Aura Mistis Kesejukan Batik Tulis Klasik yang Mulai Menghilang

Dalam kehidupan, selalu ada yang tidak bisa kita bayangkan dengan akal sehat. Berbagai kisah supranatural kita mungkin pernah melihatnya. Hal mistis juga menjadi sebuah kisah yang seru untuk kita ungkap lebih jauh. Apalagi berbicara tentang kebudayaan Jawa. Untuk itu, kita akan mencoba mendalami aura mistis kesejukan batik tulis klasik yang perlahan mulai menghilang.

Bagi sebagian orang, mungkin, mistisme selalu dianggap sesuatu yang melanggar agama dan berujung syirik. Tetapi, dari sudut pandang seni dan kebudayaan mungkin sedikit berbeda. Dan kalau semua orang bisa melihat lebih dekat, bahwa semua itu untuk menambah iman dan kepercayaan kita kepada Tuhan Yang Maha Esa. Semuanya kembali kepada bagaimana sudut pandang kita.

Kembali kepada batik, beberapa hari ini kami sering membandingkan antara batik tulis klasik dengan batik tulis kontemporer. Dan ada sesuatu yang menarik ketika kita melihat ada sebuah perbedaan, ada sebuah ketertarikan tersendiri dengan batik klasik.

Seperti memiliki sebuah inner beauty yang tersimpan dalam motifnya, dalam warnanya, bahkan dalam wangi malam batiknya.

Seperti yang kita tahu, motif klasik lebih memiliki filosofi yang mendalam, karena ketika membuat batik tulis klasik zaman dahulu, mereka terobsesi dengan seni membatiknya, bukan hanya uang. Dahulu membatik adalah sebuah pengabdian, sebuah kepatuhan kepada raja atau penguasa daerah.

Oleh karena itu ketika membuat batik tulis klasik, ada sebuah kebanggaan tersendiri ketika bisa membuatnya menjadi sebuah karya seni yang indah.

Batik klasik pedalaman cenderung memiliki warna gelap dan biasanya hanya diisi oleh warna hitam, putih dan sogan. Berbeda dengan batik pesisir yang menambahkan beberapa warna karena akulturasi dengan berbagaibudaya yangmasuk lewat perdagangan zaman dahulu. Namun, warna-warna klasik tidak akan bisa menipu mata kita.

Warna klasik lebih gelap dan cenderung fade atau tidak terlalu tajam warnanya. Dan sudah pasti aroma malam yang digunakan memiliki wangi yang berbeda. Begitu juga dengan batik pesisir yang kedalaman warnanya bisa kita lihat berbeda.

Dari pertama kita melihat batik klasik pasti akan ada rasa yang menenangkan, sejuk di hadapan mata kita, dan entah mengapa, seperti mengajak kita kembali ke masa lalu, kembali kepada negeri dongeng yang penuh kesejukan dan kedamaian di dalamnya.

Dan memang benar saat ini, semua aura tersebut mulai menghilang, karena mungkin banyak yang hanya sekedar membuat batik, tetapi tidak memberikan cintanya kepada batik, meskipun motif kontemporer bertema klasik, apabila sense tersebut tidak ada di dalam batik tulis, maka auranya juga akan menghilang.

Dan sebenarnya bukan hal mistis yang sedari tadi kita ingin ungkapkan, tetapi lebih kepada bagaimana kita menjadikan kain batik tulis sebagai sesuatu yang kita bisa cintai, sebagai pengingat sejarah kebudayaan di Indonesia, dan kesadaran untuk mampu lebih mengembangkan nilai batik untuk generasi selanjutnya.

Aura tersebut adalah proyeksi cinta kita kepada batik tulis, kepada bagaimana dahulu para pembatik benar-benar memilii nilai-nilai seni dan kebudayaan yang ingin mereka wariskan kepada kita sebagai generasi selanjutnya.

Karena dari batik, kita mampu mendapatkan berbagai petuah bagaimana menjalani hidup dengan baik. Untuk diri kita sendiri, keluarga, masyarakat, dan nusa bangsa, Indonesia.

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *