Wayang Kulit dan Warisan Budi Pekerti Keluhuran Pedalaman Jawa

Huuhaaa…hei kalian semua masih bersama radio rasa artikel dari Prajnaparamita Indonesian Batik, yang membahas segala hal tentang kebudayaan Jawa dan terutama batik tulis. Hari ini kita opini aja kali yaa, biar santai dan tidak ngoyo istilah orang Jawa. Tentang wayang kulit dan warisan budi pekerti keluhuran pedalaman Jawa.

Dunia pewayangan memiliki ruang yang sangat luas, berbagai lakon pewayangan yang turun temurun dilakonkan tidak pernah membuat kita merasa bosan. Berbagai intrik dan sandiwara yang dibawakan oleh dalang selalu membuat kita berdecak kagum. Belum lagi, iringan gamelan dan sinden semakin membawa malam pewayangan semakin bergairah.

Ibaratnya dunia pewayangan adalah cermin dari kehidupan manusia di alam nyata, yang dibawakan oleh suluk nyanyian dalang yang lihai memainkan wayang kulitnya. Kehidupan pewayangan juga ada sisi baik dan sisi jahat, sama dengan kehidupan kita di alam nyata.

Dalam berbagai lakon pewayangan, akan jelas terlihat alur bahwa kebaikan akan selalu menang melawan kejahatan, dan itu sudah menjadi pakem tersendiri dalam pewayangan. Tinggal bagaimana dalang membawakan cerita yang lebih memiliki konflik dan klimaks cerita yang bagus serta membawa para penonton mampu meresapi apa yang ingin disampaikan dalam lakon yang dibawakan.

Seperti lakon “Semar Mbangun Khayangan” misalnya, bagaimana sebuah lakon yang mengajarkan seorang pemimpin untuk bersikap adil dan bijaksana, bagaimana seorang Semar memberikan contoh dan wejangan bagi kehidupan manusia. Suri tauladan untuk berbagai lapisan masyarakat.

Atau yang lebih sering kita dengar lakon-lakon perang barathayudha, yang mengisahkan konflik tiada henti dari Pandawa sebagai simbol kebaikan dan Kurawa sebagai simbol keangkaramurkaan. Yang pada akhirnya kemenangan diraih oleh para Pandawa meskipun juga harus dibayar dengan kematian para putra-putra Pandawa.

Atau berbicara tentang Punokawan, yang menjadi karakter rakyat yang selalu berbahagia, selalu penuh canda tawa dengan tetap bersyukur atas segala kehidupan yang serba lucu dan serba fatamorgana ini. Wejangan dari dalang lewat karakter punokawan ini memberikan sebuah sense of humor yang sekaligus memberikan wejangan hidup sebagai masyarakat dan karakter orang Jawa yang lembah manah dan andhap asor.

Banyak sekali karakter dunia wayang yang dari karakter masing-masing bisa kita ambil sebuah pelajaran, hidup ini sudah diatur oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Kita hanya titah sewantah yang menjalani kehidupan.

Dari pewayangan kita bisa melihat bagaimana terutama Orang Jawa, mampu menjadikan itu sebagai cerminan benar atau tidak dalam kehidupan bermasyarakat. Sebagai acuan untuk tetap memiliki karakter manusia yang rendah hati dan mampu saling menghormati.

Dari wayang kulit saja kita bisa mengetahui dan sadar bahwa ada berjuta pelajaran berharga untuk kita mengetahui bahwa begitu kita memiliki kearifan dalam berbagai keberagaman di Indonesia. Dan sebuah kebanggaan bahwa kita mampu menyelami lebih dalam apa kebaikan yang harus kita ambil dalam kehidupan.

Jadi, tetap lestarikan kebudayaan kita, sebagai titik tolak kita menjadi manusia yang lebih baik, untuk kehidupan yang lebih baik.

Terima Kasih sudah membaca, dan tetap bersyukur atas segala hal yang kita miliki.

Salam Hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *