Jangan Kaget, Batik-Batik Tulis ini Dihargai Puluhan Juta Rupiah

Mungkin bagi sebagian orang, batik tulis memiliki harga yang cenderung mahal dibandingkan batik printing dan batik cap. Dan dengan berbagai alasan pula batik ini memiliki harga mahal. Oleh karena itu, peminat batik tulis cenderung lebih memilih kedua alternatif pembuatan batik tersebut. Namun, ada juga para peminat batik tulis yang rela merogoh kocek lebih dalam untuk melengkapi koleksinya. Dan jangan kaget apabila batik-batik tulis ini dihargai puluhan juta rupiah satu potongnya.

Mengapa batik tulis ini begitu mahal dibandingkan lainnya?

Yang menjadi alasan pertama adalah tahun pembuatan, tahun pembuatan sekitar 1970 dan masih awet sampai sekarang menunjukkan kualitas batik tersebut yang mampu bertahan selama puluhan tahun. Tanpa ada lunturnya warna maupun kerusakan pada fisiknya.

Selain itu karena batik seperti ini biasanya memiliki kenangan tersendiri bagi pemiliknya, misalnya, batik ini telah dipakai untuk pernikahan ketiga anak perempuan sang pemilik. Ditambah lagi, filosofi yang ada di dalamnya yang juga mendukung naiknya harga batik tulis di pasaran. Dan masih banyak alasan dibalik mahalnya batik tulis ini.

Apa yang membedakan dengan batik tulis saat ini dengan yang klasik?

Pada saat kalian mengunjungi galeri kami, secara langsung akan dapat melihat, meskipun orang awam tentang batik sekalipun. Yang pertama adalah warna, warna klasik akan cenderung adem dan kalem ketika dilihat, karena menggunakan warna alam, yang ssemakin lama disimpan, warnanya akan semakin terlihat indah.

Kemudian terletak pada kehalusan cantingan yang seperti benar-benar mampu mengisahkan cerita batik tulis ini di masa yang lalu. Dan pada motif klasik cenderung sedikit variasi kontemporer, jadi motif klasik masih memiliki kemurnian dalammotifnya.

Apakah ada yang akan membeli batik seharga motor ini?

Kita analogikan begini saja, kalau saja candi Borobudur itu dijual, apakah ada yang beli?

“Pasti Ada.”

Tetapi buat kami semoga saja tidak ada yang mau membeli, karena kami sendiri sangat tidak ingin melepaskan batik ini, itulah mengapa harganya sangat mahal, dan cenderung tidak normal. Karena kami juga istilahnya “eman-eman” sekali batik ini hanya dihargai puluhan juta, seharusnya ratusan juta.

Batik ini dihargai puluhan juta hanya karena kami ingin menyampaikan bahwa batik tulis itu memang mahal, tidak pernah murahan. Dan motif klasiknya yang langka menjadi sebuah koleksi untuk nantinya diceritakan kepada generasi selanjutnya.

Kalau ada yang membeli lalu digunakan untuk apa?

Biasanya hanya menjadi koleksi atau pajangan juga, seperti kami. Karena sekali lagi, “eman-eman” kalau untuk dibuat baju. Nanti bajunya seharga speda motor baru namanya.

Para kolektor batik pasti juga punya pemikiran untuk melestarikan batik tulis. Meskipun para kolektor ini sebenarnya mampu mendapatkan batik dengan harga murah, namun mereka memilih keaslian motif dan rentang sejarah yang sudah batik tulis tersebut lewati.

Apa saja motif batik tulis yang memiliki harga puluhan juta di galeri anda?

Ada beberapa karena yang lain juga sudah laku terjual, yang jelas motif klasik seperti Udan Liris, Semenan Sido Luhur, Sidomukti Klasik, Wahyu Tumurun Klasik, dan motif Parang. Beberapa memang sudah banyak yang dibuat kembali. Tetapi sudah lebih banyak variasi baru, jadi kemurnian motifnya yang menjadi sedikit hilang.

Mungkin bagi orang lain, hasil kebudayaan batik hanya biasa saja, tetapi di tangan kami, batik-batik ini adalah mahakarya yang susah payah dibuat. Istilahnya dalam karya seni, ekspresionisme para pembatik tulis.

Karena dari tangan mereka lahir berbagai cerita yang mengisahkan kehidupan leluhur kita sebelum kita lahir. Dan sekaligus sebagai pengingat bahwa kita juga akan mewariskan kepada generasi selanjutnya. tongkat estafet ini tidak boleh berhenti, batik tulis harus tetap dilestarikan, berapapun harganya.

Semoga bisa menjadi inspirasi untuk tetap mendukung batik tulis Indonesia. Terima Kasih sudah berkenan berkunjung dan membaca.

Salam Hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *