Pasangan Kembar Batik Truntum Garuda untuk Keempat Orang Tua di Pelaminan

Hari pertama setelah kemarin Hari Batik Nasional 2018, kami terus mengembangkan dan melestarikan batik, entah bagaimanapun caranya. Lagi-lagi kita akan membahas pernikahan, biar nanti tidak banyak bertanya batik apa yang harus dipakai, motifnya apa, filosofinya apa, nah kita akan jelaskan semua. Sebagai pembuka kita bahas pasangan kembar batik Truntum Garuda.

Menikah bukan sekedar menikah, di dalam pernikahan itu ada makna ibadah dan sebuah komitmen untuk manjadikan keluarga baru di atas keluarga. Jadi bukan hanya sekedar menyatukan dua insan manusia yang sedang dimabuk asmara, tetapi lebih ke menyatukan dua keluarga yang nantinya akan menjadi satu keluarga.

Kok mbulet ya, hahaha

Benar sekali, keluarga menjadi acuan bagaimana setelah menikah akan menentukan masa depan. Dan kemudian bisa disebut kita akan mempunyai bapak dan ibu tambahan, yes benar sekali, bapak dan ibu mertua. Yang sudah menjadi kewajiban kita untuk menghormati keduanya.

Di dalam resepsi pernikahan, mereka akan duduk di sebelah kanan dan kiri kita sebagai bukti bahwa mereka adalah tiang kehidupan kita yang senantiasa akan selalu memberikan doa dan dukungan kepada anak-anaknya untuk membina hidup berumah tangga yang lebih harmonis.

Istilahnya mereka pasangan old school gitu deh.

Nahh, dalam resepsi pernikahan yang apabila menggunakan adat pernikahan Jawa, mereka akan memakai setelan Jawa lengkap dengan kain batik yang diwiru. Selain itu bapak nantinya akan memakai beskap dan ibu akan memakai kebaya lengkap dengan sanggulnya.

Nah, salah satu batik yang biasa digunakan adalah motif truntum garuda. Sudah banyak dijelaskan di artikel di depan, batik ini memiliki filosofi sebuah kasih sayang yang terus menerus dari orang tua kepada anaknya, dan merestui mereka membangun sebuah keluarga yang juga nantinya akan diteruskan lagi kepada generasi selanjutnya.

Jadi rasanya seperti menikah lagi di pernikahan anaknya.

Batik ini jugamemiliki unsur motif garuda yang melambangkan bahwa harapan yang begitu besar untuk kedua pasangan mampu menggapai cita dan cintanya setinggi angkasa. Kemudian mampu kembali membumi dan menjunjung tinggi orangtua pasangan berdua dan mampu membahagiakan mereka.

Kalau orang Jawa mengatakan pasangan kembar ini sebagai sarimbit, karena kebanyakan kedua orang tua mempelai akan menggunakan batik dengan motif dan warna yang sama sebagai perlambang bahwa mereka telah merestui pernikahan kedua mempelai yang saling menyayangi tersebut.

Pasangan kembar truntum garuda ini juga memiliki makna bahwa dalam setiap cantingan batik pasti memiliki perbedaan dan nilai khas tersendiri, baik itu dari motif, dari ukel maupun dari ceceknya. Dan sama halnya dengan manusia, untuk itu tidak perlu membandingkan sesuatu dengan yang lain, apalagi sampai merendahkan apa yang orang lain miliki.

Kerendahan hati dan kesederhanaan tersebut dibungkus rapi dalam sebuah kain yang dinamakan motif truntum garuda, sebuah cinta dan pengharapan yang tinggi untuk menjadikan hidup di masa depan dengan lebih baik dan lebih harmonis.

Salam Hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

One Comment

  1. Pingback: Batik Indonesia : Batik Truntum Garuda Orang Tua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *