Memayu Hayuning Bawana, Memperindah Yang Sudah Indah

Manusia diciptakan dengan berbagai keajaiban, kemampuan cipta rasa dan karsa yang mampu berkembang mengikuti langkah usia kita. Di sekitar kita terdapat alam dan kebudayaan yang menunjang kahidupan kita yang selalu dinamis, dan itu adalah keindahan tersendiri. sebagai manusia kita tinggal “memayu hayuning bawana” memperindah alam yang sudah indah, mempercantik kehidupan kita yang sudah indah.

Mungkin, sebagian dari kita masih belum merasakan apa keindahan itu, kita selalu menginginkan lebih, selalu mencari yang sebenarnya sudah kita miliki. Parahnya lagi kita menyalahkan Sang Pencipta karena menciptakan kita tidak seperti orang lain, orang yang terlihat lebih memiliki keindahan itu.

hidup itu penuh dengan paradoks yang kita tidak mengerti, kita perlahan menjadi manusia yang egois. Ketika banjir kita menyalahkan air, ketika badai kita menyalahkan angin, ketika longsor kita menyalahkan bumi kita.

Bayangkan ketika dibalik, manusia disalahkan karena membuang sampah sembarangan sehingga banjir, menebang pohon tanpa perhitungan sehingga menjadi longsor. Dan bayangkan ketika bumi atau air atau angin itu menyalahkan manusia, kita mengelak, dan berkata itu kuasa Tuhan.

Seharusnya kita lebih tahu diri, dimana kita tinggal, dimana kita bernafas, dimana kita meminum air. Kita hanya mengontrak di muka bumi, tetapi kita lebih galak daripada sang pemilik kontrakan, bahkan merusak segala propertinya. Padahal kita tidak berhak menyalahkan segala sesuatu yang diluar kehendak kita, di luar kuasa kita.

Di beberapa pengajian, kita sering mendengar, “urip mung mampir ngombe” hidup hanya sekedar mampir meminum segelas air. But, there is more than that, ketika kita minum, sebagian besar dari kita akan langsung menghabiskannya. Tetapi coba ketika kita mampu berbagi dengan sesama, memanfaatkan air kehidupan kita itu untuk alam sekitarnya. Memang benar air itu akan habis, tetapi habis untuk egoisme pribadi dan berbagi itu berbeda hasil senyumnya.

Why can’t we do as simple as that?

Entahlah, mungkin bagi manusia, hidup itu ya lahir, kecil, dewasa, menikah, tua, punya cucu, mati, selesai. Paradigma itu tidak memiliki pembahasan di setiap lini kehidupannya, yang jelas ya seperti itu, buat apa dikembangkan?

Kalau kalian berkata buat apa mempercantik yang sudah cantik?

Langsung kita balik tanya,

Buat apa hidup kalau akhirnya akan mati?

When we have more life, we can restart our wrong things and get bored,

but when we just have one life, we will take care of that life into beautiful life we’ve ever had.

Ketika kita memiliki satu kehidupan, kita akan mencoba membuatnya lebih berkesan, kesalahan di masa lalu hanyalah sebuah chapter tempat kita mencari kehidupan yang belum bisa kita temukan maknanya. Ketika kita menemukan makna kehidupan kita, kita akan berusaha mati-matian bagaimana memperindah kehidupan kita, menjadi bermanfaat bagi sesama, dan ketika kembali kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, kita akan tersenyum, karena kita berhasil dalam kehidupan, berhasil “memayu hayuning bawana” bumi tempat kita berpijak.

So, be wise, think the thing’s that we do, and keep doing the right things. Life will be okay.

Bahkan ketika hanya tinggal kamu sendiri yang melakukan kebaikan, tetaplah menjadi satu orang itu.

Keep grateful, tetaplah bersyukur, hidup kita sudah begitu indah. Percayalah.

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *