3 Pepatah Jawa yang Berhubungan dengan Jarit Batik Tentang Kehidupan

Entah darimana dahulu masyarakat pedalaman Jawa selalu membuat sesuatu yang begitu memiliki nilai filosofis. Bahkan, kalimat saja mereka jadikan pengingat untuk perjalanan hidup manusia di muka bumi. Ada ratusan pepatah yang mencoba disampaikan lewat kalimat-kalimat lugas dan penuh arti. Sebagai contoh, 3 pepatah Jawa yang berhubungan dengan jarit batik, karena disini, adalah bumi batik Indonesia.

Apa saja pepatah Jawa itu, let’s go kita bahas satu per satu.

Gusti Allah Dhuwit, Nabine Jarit

Pepatah yang satu ini begitu keras menampar kehidupan kita sebagai manusia, betapa tidak, pepatah yang secara harafiah berarti “Gusti Allahnya uang, nabinya kain jarit”. Pepatah ini menggambarkan kehidupan kita yang sekarang dimana sebagian besar orang hanya mengejar kehidupan duniawi saja.

Sehingga berbagai cara ditempuh untuk mendapatkan kekayaan duniawi yang berupa materi. Bahkan hati nurani ditutup rapat dan melupakan etika, moral, kebajikan, dan lain sebagainya hanya untuk mendapatkan uang, kekayaan yang berlimpah, derajat yang tinggi, dan seterusnya.

Nilai-nilai kehidupan dilupakan, bahkan sampai melupakan kuasa Gusti Allah dan utusanNya demi mendapatkan semua itu. Dan ketika sudah lupa nilai ketuhanan, maka yang ada hanya kehidupan yang tidak memiliki rasa pangrasa, tidak memiliki tenggang rasa dan lebih cenderung egois.

Sebagai contoh mudah adalah para koruptor yang dengan seenaknya mengambil yang bukan haknya demi mendapatkan kekayaan berlimpah dan berbagai kemewahan dunia. Kita bisa melihat bahwa sebagian besar dari mereka sudah tidak memiliki hati, dan percayalah mereka akan menanggung akibatnya, “Gusti Allah mboten sare”.

Kesrimpet Bebed Kesandhung Gelung

Pepatah yang kedua secara harafiah berarti terjerat bebed (kain jarit) tersandung gelung. Pepatah ini secara luas dapat diartikan sebagai terjeratnya pria kepada wanita. Bebed dan gelung dalam masyarakat Jawa adalah identik dengan wanita itu sendiri. Jadi, yang dikatakan sebagai kesrimpet bebed kesandung gelung adalah peristiwa terjeratnya seorang pria (biasanya yang telah berkeluarga) pada wanita wanita lain (bisa gadis, janda, atau ibu rumah tangga).

Dalam peristiwa semacam itu si pria bisa tidak berkutik sama sekali (karena telah terjerat dan tersandung) oleh wanita tersebut sehingga kehidupannya menjadi kacau dan serba tunduk pada wanita tersebut. Apa pun yang dimaui wanita itu akan dituruti oleh pria yang terlanjur kesrimpet tersebut.

Pepatah ini ingin mengajarkan agar kita semua tidak mudah terjerat oleh hal-hal yang nempaknya memang indah dan nikmat, namun di balik itu hal demikian justru mengancam ketenteraman, keselamatan, dan kenyamanan hidup kita sendiri dan orang lain (keluarga, saudara, tetangga, dan sebagainya).

Bisa kita lihat saat ini banyak kasus perceraian, kasus perselingkuhan, dan bahkan yang terbaru itu ada yang disebut pelakor. Secara tidak langsung, peribahasa itu mengingatkan kita untuk lebih berhati-hati dalam kehidupan kita sebagai manusia. Ada yang boleh dan ada yang tidak boleh dilakukan.

Ajining Raga Dumunung Ana Ing Busana

Pepatah yang satu ini sepertinya sudah sering kita dengarkan, pepatah yang secara harafiah berarti harga diri dari fisik (tubuh) terletak pada pakaian. Sebagai orang Jawa, memakai busana tidak sembarangan, bahkan dari batik, sebagai busana Jawa saja dibedakan menurut filosofi penggunaannya.

Analoginya begini, misalnya, kita mengenakan pakaian renang kemudian menemui tamu yang berkunjung ke kita atau sebaliknya. Dapat dibayangkan bagaimana respon atau tanggapan orang lain terhadap kita. Sungguhpun pakaian renang yang kita kenakan berharga jutaan rupiah misalnya, orang tetap tidak akan menghargai kita karena apa yang kita kenakan tidak tepat penempatannya.

Pada intinya pepatah di atas ingin menegaskan kepada kita agar kita mampu menghargai diri sendiri dengan berbusana yang pantas, tempat yang tepat, serta waktu yang sesuai. Dengan begitu kita tidak akan jadi bahan tertawaan, juga tidak akan mengganggu keselarasan hubungan sosial.

Contoh lain adalah para puteri keraton yang kita sendiri bisa melihat nilai anggun, nilai kecantikan yang berbeda dengan misalnya miss universe. Ada seperti sebuah image yang berbeda yang digambarkan lewat gaya berbusana mereka dilihat secara umum.

Pepatah-pepatah Jawa ini hanya sebagai pengingat bahwa berarti dahulu sudah ada berbagai tingkah polah manusia yang keluar dari garis lurus kehidupan. Dan itu berpengaruh kepada garis-garis kehidupan yang lain di sekitarnya.

Jadi ibaratnya kita diingatkan untuk saling mengingatkan bahwa hidup di dunia tidak akan selamanya, segudang harta, istri yang cantik seperti dongeng, tidak menjadi sebuah pakem ukuran kesuksesan kehidupan manusia.

Tetapi,

Bagaimana kita sebagai manusia mampu untuk memiliki harta yaitu hati dengan busana ketuhanan, kebaikan, kebijaksanaan, kerendah hatian, dan  tenggang rasa kepada sesama manusia.

Salam Hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

One Comment

  1. Pingback: Mereka Yang Menggantungkan Hidup Pada Selembar Kain Batik Tulis - Indonesian Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *