Mereka Yang Menggantungkan Hidup Pada Selembar Kain Batik Tulis

Manusia, membutuhkan berbagai kebutuhan untuk menunjang kehidupan mereka setiap hari. Banyak profesi dan pekerjaan yang membantu mereka mendapatkan materi untuk mencukupinya. Dan salah satu dari pekerjaan itu adalah membatik, dan ini adalah cerita mereka yang menggantungkan hidup pada selembar kain batik tulis.

Membatik, pekerjaan yang membutuhkan kesabaran dan keluwesan tangan untuk bagaimana menggambar motif pada kain mori untuk menjadi kain batik. Kesabaran dan ketekunan tersebut yang membuat mereka perlu mendapatkan pengakuan atas apa yang mereka kerjakan.

Para pembatik bukan hanya orang-orang yang memiliki jiwa seni, bahkan mereka kebanyakan adalah perempuan tua yang sudah tinggal menunggu usia mereka yang juga entah sampai kapan. Tetapi dedikasi mereka begitu tinggi terhadap batik, meskipun terkadang sulit untuk menjual karya mereka tersebut.

Dari hasil mereka membatik yang kurang lebih membutuhkan waktu 3 minggu sampai satu bulan, hasil ngengreng batik mereka memiliki harga berkisar 300-400 ribu. Harga itu karena batik yang mereka buat belum diberikan warna dan masih melalui proses yang mereka tidak bisa melakukannya sendiri.

Benar sekali mereka hanya membatik, proses seterusnya dikerjakan oleh orang lain, dari hasil mereka membatik, tentu saja terkadang bisa dibilang cukup tidak cukup, karena kebutuhan sekarang ini lebih banyak, meskipun mereka juga sudah memiliki usia yang tidak lagi muda.

Terkadang uang hasil membatik mereka hanya untuk sekedar membeli bumbu masak di dapur, atau membeli lauk-pauk yang sederhana untuk dinikmati bersama keluarga.

Selain itu, mereka tidak menggunakan uang mereka untuk keperluan mereka sendiri, terkadang diberikan kepada anak mereka, atau diberikan kepada cucu mereka sekedar untuk uang jajan. Dan itu semua mereka berikan tanpa ragu, meskipun mereka juga mungkin dalam keadaan kekurangan.

Para pembatik melakukan itu sekedar mengharap berkah dan anugerah kesehatan dari Tuhan untuk tetap membatik, sembari menungu jatah usia mereka akan habis nantinya.

Tidak perlu mengejar materi yang tidak akan ada habisnya jika kita mencari, dan tidak akan pernah cukup manusia mengejar harta, benda, dan pangkat di dunia ini. Yang terkadang harus saling menjatuhkan untuk mendapatkan semua itu.

Namun bagi para pembatik, rasa tempe goreng di kala sore masih senikmat makanan restoran yang mahal. Rasa teh hangat yang mereka buat dari ceret lusuh yang menghitam di pawon mereka, masih sehangat sore mereka menuju senja.

“adhang-adhang tetesing embun”

 Begitulah peribahasa mereka, hanya mengharapkan berkah dari Allah Yang Maha Adil dengan tetap meniti kesabaran mereka kepada batik tulis yang puluhan tahun tanpa lelah mereka perjuangkan. Karena mereka percaya rezeki tidak akan pernah salah alamat meskipun kamu berada di ujung kutub utara.

Mereka adalah para pembatik, dan dengan keyakinan tersebut mereka tetap dan terus mempertahankan batik untuk generasi selanjutnya, tidak perlu diminta, tidak perlu dipaksa, mereka akan tetap membatik selama nafas masih berada di dalam rongga paru-paru mereka.

Untuk itu, tetap support para pembatik di manapun bagian dunia ini, karena mereka berusaha melestarikan budaya Indonesia agar tetap menjadi budaya kebanggaan seluruh rakyat Indoensia.

Untuk Para Pembatik, Salam Hangat dan Salam Hormat Untukmu

Indonesian Batik

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *