Patung Loro Blonyo sebagai Visualisasi Cinta dalam Sejarah dan Seni Budaya Jawa

Haii, selamat siang para penunggu dunia maya, sudah makan? Makan gih, nanti pingsan. Tenang, hari ini kita bahas cinta-cintaan kok, jadi makan yang banyak biar yang jomblo kuat menghadapi kenyataan. Today kita memiliki tema, patung loro blonyo sebagai visualisasi cinta dalam sejarah dan seni budaya Jawa.

Seringkali kita menemukan ada patung yang divisualisasikan sebagai pasangan pengantin Jawa yang sedang duduk bersimpuh, nah itu namanya Patung Loro Blonyo. Kalau kalian belum melihatnya, itu di cover depan ada nohh, sudah pernah lihat? Belom? Maen kamu kurang ke dalem rumah, hihihi.

Okay kita mulai kisah cintanya dari sejarahnya dulu nggih.

Loro Blonyo, secara harafiah dalam bahasa Jawa “loro itu berarti dua” dan “blonyo berarti dirias seperti pengantin” , nah berarti dua patung yang dirias seperti pengantin Jawa. Kerajaan Mataram pada zaman pra-Islam masih menganut agama Hindhu, dan patung ini sudah ada sejak sekitar tahun 1476, sedangkan Islam masuk Kerajaan Mataram pada tahun 1577. Jadi, patung ini sudah ada sejak zaman Sultan Agung.

Lalu, siapakah yang divisualisasikan ke dalam patung loro blonyo?

Kerajaan Mataram sebelum masuknya Islam masih memuja Dewa dan Dewi, dan menurut kepercayaan orang Jawa dahulu, Loro Blonyo ini merupakan visualisasi dari Dewi Sri dan Dewa Wisnu sebagai simbol kemakmuran yang terus menerus.

Menurut referensi lain, itu adalah lambang dari Dewi Sri dan Raden Sadana (yang merupakan perwujudan Dewa Wisnu) yang menjaga keseimbangan alam. Yang kita bisa melihat ekspresi patung loro blonyo sebagai simbol romantisme yang diyakini oleh masyarakat Jawa, dahulu.

fungsi dan filosofinya apa?

Seiring perjalanan waktu, romantisme kedua patung ini diubah menjadi sepasang pengantin. Pengaruh dari mitologi dan kosmologi masyarakat Jawa, bahwa, dalam paradigma masyarakat Jawa sebagai konstruksi pemahaman asal usul manusia yang dihormati sebagai leluhur Jawa.

Dewi Sri sebagai lambang kesuburan masyarakat Jawa dan berpengaruh terhadap berbagai kepercayaan masyarakat Jawa kuno tentang hasil pertanian dan kesuburan tanah Jawa merupakan simbolisme yang lain terkait patung loro blonyo ini.

Mengapa dan apa hubungannya dengan pengantin Jawa?

Nah ini, kalo udah pengantin, jawabnya pasti lemot, hahaha. Okay, dibaca baik-baik mulai dari sini.

Pengantin Jawa yang disimbolismekan lewat patung loro blonyo merupakan lambang dari pasangan yang saling melengkapi, pasangan oposisi biner alias binary opposition (nah loh, mamam tuh kimia) yang terbagi secara struktural dan bersifat dwitunggal.

Jadi seperti istilah “aku mencintaimu dengan sederhana, seperti Uranium kepada Timbal, yang mengharuskannya meluruh menjadi tiada” eyaaaaa.

Dalam konteks sudut pandang Jawa, pasangan tersebut adalah cerminan penyatuan yang mendatangkan kesuburan dan kemakmuran. Yang kemudian lebih diperluas dengan kehidupan rumah tangga yang memberikan kesuburan bagi pertanian (seperti yang disimbolkan oleh Dewi Sri).

Hubungannya dengan pengantin adalah bahwa masyarakat Jawa juga memiliki kepercayaan terhadap semua itu diciptakan berpasang-pasangan, yang kemudian memberikan dampak, baik kehidupan rumah tangga, maupun dengan kehidupan lingkungan sekitar.

Dan mitosnya, mitos nih ya, patung ini menjadi sugesti positif untuk kehidupan rumah tangganya. Sekali lagi ini hanya mitos dan sugesti, tidak perlu dibesar-besarkan, terutama beberapa mengatakan syirik atau sebagai benda tandingan Tuhan. Please, open your mind.

Loro blonyo hanya simbol dari estetika seni yang murni lahir dari tangan-tangan pekerja seni sebagai bahasa komunikatif kepada masyarakat Jawa dahulu sebelum Islam datang, dan tidak pernah ada tujuan untuk melampaui kekuasaan Tuhan.

Hmmm, bagaimana dengan sudut pandang sekarang?

Dahulu, patung loro blonyo ini bisa ditemukan di rumah-rumah para priyayi Jawa, dan letaknya di senthong, sebagai petunjuk bahwa itu adalah kawasan legitimasi suami istri. Dan bisa juga kita temukan di rumah-rumah joglo atau tempat yang memiliki karakter masyarakat Jawa yang kental.

Untuk sekarang, patung ini hanya sebagai souvenir, dan sebagai hiasan untuk rumah, ataupun tempat wisata yang dikemas dalam konsep tradisional Jawa.

Kalau menurut admin pribadi sendiri, patung loro blonyo adalah sebagai cerminan bahwa jodoh sudah diatur oleh Tuhan Yang Maha Esa. Kembali ke konsep kita diciptakan berpasang-pasangan, intinya adalah, tenang aja mblo, semua akan menikah pada waktunya, tidak perlu terburu-buru dan bikin status ngenes karena ditinggal pacar (admin curhat).

Jadi sebagai motivasi saja, we have to fight for a better future, for a beautiful life. Bukan terus beli patung loro blonyo disembah-sembah, inget, sebagai motivasi untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, dan tetap berdoa kepada Tuhan.

That’s it.

Sebuah seni budaya yang mengajarkan kita untuk bersikap logis dan berpikir positif dengan tetap dilandasi kepercayaan kita kepada Tuhan Yang Maha Sempurna.

Semoga bisa menambah wawasan dan pengetahuan kalian, dan terima kasih sudah membaca sampai selesai.

Salam Hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

One Comment

  1. Pingback: Aksesoris, Bentuk dan Simbolisme Fisik Patung Loro Blonyo - Indonesian Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *