cipta rasa karsa, otak yang mengkreasi cipta’, hati yang mempunyai fungsi kontrol ( dalam bentuk rasa ) serta raga / tubuh / badan yang bertindak sebagai pelaksana.

Jadi kurang lebih berarti ada ” utusan ” yakni utusan hidup, berupa nafas yang berkewajiban menyatukan jiwa dengan jasat manusia. Maksudnya ada yang mempercayakan, ada yang dipercaya dan ada yang dipercaya untuk bekerja. Ketiga unsur itu adalah Tuhan, manusia dan kewajiban manusia ( sebagai ciptaan )

Da ta sa wa la : Saling bertengkar

DA : dada

TA : tata : atur

SA : saka : tiang penyangga

WA : weruh : melihat

LA : lakuning : ( makna ) kehidupan, urip.

Dengarkanlah suara hati nurani yang ada di dalam dada, agar bisa berdiri tegak seperti halnya tiang penyangga ( saka ) sehingga akan mengerti makna kehidupan yang sebenarnya. Dan berarti manusia setelah diciptakan sampai dengan data [saatnya dipanggil] tidak boleh sawala [mengelak] manusia ( dengan segala atributnya ) harus bersedia melaksanakan, menerima dan menjalankan kehendak Tuhan.

Pa dha ja ya nya : Sama saktinya

PADHAJAYANYA : sama kuat pada dasarnya / awalnya semua manusia mempunyai dua potensi yang sama (kuat), yaitu potensi melakukan kebaikan dan potensi untuk melakukan keburukan. berarti menyatunya zat pemberi hidup (Khalik) dengan yang diberi hidup (makhluk).

Maksdunya padha ”sama” atau sesuai, jumbuh, cocok ”tunggal batin yang tercermin dalam perbuatan berdasarkan keluhuran dan keutamaan. Jaya itu [menang, unggul] sungguh-sungguh dan bukan menang-menangan [sekedar menang] atau menang tidak sportif.

Ma ga ba tha nga : Sama-sama mati

MA : sukma : ruh, nyawa

GA : raga : badan, jasmani

BA-THA : bathang, mayat

NGA : lunga, pergi

Meskipun dengan kehebatan cipta, rasa, karsa, entah kita baik atau jahat akhirnya ruh / nyawa pasti suatu saat akan kembali ke penciptanya; sehinga manusia harus bisa mempersiapkan diri. berarti menerima segala yang diperintahkan dan yang dilarang oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Maksudnya manusia harus pasrah, sumarah pada garis kodrat, meskipun manusia diberi hak untuk mewiradat, berusaha untuk menanggulanginya.

Nah, dari sepanjang artikel ini ternyata kita baru sampai pada sisi luarnya saja, belum kepada pembahasan yang lebih mendalam mengenai huruf Jawa. Dan mungkin besok-besok kita akan emngungan kembali dan belajar bersama mengenai bagaimana cara menulis dan membaca huruf Jawa.

Karena admin mau pacaran dengan kopi, sementara kita akhiri dulu disini, semoga bisa sedikit mengembalikan cinta kalian kepada budaya Indonesia dan semakin bangga menjadi salah satu dari Negara yang penuh budaya, Indonesia.

Salam Hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *