Batik Tulis Desa Girilayu, Pesona Angsa Kembar Dalam Indahnya Motif Utari

Hello you, bagaimana hari ini? Sudah kondangan ke berapa tempat? Sepertinya sibuk sekali bulan-bulan ini banyak sekali pasangan yang menikah. Mau ikut menikah tapi belum ada yang mau diajak patungan beli buku nikah, kata temen keburu abis. Okay skip, hari ini kita kembali membahas salah satu motif batik tulis desa Girilayu. Gassss.

Seperti yang sudah dijelaskan, Desa Girilayu sebagai desa yang banyak memiliki potensi pengrajin batik tulis yang benar-benar masih relatif tradisional mengingat mengenang warisan dari generasi sebelumnya.

Dan kali ini salah satu motif yang begitu mempersona, motif yang kami namakan Motif Utari ini merupakan batik kontemporer. Yang merupakan hasil perkembangan dari berbagai motif klasik yang dimodifikasi oleh para pembatik menjadi karya yang begitu indah.

Kami berikan nama Utari karena itu secara harafiah berarti sabar, dan secara filosofis, pengerjaan batik ini juga membutuhkan kesabaran yang luar biasa agar menjadi sebuah karya seni yang begitu indah. Seperti halnya untuk pembuatan batik tulis, membutuhkan kesabaran dari mulai membuat motif sampai proses penyelesaiannya membutuhkan sentuhan kesabaran dari seorang pengrajin batik.

Motif ini memiliki unsur utama yaitu angsa yang berada di tengah hamparan kain batik yang didukung dengan motif air dan juga bunga di hiasi oleh beberapa motif awan. Unsur angsa ini menjadi pengganti ketika sudah banyak motif burung seperti burung merak, garuda, ataupun cendrawasih.

Dan keindahan batik tulis ini terletak pada unsur utamanya, burung angsa yang diibaratkan sedang berada di atas air dengan dihiasi unsur bunga, serta unsur awan sebagai pendukungnya.

Beralih kepada unsur warna, kombinasi warna sogan, merah, dan hijau membuat motif ini semakin menarik. Karena menunjukkan karakter yang menyejukkan dan sekaligus memberikan sentuhan warna yang menyatu dan nyaman untuk dilihat.

Motif angsa yang memiliki latar berwarna merah mampu menarik perhatian agar kita melihat, dan kemudian warna hijau mampu membuat kita merasa sejuk dan tenang ketika melihatnya. Kombinasi warna yang menarik ini membuat pesona batik tulis menjadi lebih bervariatif.

Untuk filosofinya, batik ini memberikan sentuhan, bahwa di desa, di alam, keindahan itu sudah tercipta dengan sendirinya. Hanya membutuhkan kesabaran untuk mampu melihat bahwa kehidupan di desa itu penuh dengan suasana alam yang menyejukkan.

Disamping itu, motif ini dibuat untuk mengingatkan tentang siapa kita dan menyadarkan bahwa kita memiliki budaya yang begitu indah, yang sebenarnya sudah sangat indah.

Seperti kata pepatah “memayu hayuning bawana” , yang kurang lebih berarti memperindah yang sudah indah. Dan sebuah pesan bahwa sebagai manusia kita harus mampu untuk selalu berusaha bersahabat dengan alam dan lingkungan sekitar, menjaga keanekaragaman hayati yang mungkin sekarang banyak yang rusak oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.

Dan sebagai penulis, kami hanya sedikit mengharapkan untuk bagaimana kita lebih menghargai budaya sendiri, kemudia melakukan sesuatu untuk daerah kita sendiri paling tidak. Demi menjaga kelestarian budaya, demi menjaga keanekaragaman, menjaga kerukunan dan kemudian menjaga Indonesia sebagai tanah air yang kita cintai ini.

Dari Girilayu kami mengirimkan salam, dari motif batik Utari kami mengirimkan pesan.

“Satu Tumpah Darah, Satu Indonesia”

Salam Hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

2 Comments

  1. Pingback: Batik Solo : Batik Tulis Desa Girilayu Bermotif Utari

  2. Pingback: Prajnaparamita Indonesian Batik On Stand di Jambore Pemuda Kabupaten Karanganyar 2018 - Indonesian Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *