Menanti Kekasih Untuk Memakai Batik Truntum Garuda Sarimbit

Hai para jomblo dan makhluk astral yang di sekitarnya (termasuk admin), nanti malam gerhana bulan loh, ngga’ ada yang ngajakin berubah jadi serigala gitu? Nasib yah sendirian dengan keyboard dan kepala yang gembrubug mikirin artikel. Sembari menanti kekasih untuk diajak memakai batik truntum garuda sarimbit. Let’s go kita free talk aja hari ini.
Jadi ceritanya kita adalah dua manusia yang sebenarnya berjuang di arena pertarungan yang sama, hanya saja dari tempat yang berbeda. Aku berada di sini, dan kamu berada entah di belahan dunia mana. Mungkin memang tidak semudah itu kita dipertemukan.

Batik ini bernama truntum garuda, eksotis, seperti dirimu, tidak banyak macam-macam, tetapi aku bisa melihat taburan bintang yang menghiasi hitamnya langit di kain itu. Gelap memang, sengaja, agar lebih terlihat indah dirimu di depanku.
Rinduku sebenarnya mudah, tidak sesulit membuat batik tulis, tidak sesulit mencanting dengan tangan kiri. Dia hanya terbang mengangkasa, dan melihatmu sembari berselimut mendung gelap gulita, tidak hujan memang.
Dan sebenarnya kamu pun tidak perlu khawatir, seburuk apapun dirimu, aku akan tetap menunggumu datang.
Dulu pun aku pernah menjadi versi brengsek seorang manusia, penuh kegagalan ketika belajar ilmu penerbangan. Aku pun tidak tahu ketika aku harus menerima angin kencang yang datang dan menghadapinya untuk terbang. Aku lebih memilik melewatkannya.

Dan kemudian aku terbang, melihatmu, tapi bukan, kamu memilih memadamkan lenteramu ketika aku melihat. Dan kemudian hujan, kedua sayapku berat mengangkasa, lalu kemudian membumi.
Seperti ada yang hancur di dalam sana, patah hati itu nyata, seperti pemantik yang tidak kunjung menyala di tengah rintik hujan sore itu, tidak membantu sedikitpun. Dingin menyeruak ke dalam ujung sendi hasta ini. Akan butuh waktu untuk menyatukan keping hatinya kembali.

Pada akhirnya aku tidak akan repot bertanya berapa banyak hati yang sempat kau lewati sebelum diriku.

Buat apa?

Toh tanpa mereka, kau yang sebaik hari ini juga tak akan ada, walau kadang cemburu aku akan berusaha untuk berdamai dengan masa lalu.
Demimu aku rela menunggu, demimu aku rela berjibaku demi memantaskan diriku. Dan percayalah, aku selalu mendampingimu dalam doa, barang sedetik pun, kau tak pernah sendirian.
Aku masih disini, aku masih terbang tinggi mengangkasa, menunggumu memakai motif berjuta bintang di peraduan kita.

Semoga Allah, Dzat penguasa seluruh alam semesta selalu menjagamu dalam hangat, memudahkan segala urusanmu, dan mempercepat langkahmu kepadaku.
Amin

-aku-

Credit : MeyDevi

Posted in Story and tagged , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *