Kisah Jamu Gendong Tradisional, Antara Perempuan, Batik, Tenggok, dan Sejarah Perjuangan

Sebagai bangsa yang memiliki berbagai budaya dengan kearifan lokal, ternyata kita tidak bisa semata-mata langsung menutup mata melihat bagaimana kearifan lokal tersebut berjuang untuk bertahan. Seperti kisah Jamu Gendong Tradisional, dalam punggung perempuan Jawa yang penuh sejarah.

Membahas Sejarah, Kerajaan Mataram adalah kerajaan yang mewariskan kita berbagai kearifan lokal yang benar-benar menjadikan Nusantara sebagai bangsa yang begitu berbudaya. Dan sekarang kita masih bisa melihat langsung berbagai filosofi kehidupan yang dibungkus dalam berbagai kegiatan kita sehari-hari, terutama di desa.

Kita bisa lihat dari batik, bagaimana sampai sekarang batik menjadi identitas bangsa Indonesia di depan bangsa lain menjadi lebih bermartabat. Bagaimana batik menjadi sebuah identitas yang bahkan orang di luar negeri bangga memakai batik. Bagaimana betapa Nelson Mandela jatuh cinta kepada batik tulis. Batik yang ditulis lewat jari jemari para perempuan Indonesia.

Perempuan Indonesia itu istimewa, dibalik kecantikan dan pesona mereka, menyimpang ketangguhan dan kekuatan yang mampu membuat kita kagum. Dibalik lemah gemulainya Tari Gambyong, ada filosofi perjuangan yang mengingatkan kita betapa tangguhnya mereka.

Perempuan terbiasa membawa beban berat perjuangan dalam gendongan punggung mereka, dalam jarik batik yang biasa mereka simpulkan untuk membawa beban di punggung mereka. Dan percayalah, itu lebih berat daripada yang kita lihat. Beban itu bukan beban fisik, tetapi beban bahwa mereka harus bertahan di tengah zaman modern ini.

Jamu gendong adalah salah satu saksi bisu perjuangan yang entah bagaimana kita seakan terjebak di dalam dimensi dunia masa depan sekarang ini. Kearifan lokal yang seakan mulai menghilang, bukan menghilang, tetapi dengan kejamnya kita sendiri yang menghilangkan kearifan lokal tersebut hanya demi status modern.

Ketika zaman Kerajaan Mataram, jamu gendong menjadi satu-satunya obat yang bisa ditemukan di Nusantara. Berbagai ramuan rempah yang memiliki khasiat yang bahkan lebih berpengaruh daripada kapsul dan pil saat ini. Dan kearifan itu seolah juga membenarkan bahwa dahulu obat itu adalah yang tumbuh di sekitar kita, daun sirih, pala, jahe kunyit, bahkan gedebog pisang bisa menjadi obat.

Then why, zaman sekarang ketika obat sudah lebih maju, banyak yang lebih mudah mengeluh sakit pinggang, pegal, pusing, sampai penyakit yang aneh-aneh seperti kanker dan tumor?

Ketika zaman kemerdekaan, gendongan jamu bisa diisi berbagai senjata biologis yang bahkan penjajah tidak mengerti cara membuatnya. Bagaimana daun kecubung bisa membuat penjajah belanda mabuk kelimpungan. Kadang senjata dan bahan makanan melewati punggung para perempuan penggendong jamu, untuk mengelabuhi para penjajah kolonial.

Bagaimana lewat tenggok bambu mereka mampu memberikan kekuatan untuk ikut berjuang menuju kemerdekaan. Lewat batik yang mereka pakai saban hari, lewat jamu yang mereka racik. Indonesia bisa merdeka, kita mau menutupi sejarah atau sengaja melupakan bagaimana dahulu pahitnya perjuangan?

Kalau kalian bilang itu dahulu, itu masa lalu, itu kuno.

Lalu bagaimana ada masa sekarang apabila kita tidak melewati masa lalu? Apakah kita yakin sekarang sudah merdeka kalau para pejuang itu tidak berjuang, malas mengangkat senjata, mending bermain mobile lejen, atau hangout ke mall?

Okay, fine, kisah ini hanyalah sebuah kisah kuno bagaimana pahlawan kita berjuang, tapi coba sedikit saja diresapi, kita adalah produk masa lalu, dari sana, dari sejarah itu kita harus memiliki empati. Untuk apa? Untuk Indonesia yang lebih baik, untuk sejarah yang apabila kita mengingatnya kita mampu tersenyum bangga, kita mampu hormat kepada bendera merah putih dengan sigap.

Then what we do? Gampang. Banggalah menjadi salah satu warga negara Indonesia, entah sekecil apapun, tanamkan dalam diri bahwa Indonesia masih tegap berdiri, merah putih masih berkibar Genggam erat kepalkan tangan untuk saling membantu, saling menghargai, saling mendukung untuk Indonesia yang lebih baik.

Karena dari tinta darah warna merah itu dibuat, karena dari suci hati warna putih itu diwarnai.

 MERDEKA !!!

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

One Comment

  1. Pingback: Menyibak Berbagai Jenis Jamu Tradisional di Indonesia - Indonesian Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *