Membangun Kembali Masa Depan Kehidupan Desa dari Lirik Lagu Caping Gunung

Sebelum kami merantau, sempat ada satu pesan yang kami dapatkan ketika akan berangkat, “yen wis cukup ilmune, mulih, bangun desamu ben dadi rejo” artinya, ketika sudah cukup ilmu yang kamu cari, kembalilah, banugn desamu agar makmur. Namun, saat itu, kami masih skeptis, masih ragu, untuk apa membangun kembali masa depan kehidupan desa?

Pada awalnya memang begitu, di kota memang penuh hingar bingar kehidupan modern dengan segala isinya, jauh berbeda dengan di desa. Sampai terkadang hidup di kota seperti sebuah idaman bagi beberapa pemuda yang merantau, mencari peruntungan di kota besar.

Ketika kuliah pun kami juga belum terbersit keinginan untuk membangun kembali desa tempat kelahiran kami sendiri. Seperti sudah terhipnotis oleh tingginya gedung dan hiruk pikuk mall dan bioskop. Bahkan beberapa kali melupakan bagaimana rasanya semilir angin di pematang sawah.

Meskipun merantau adalah bukan pilihan yang terbaik, mungkin itu hanya menjadi tradisi, itu hanya cerita bahwa ketika merantau ke kota, kita akan menemukan kekayaan, kesejahteraan. Belum tentu. Mungkin untuk kehidupan pribadi, peluang masih ada, namun untuk kehidupan bermasyarakat, kita tidak sejengkalpun mulai meniti kesuksesan.

Bagaimana tidak, status merantau itu menjauhkan kita dari bagaimana kebersamaan kehidupan di desa, bagaiman kita saling membantu, saling mengisi dan melengkapi cerita dalam hidup bermasyarakat. Bahkan ketika kita mencari ilmu di kota besar, agar nantinya mampu kembali untuk bagaimana eksekusi ilmu tersebut mampu membuat masa depan kehidupan desa lebih baik, tanpa merubah kebudayaan masyarakat.

Tetapi.

Bukan berarti juga merantau itu buruk, bahkan sebaliknya, memang kita harus merantau, cuma, jangan lupakan jalan pulang ke rumah, jangan lupa kita memiliki amanah untuk membangun desa tempat kita lahir.

Ingatlah ketika kita makan nasi jagung yang entah bagaimanapun bentuk dan rupanya, kita bisa menikmati setiap puluknya. Atau bagaimana mencari ikan di sungai yang hanya dibakar saja sudah mampu menjadikan hati kita bahagia.

Mungkin seperti itulah Gesang, seperti tahu bagaimana caranya mengembalikan kami lewat lagu Caping Gunung. Beberapa kali mendengarkan, meresapi kemudian mencoba melenyapkan rasa ragu dalam hening. Kami pun tahu, kami harus kembali.

Karena sejauh apapun kami pergi, di sana, di desa, ada orang tua yang menatap kosong angkasa mencari wajah sang anak yang mungkin saja berkaca kepada tingginya angkasa. mereka selalu memikirkan anaknya yang jauh merantau ke kota besar, mencari ilmu, mencari rezeki dan mencari kehidupan yang lebih baik untuk nantinya mereka bawa ke desa tempat orang tua mereka merenung.

Hanya seperti itu yang mereka inginkan, tidak lupa bagaimana ketika mereka kecil berteman dengan sawah dan hutan. Mencari rumput, mencari kayu, kemewahan tersendiri bagi masyarakat desa ketika pulang untuk mencicipi nasi dan tempe.

Cita-cita mereka diwariskan kepada anak mereka yang merantau agar giat mencari ilmu, mencari pengetahuan yang bisa menjadikan desa mereka makmur dan tenteram. Mencari penghasilan untuk nantinya digunakan sebagai perantara membangun desa kelahiran.

Memiliki ide dan inovasi bagaimana mengembangkan desa agar menjadi lebih baik.  Agar mampu “memayu hayuning bawana”, menjadikan alam yang sudah indah ini menjadi lebih indah dan bermanfaat untuk kehidupan generasi selanjutnya.

Karena mereka juga mendapatkan amanah itu ketika muda oleh orang tua atau generasi mereka sebelumnya. Sama seperti bait terakhir lagu Caping Gunung, “sukur bisa nyawang gunung desa dadi reja” , yaitu bagaimana agar mampu tercipta realitas ketika gunung di desa menjadi ramai, menjadi makmur, untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Bagaimanapun, lagu Caping Gunung ini adalah lagu rindu melankolis yang berharap siapapun generasi selanjutnya semoga tetap bisa menjaga dan melestarikan amanah yang sudah turun temurun diberikan kepada generasi selanjutnya untuk selalu bergerak maju, melangkah maju untuk kehidupan yang lebih baik.

Entahlah, kami akan melupakan bagaimana hiruk pikuk kota besar, biarlah kami tetap “ndeso” dengan segala kearifannya. Namun jangan bilang kami berhenti berpikir bagaimana kami akan meniti jembatan kesuksesan di desa kami sendiri.

Kami masih anak gunung yang memakai caping, dan akan kami buktikan kami bisa.

Salam dari Anak Gunung

-prajnaparamita-

 

IMG Source : Google Images

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *