Paradigma Kehidupan Manusia Jawa, Rendah Hatilah Serendah-Rendahnya

Sugeng dalu, selamat malam, hari ini kita kembali ke bumi Jawa, tempat filosofi kehidupan yang tiada henti. Menjalani lelampahan kehidupan yang selalu penuh aling-aling dan alang-alang. Hari ini, memang sedikit mendung sehingga tulisan ini juga mengikuti suasana hati sang cuaca. Seperti buah pohon randu tadi pagi yang berseri-seri berkata, rendah hatilah serendah-rendahnya.

Dalam langkah kehidupan orang Jawa, ada sebuah pepatah “Giri Lusi Jalma Tan Kena Ing Ngino”, yang secara mudah diartikan, “di atas langit masih ada langit”, yang semakin dalam diartikan bahwa kita dilarang meremehkan segala sesuatu yang kita sendiri bahkan mungkin belum mampu menjalaninya atau mengetahui keadaan yang sebenarnya.

Artinya yang jauh ke dalam adalah sebuah petuah agar ketika menjalani sebuah kehidupan seorang manusia sudah sepantasnya selalu memiliki sifat rendah hati. Dalam artian bukan rendah diri, berbeda.

Kita ambil contoh yang mudah, ketika bahasa jawanya kita “encon” alias suit Jawa, jempol akan kalah dengan kelingking. Seorang bocah kemudian berkata bahwa gajah akan kalah dengan semut. Kita pahami bahwa jempol sebagai lambang gajah yang besar dan kuat, sedang kelingking adalah semut yang kecil.

Kemudian bocah itu berkata kalau semut itu bisa masuk ke telinga gajah yang besar dan membuatnya kalah. Ealah, boleh juga nih nalarnya bocah. Padahal baru saja saya meremehkannya.

Dari hal kecil itu saja kita bisa membuat pengertian bahwa beberapa hal kecil bisa membawa dampak yang besar terhadap kehidupan seseorang. Dan secara tidak langsung juga berarti bahwa dalam kehidupan tidak boleh meremehkan sesuatu yang kecil karena mungkin dibalik itu akan ada dampak yang besar jauh dari yang kita bayangkan.

Orang Jawa dahulu merendah bukan berarti rendah diri, sekali lagi bukan rendah diri, rendah hati itu lebih kepada kita bukan menjadi orang yang selalu “ndangak” ke langit, tetapi lebih baik bersifat “ndungkluk” ke bumi, mengapa, karena tidak perlu memperlihatkan apa yang kita miliki karena pada dasarnya kita hanya titah sewantah jalma manungsa biasa.

Biarlah orang merendahkan kita serendah-rendahnya sampai bosan mereka merendahkan kita. Tetapi, kita buktikan lewat hal lain yang bisa menampar keras orang yang telah merendahkan kita, bukan mengalah, menyerah.

Sebagai contoh, dahulu, anak kecil disuruh merendah ketika berjalan melewati orang tua, mengajarkan untuk menghormati baik gesture maupun sifat kita yang andhap asor, bukan bedigasan salto di depan orang yang lebih tua. Pemahaman psikologis mengajarkan mereka untuk rendah hati, menghargai langit yang diatasnya.

Satu lagi, ada pertanyaan simple,

“Kapas 5 kg dengan Besi 5 kg, lebih berat mana?”

Tentu saja jawabannya sama, beratnya sama, cuma wujudnya yang berbeda. Lebih seperti seniman lukis rambut gondrong dengan seniman lukis rambut mohawk, mereka sama-sama seniman, tetapi dalam bungkus rambut yang berbeda.

Aissshhh, bingung kan, sama, serius yang nulis saja juga bingung.

Intinya, rendah hati itu adalah bagaimana ketika kita melihat sesuatu, otak kita tidak segera memproses anggapan kita merasa lebih dari apa yang kita lihat. Meskipun mungkin faktanya kita memiliki kelebihan dari apa yang kita lihat atau rasakan, tidak perlu menjadikan kelebihan itu sebagai alat untuk merendahkan orang lain.

“Tetaplah rendah hati serendah-rendahnya sampai orang lain nggeblak sendiri karena merendahkanmu”

Karena,

giri lusi jalma tan kena ing ngina, rumput masih bisa tumbuh di atas tingginya gunung –

Salam hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *