Seni Menikmati Kehidupan dari Goresan Canting Pembatik Tulis

Ada kalanya terkadang kita memikirkan sesuatu yang berada di luar pemikiran kita sendiri. Berimajinasi tentang bagaimana kehidupan yang sebenarnya dan bagaimana menjalani kehidupan yang sementara ini. Batik tulis, sebagai sebuah karya seni dan budaya juga memiliki kehidupan, dan sebuah seni menikmati kehidupan dari goresan canting pembatik tulis menjadi arti dari kebudayaan itu sendiri.

Bagi sebagian orang di desa, sawah dan ladang sudah merupakan tempat yang indah ketika padi menghijau diiringi derasnya rinai suara sungai. Sementara bagi para perempuan desa, duduk berada di depan tumper dengan wajan penuh malam dan sebuah canting, diiringi bossanova Jawa atau bahkan klenengan. Di depannya hamparan batik tulis yang menunggu tarian tangan para pembatik.

Itulah kehidupan mereka, “narimo ing pandum”

Menerima apa yang telah digariskan dalam kehidupan dengan tetap berusaha semampunya. Tidak berlebih juga tidak pernah merasa kurang. Menikmati pagi sebagaimana pagi yang akan tetap bersinar dengan mentari, atau hanya mendung yang menutupi sosok gunung Lawu yang terkadang terkekeh tertawa.

Semua kehidupan dirasa secukupnya tanpa mengeluh, tanpa menuntut apa yang tidak ada, tanpa menuntut apa yang belum dimiliki. Dan selama sambal korek dengan tempe masih nikmat, maka selama itu pula mereka akan tetap bersyukur.

Dan bagi para pembatik, karena kebanyakan dari mereka sudah sepuh, sudah ampuh dengan segala pengalaman hidup, terkadang mereka akan bilang bahwa

Ini kehidupan mereka “urip amung ngenteni pati”

Dan memang seperti itulah adanya, tidak ada kehidupan yang abadi, tidak ada harta yang membuat kita selamanya berada di dunia. Yang ada hanya bagaimana kita meninggalkan jejak kehidupan kita dalam goresan canting para pembatik.

Trenyuh juga ketika mereka berkata, “wis tuo, wis tinggal ngenteni mati”. Pernyataan yang membuat merinding. Sebenarnya pernyataan ini sebagai pengingat bahwa kita tidak tahu kapan kematian akan menjemput, jadi, sebisanya, sebisa-bisanya, berbuat baik tantpa perlu menyakiti orang lain adalah kunci.

Lebih baik mereka bercengkrama dengan motif batiknya, daripada membahas yang tidak perlu dibahas sehingga menimbulkan kesan yang tidak baik dalam chapter kehidupan mereka. Secara tidak langsung mereka berhenti melakukan sesuatu yang membuat kehidupan mereka menjadi sia-sia.

Dan yang terakhir adalah “semeleh”

Kesabaran dalam kehidupan akan selalu membawa kebaikan dalam hidup, dan mengembalikan apa yang diluar kuasa kita kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah point utamanya. Ketika kita telah berusaha dengan sepenuh hati, membatik dengan sepenuh hati, menghasilkan karya yang begitu indah, namun banyak orang tidak mampu melihat keindahan itu, biarkan, lepaskan saja.

Karena setiap manusia memiliki paradigma dan sudut pandang yang berbeda, tidak perlu menyalahkan orang lain atas apa yang berbeda dari yang kita lihat.

Dan sebentar saja pejamkan mata, tarik nafas dalam-dalam, rasakan bagaimana Tuhan memberikan kita oksigen yang membuat kita bisa aroma malam yang semerbak mewangi. Telinga kita mampu mendengar nyaring suara wiraswara yang membawakan lagu caping gunung.

Dan bersyukur adalah kunci dari seni kehidupan para pembatik, menghargai setiap pemberian Tuhan Yang Maha Esa dengan sebenar-benarnya, beribadah sesuai dengan keyakinan mereka, dan tetap berkarya sembari menunggu hari esok yang harus lebih indah dan lebih baik daripada hari ini.

Biarkan saja hanya menjadi seorang pembatik, biarkan saja hanya menjadi peniup canting, itu lebih baik daripada kita mengambil yang bukan hak milik kita, menyakiti kehidupan orang lain, dan membuat kehidupan berada dalam pose antiklimaks yang buruk.

Karena sesungguhnya kita sedang membuat sebuah cerita kehidupan yang nantinya akan turun-temurun, generasi demi generasi selalu mengenang kita sebagai seseorang yang konsisten dengan motif geometris batik tulis, atau berwarnanya kehidupan kita selayaknya motif sekar jagad.

Dan cerita itu hanya kita sendiri yang menentukan alurnya, untuk itu,

“jadilah orang yang memiliki sebuah seni kehidupan”

-prajnapramita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

2 Comments

  1. Pingback: Membatiklah Untuk Indonesia - Indonesian Batik

  2. Pingback: Pewarnaan Alam dan Citarasa yang Elegan dari Sebuah Batik Tulis - Indonesian Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *