Edisi HUT RI ke-73, Mengenang Perjalanan Kemerdekaan Melalui Batik Kompeni

Hai, sebelumnya kita ikut bersimpati atas terjadinya bencana alam gempa bumi yang melanda saudara-saudara kita di Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, kemarin. Semoga diberikan kekuatan untuk tetap bertahan dan kembali bangkit bersama membangun negeri. Masih dalam Edisi HUT RI ke-73, Mengenang Perjalanan Kemerdekaan Melalui Batik Kompeni.

Cirebon, kota di Jawa Barat yang penuh dengan sejarah bahkan sejak sebelum zaman perjuangan. Perdagangan yang maju karena terletak di pesisir utara Jawa menjadikan Cirebon sebagai tempat pertukaran barang dan budaya dengan bangsa asing. Pelabuhan Muara Jati menjadi pelabuhan yang ramai dahulu sebagai tempat perdagangan, selain itu Cirebon juga dekat dengan Kerajaan Galuh, bawahan Kerajaan Tarumanegara.

Setelah masuk islam dan mulai penjajahan, kota yang juga disebut Kota Wali ini mulai berkembang dengan pesat, termasuk kebudayaannya. Dan salah satu yang juga ikut berkembang adalah budaya batik.

Salah satu yang terkenal adalah batik mega mendungnya. Namun ada satu batik yang juga selain menjadi sebuah hasil budaya juga sebagai pengingat bahwa kita dahulu berjuang untuk merebut kemerdekaan. Pada zaman kolonial hindia belanda kita berada dalam jajahan kompeni. Dan secara tidak langsung budaya batik juga ikut mendapatkan pengaruh dari zaman Hindia Belanda itu.

Batik Kompeni merupakan batik yang berkembang pada masa penjajahan Belanda dan sampai sekarang tetap eksis. Bentuk motif adalah motif non-geometris, terlihat dari motif manusia (pria, wanita berpakaian petani atau nelayan, peternak, tentara VOC bersenapan laras panjang), pohon, gerobak, meriam, bendera, kerbau, kambing dan lain-lain.

Motif-motif disusun secara horizontal, seperti relief pada candi. Penyusunan motif Kompeni ini bergayakan penyusunan motif batik Cina, secara perspektif susunan motif bagian atas adalah objek yang paling jauh, dan susunan motif paling bawah adalah objek yang paling dekat atau disebut juga pola perspektif gunung.

Adapun ciri motif kompeni adalah biasanya tentang kehidupan tentara kompeni jaman dulu dengan ciri khas membawa bedil/senapan, ada juga tentang kehidupan petani, pedagang. Intinya ciri motif batik kompeni ialah bercerita tentang kehidupan, baik jaman dulu waktu semasa penjajahan Belanda ataupun jaman sekarang.

Motif perlengkapan yang tervisualisasikan pada batik Kompeni seperti mobil merupakan kendaraan yang digunakan mereka. Demikian pula bendera, dan gentong, kedua benda ini kerap digunakan dalam keadaan perang.

Ibarat relief yang terpahat pada dinding candi yang menggambarkan rangkaian cerita bersejarah. Begitupun dengan batik motif Kompeni, dengan melihat gambar di sehelai kain batik motif Kompeni, kita seperti dibawa melihat gambaran masa-masa jaman dahulu saat penjajahan Belanda dan aktifitas kehidupan masyarakatnya saat itu.

Melihat perkembangan batik motif Kumpeni saat ini tergolong unik, jika dulu motif kumpeni lebih menggambarkan kehidupan pada masa-masa pendudukan Belanda. Maka sekarang motif Kumpeni lebih berkembang lagi dengan design motif mengikuti perkembangan jaman.

Saat ini batik kumpeni motifnya tidak hanya menceritakan kehidupan masa pendudukan Belanda, tapi disesuaikan dengan cerita kehidupan masa kini. Tetapi penamaannya tetap batik Kumpeni. Jadi bagi masyarakat pecinta batik yang menyukai batik motif kumpeni ada dua pilihan, bisa memilih batik kumpeni dengan motif asli tempo dulu yang menggambarkan kehidupan masa penjajahan Belanda atau batik kumpeni yang bermotif kehidupan masa kini.

Masa perjuangan dahulu yang penuh dengan perjuangan juga tertuang dalam batik kompeni ini, batik yang memiliki karakter dan menjadi saksi bahwa kita dahulu berjuang untuk merdeka, bahwa kita dahulu berusaha menjadi bangsa yang mandiri dan tidak bergantung kepada bangsa lain.

Semoga batik kompeni ini tetap lestari sampai nanti mampu menjadi cerita untuk masa depan dimana generasi selanjutnya juga terus berjuang untuk melestarikan dan mempertahankan kemerdekaan yang dahulu susah payah direbut.

Sekian.

Terima Kasih Sudah Berkunjung dan Membaca.

Salam Hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

2 Comments

  1. Pingback: Kisah Jamu Gendong Tradisional, Antara Perempuan, Batik, Tenggok, dan Sejarah Perjuangan - Indonesian Batik

  2. Pingback: Berkibarlah Merah Putih, Terbanglah Tinggi Membumbung Angkasa, Indonesiaku - Indonesian Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *