Perlu Tahu, Beginilah Pembagian Pekan dalam Kalender Jawa dan Maknanya

Oii, sekarang hari kamis, kamis pon kalau penanggalan Jawa, waaa, mesti ngga mengerti deh pembagian nama pekan di dalam kalender Jawa. Nih kita bakal kasih tahu, sekaligus memberi penjelasan tentang Pembagian Pekan dalam Kalender Jawa dan Maknanya.

Mungkin bagi generasi sekarang, tidak akan mengerti bagaimana pembagian pekan menurut kalender Jawa, karena mereka hanya menganut sistem malem minggu minta hujan, sama seperti admin.

Terkadang kalau kita hidup di lingkungan kehidupan budaya Jawa, orang tua akan mengingat apa nama “pasar”  yang biasanya memiliki makna. Misalnya selasa kliwon, jum’at pahing, dan lain sebagainya. Nah orang Jawa pada masa pra Islam mengenal pekan yang lamanya tidak hanya tujuh hari saja, namun dari 2 sampai 10 hari.

 Pekan-pekan ini disebut dengan nama-nama dwiwara, triwara, caturwara, pañcawara (pancawara), sadwara, saptawara, astawara dan sangawara. Zaman sekarang hanya pekan yang terdiri atas lima hari dan tujuh hari saja yang dipakai, namun di pulau Bali dan di Tengger, pekan-pekan yang lain ini masih dipakai.

Pekan yang terdiri atas tujuh hari dihubungkan dengan sistem bulan-bumi. Gerakan (solah) dari bulan terhadap bumi berikut adalah nama dari ke tujuh nama hari tersebut :

Radite • Minggu, melambangkan meneng (diam)

Soma • Senin, melambangkan maju

Hanggara • Selasa, melambangkan mundur

Budha • Rabu, melambangkan mangiwa (bergerak ke kiri)

Respati • Kamis, melambangkan manengen (bergerak ke kanan)

Sukra • Jumat, melambangkan munggah (naik ke atas)

Tumpak • Sabtu, melambangkan temurun (bergerak turun)

Pekan yang terdiri atas lima hari ini disebut sebagai pasar oleh orang Jawa dan terdiri dari hari-hari, kita bahas satu per satu :

Kliwon

Kliwon memiliki arti Asih , sebuah posisi sikap dari bulan yang melambangkan jumeneng atau berdiri. Kliwon adalah nama hari dalam sepasar atau juga disebut dengan nama pancawara, minggu yang terdiri dari lima hari dan dipakai dalam budaya Jawa dan Bali.

Hari Selasa-Kliwon dinamakan hari Anggara Kasih dan dianggap sebuah hari yang istimewa dalam budaya Jawa dan Bali. Lalu oleh Orang Jawa, terutama hari malam Jumat Kliwon dianggap hari yang keramat.

Jadi disini bukan kliwon itu monyetnya Si Buta Dari Goa Hantu itu loh ya.

Paing atau Pahing

Selanjutnya adalah pahing, melambangkan madep dalam posisi sikap bulan dan secara harafiah berarti pahit. Paing atau Pahing adalah nama hari dalam sepasar atau juga disebut dengan nama pancawara, minggu yang terdiri dari lima hari dan dipakai dalam budaya Jawa dan Bali.

Tidak ada makna spesial selain ketika seseorang menentukan tanggal pernikahan atau hajatan menggunakan perhitungan Jawa dari angka kelahiran kita.

Pon

Salah satu posisi sikap bulan yang melambangkan sare atau tidur, pon juga berarti petak. Nah, kami juga belum menemukan filosofi yang lebih mendalam tentang pemakaian kalender Jawa yang lebih jauh mengenai pasaran pon tersebut.

Wage

Wage atau cemeng berarti melambangkan sikap bulan sedang lungguh atau duduk. Wage adalah nama hari dalam sepasar atau juga disebut dengan nama pancawara, minggu yang terdiri dari lima hari dan dipakai dalam budaya Jawa dan Bali.

Sebagai contoh, pengarang Indonesia Raya, Wage Rudolf Soepratman lahir pada sebuah hari Wage di dalam kalender Jawa.

Legi

Legi, berarti manis, kaya admin, melambangkan mungkur atau berbalik arah ke belakang dalam posisi bulan. Legi atau disebut juga Umanis oleh orang Bali, adalah nama hari dalam sepasar atau juga disebut dengan nama pancawara, minggu yang terdiri dari lima hari dan dipakai dalam budaya Jawa dan Bali.

Hari Sabtu-Umanis adalah hari Saraswati, hari turunnya Dewi Ilmu Pengetahuan.

Sebenarnya admin sendiri belum begitu paham baik mengenai penanggalan Jawa maupun filosofi yang ada di dalamnya. Namun dari kehidupan sehari-hari kita juga bisa mencari penggunaan dari kalender Jawa di berbagai tempat.

Misalnya, Pasar Legi, yang berarti ramainya pasar itu berada pada hari yang memiliki pasar legi. Begitu juga dengan Pasar Kliwon, dan lain sebagainya.

Atau menemukan sesuatu yang lebih menyeramkan seperti malam ju’mat kliwon, entah itu mitos darimana, yang menganggap malam jum’at kliwon adalah malam yang keramat, yang jelas masih kalah menyeramkan dibanding dengan malam minggu.

Dan ketika kalian bertemu malam minggu kliwon, udah jomblo masih gabisa move on, kelar hidup loe. Hahahaha.

Sebagai penutup, ada lebih dari banyak untuk kita pelajari dalam kebudayaan jawa, dan mungkin kalau dijadikan mata kuliah, dijamin kalian akan lulus setelah 7 tahun kuliah atau malah lebih.

Tetapi selain itu bisa menjadi pengingat dan penyemangat bagi kita untuk tetap melestarikan kebudayaan yang sudah diwariskan oleh nenek moyang kita dan memahami apa rahasia yang mereka simpan selama ini.

Terima Kasih sudah membaca, dan semoga menambah wawasan kalian tentang budaya Jawa dan budaya Indonesia pada umumnya. Sekali lagi, dari hati yang paling dalam, terima kasih.

Salam Hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *