Aksesoris, Bentuk dan Simbolisme Fisik Patung Loro Blonyo

Hei..sudah hari senin aja deh ya, padahal baru kemarin rasanya malming, malming dengan makhluk halus kali, hahaha. Okay, sebagai kelanjutan artikel kemarin, kita selesaikan saja sekaligus mengenai aksesoris, bentuk dan simbolisme fisik patung loro blonyo, seperti apa? Langsung saja kita COD, hehehe.

Patung loro blonyo merupakan salah satu hasil karya seni yang bisa dibilang mengesankan, karena, patung ini memiliki bentuk fisik yang diibaratkan sepasang pengantin yang duduk bersimpuh, romantis. Kalau kalian belum mengetahui filosofinya, bisa kalian baca di sesi artikel kemarin, disini.

Kita menuju ke patung loro blonyo yang lelaki, aksesoris yang dipakai adalah menggunakan kuluk kanigara berwarna hitam dikombinasikan dengan garis warna kuning yang disusun secara tegak dan melingkar. Kuluk yang digambarkan benar-benar seperti dengan aslinya.

Bagian leher mengenakan kalung yang menyerupai rantai kecil yang ukurannya memanjang sampai dengan pinggang. Pada bagian badan diberikan busana seperti setagen diberi hiasan berupa sabuk melingkar, berwarna kuning keemasan dan ada motif geometrisnya. Pada bagian tangan memakai gelang kuning keemasan.

Untuk bentuk fisik badan bagian muka memiliki cambang yang rapi dan rambut berwarna hitam lurus bergelung halus. Pandangan mata lurus ke depan, dengan posisi kepala tegak, penampilan alis nampak tebal dengan garis tegas berwarna hitam mengikuti mata. Bentuk hidung mbengkok sumendhe, tidak mancung juga tidak pesek. Sikap tangan ngapurancang,  dan posisi kaki bersila dengan telapak jari-jari kaki diperlihatkan.

Beralih kepada patung perempuan yang memakai busana khas Jawa zaman dahulu.

Ciri – ciri bentuk patung loro blonyo perempuan adalah tampak pada pandangan mata agak menunduk. Goresan alis warna hitam tebal demikian pula di temukan garis mata bagian atas berwarna hitam. Pada dahi terdapat hiasan paes warna hijau. Bentuk rambut gelungan dilengkapi mahkota bagian atas, menggunakan cunduk mentul bentuknya warna kuning dengan variasi warna hijau.

Pada bagian telinga terlihat mengenakan subang bulat yang berwarna keemasan dan putih. Bagian leher tampak mengenakan kalun rantai dominan warna emas dengan bandul besar bertingkat tiga. Sikap telapak tangan menempel pada bagian paha, suatu sikap hormat seperti yang dilakukan oleh wanita pada umumnya. Pada tangan juga mengenakan gelang berwarna kuning.

Pada bagian dada mengenakan kemben, pada bagian perut dikenakan stagen yang dilengkapi ikat pinggang berwara keemasan. Pada kaki tampak pada posisi kaki sedang timpuh dengan kelihatan telapak dan jari kanan dan kiri. Kebaya yang dikenakan bermotif kawung.

Secara keseluruhan warna sepasang patung pada kulit adalah kunin keemasan ada sedikit unsur warna coklat tua, mencerminkan warna luluran warna khas manten jawa. Dilihat dari segi ekspresi patung ini menggambarkan kepribadian sepasang penganten jawa, yang jikas dilihat kaseluruhan memiliki arti simbolis kemewahan.

Patung tersebut dalam bentuk fisiknya juga memiliki berbagai filosofi yang lebih mendalam. Diantaranya adalah pada dahi patung perempuan terdapat paes, dan paes ini memiliki bentuk sepeti gajah sehingga biasa diebut dengan paes gajah. Hal ini dimaksudkan agar putra dan putri mereka kelak akan memiliki kedudukan yang luhur dan tinggi.

Ada bentuk paes yang lebih kecil yang terdapat pada kanan dan kiri paes gajah yang biasa di sebut pengapit. yang ujungnya menghadap ke pangkal alis dan memiliki arti yaitu simbol yoni atau wanita atau simbol kebaikan. Dan paes yang lain adalah paes penitis, terletak pada kanan kiri pengapit yaitu dengan ujung menghadap ke alis. Yang melambangkan simbol lingga atau laki – laki.

 Bentuk rias penantin yang lain adalah godheg, yaitu melambangkan keturunan dari manunggalnya pengapit dan penitis. Dalam gaya busana orang jawa disebut ngligo sariro, yaitu mencerminkan sikap pasrah seorang perempuan terhadap suami. Selain itu busana perempuan juga mengenakan kain dodot yang difungsikan sebagai kemben.

Disamping itu juga ada busana tambahan yaitu cindhe merah campur yang disebut udhet yang hanya sebagai pelengkap saja. Dan jika untuk putra biasanya disebut sonder. Aksesori pada kepala terdapat menthol yaitu aksesori yang mengelilingi sangggul dan memiliki jumlah sembilan. Perhiasan yang mirip dengan sisir dan disematkan pada rambut disebut cundhuk jungkat.

Pada bagian leher terdapat aksesori yaitu kalung yang memiliki bentuk menyerupai bulan sabit dan terdapat seperti bentuk padi, yang melambangkan simbol kemakmuran, sandang dan pangan. Sedangkan pada lengan terdapat kelat bahu yang terdapat pada lengan bagian kiri dan kanan, dipercaya bahwa sebagai simbol menolak mara bahaya.

Aksesori yang ada pada pergelangan tangan adalah gelang, yang dimaksudkan sebagai kelanggengan dan keabadian. Pada bagian telinga terdapat subang yang berbentuk bunga dan melambangkan kekayaan. Pada patung laki – laki bagian kepala mengenakan kuluk dan terdapat nyamat yang berbentuk seperti cengkih yang melambangkan keunggulan.

Nah, banyak sekali kan filosofi patung loro blonyo ini, selain merupakan hasil seni budaya yang tinggi, masing-masing unsur seninya memiliki filosofi dan makna yang mendalam. Dan bisa menjadi souvenir yang menarik untuk dikoleksi.

Demikian saja dulu, karena idenya baru habis, belum beli lagi di pasar, hehee. Jadi, terima kasihsudah membaca, semoga menambah wawasan kalian semua yaa.

Salam Hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *