Perkenalkan, Kami Preman-Preman Budaya Batik untuk Satu Hati Membangun Negeri

Hei..Hei…nah ketemu lagi nih sama manusia keyboard yang nyaris selalu memikirkan bagaimana kalian selalu update informasi tentang batik, bahkan sampai lupa kalau admin masih jomblo, kasian. Kemarin sudah dibuka oleh para perempan yang berada di garis depan, kali ini kita akan bertemu preman-preman budaya batik untuk satu hati membangun negeri.

Sekilas memang preman memiliki konotasi yang sedikit negatif, but don’t worry, mereka tidak pernah memalak, mereka tidak pernah merampok. Preman disini berarti bahwa mereka sangat galak, galak untuk mengembangkan budaya batik, dan believe or not mereka mampu membuat kreasi dari batik hanya dalam satu malam.

Apa saja kreasi itu, banyak, dari mulai ikat kepala sampa kupu-kupu dengan sayap motif batik, mereka yang buat. Okay, meskipun di berbagai daerah mungkin sudah lebih dulu mempopulerkan karnaval dengan kostum batik, tapi disini, mereka adalah yang pertama, paling tidak di Kabupaten Karanganyar.

Nah, para Pre-Man ini memakai baju lurik yang biasa kita lihat menjadi kostum kebesaran para tukang menata posisi motor dan mobil alias tukang parkir di Kota Surakarta dan sekitarnya. Mereka juga memakai ikat kepala batik khas Jawa klasik yang keren abis.

Lalu kenapa memakai lurik, perlu tahu, lurik sendiri adalah pakaian kebesaran Sunan Kalijaga loh, which have meaning kita sebagai manusia harus selalu rendah hati, harus memiliki paradigma bahwa kita ini sama di hadapan Tuhan, so kenapa harus saling membenci, saling menyalahkan, saling bermusuhan, toh ketika mati kita akan sama-sama menjadi bangkai.

Selain itu, lurik yang kita pakai adalah cerminan dari apa yang ingin kita pertahankan dan perjuangkan, bener banget, batik.

Saat kita memakai batik lurik yang sama, maka kita adalah satu gerombolan yang ingin terus melestarikan budaya Indonesia, mencintai tanah air sepenuh hati tanpa perlu mencari alasan untuk itu. Kita bukan preman tukang maling anggaran negara, kita preman yang bangkit berdiri untuk memperjuangkan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kami yang lahir di desa penuh dengan budaya batik tulis, mungkin memang berat untuk membayangkan bagaimana kita bisa membantu Indonesia mampu disegani dalam berbagai hal. Namun pesimis itu hanya untuk orang-orang yang lemah, orang yang tidak memiliki DNA darah merah perjuangan.

 

Asal kalian tahu,

Bahu kami masih terlalu lebar untuk memikul beban negeri ini

Darah kami masih merah untuk mewarnai kusamnya Merah Putih

Lantang suara kami masih selalu bernyanyi Lagu Indonesia Raya paling keras

Biarlah kami lahir di desa, biarlah kami terlihat ndeso dengan pakaian kuno, biarlah kami makan ubi dan dan nasi jagung, biarlah.

Kami adalah preman budaya yang berdoa sepenuh hati untuk negeri, kami yang akan mengepal erat genggaman tangan kami, menghantam segala halangan dan rintangan, menghimpun seluruh rumpun perbedaan, menciptakan prasasti yang tertera nama kami di dalamnya.

Dari sini, kami akan selalu membangun negeri.

Satu Nusa Satu Bangsa, Indonesia.

Merdeka.

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

One Comment

  1. Pingback: Edisi HUT RI ke-73, Menanti Kembali Gebrakan Karnaval Budaya di Karanganyar - Indonesian Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *