Batik Tulis Dalam Melodi Musik Klasik, Klasik Itu Tidak Selalu Kuno

Hai selamat malam para mantan, ingatkah hari ini kita putus? Nah loh salah, maaf admin lagi multi talent untuk membuat skenario drama buat 17 Agustusan. Hahaha. Bahas apa kita hari ini, Batik Tulis Dalam Melodi Musik Klasik, Klasik Itu Tidak Selalu Kuno.

Keliatan keren kan judulnya?

Entah mengapa, ketika bahas generasi muda, seperti berkaca pada diri sendiri, smartphone dan segala hal yang ada di dalamnya. Kehidupan masa muda seperti sebuah dimensi teresterial yang tidak berada di tempatnya.

Dan dalam berbagai kesempatan, ternyata, generasi muda memang saat ini masih banyak yang dipandang sebelah mata, tentu saja karena memang dari berbagai pengaruh lingkungan sekitarnya.

Mungkin beberapa sudah tidak memiliki pandangan atau sense of interest kepada budaya Indonesia, misalnya wayang kulit, batik, tarian klasik, dan berbagai kebudayaan tradisional. Karena menurut mereka itu kuno, padahal antara kuno dan klasik itu sangat berbeda konteksnya.

Batik, adalah salah satu kebudayaan klasik itu, dan seperti ada kenikmatan tersendiri ketika kita mampu mendalami ilmu batik, lebih seperti mendengarkan lagunya Eagles yang Hotel California bersama kopi dan suasana yang damai.

Atau mungkin lebih ke mendengarkan lagu-lagu keroncong klasik yang selalu mampu memiliki kekuatan yang dahsyat untuk meresep ke dalam setiap gendang telinga kita.

Kembali ke generasi muda, mungkin kalau sekarang masih trend musik EDM, tapi beberapa dari mereka juga masih tetap mendengarkan musik klasik. Perbedaannya, ketika kita mendengarkan musik zaman sekarang, kita akan cepat bosan ketika sudah mendengarkannya selama beberapa kali.

Tetapi sebaliknya, ketika kita mendengarkan musik klasik, meskipun tidak setiap hari, maka akan ada sebuah memory, sebuah kenangan yang khas yang bisa kita dapatkan ketika mendengarkanmusik klasik tersebut.

Tidak jauh berbeda dengan batik klasik, melihat kedalaman warna, menyentuh kehalusan cantingan tangan, dan mencium aroma malam yang pekat seperti sebuah rayuan tersendiri untuk jatuh cinta kepada batik.

Citarasa memiliki koleksi batik klasik seperti para kolektor barang klasik lainnya, ada kebahagiaan tersendiri ketika kita mampu memiliki atau bahkan membuat batik dengan motif klasik yang sangat langka dan sangat jarang orang memiliki.

Seperti sebuah aura mistis yang mampu membuat kita jatuh cinta dan ingin lebih banyak bergelut dengan dunia batik dengan segala keunikan dan filosofi yang ada di dalamnya.

Beberapa orang mungkin berpikir batik itu kuno dan terkesan sangat tidak fashionable, tetapi banyak juga yang menjadikan batik sebagai masterpiece mereka. tidak sedikit para desainer dan para kolektor batik berjuang untuk memberikan apresiasi yang tinggi untuk batik tulis.

Contoh simple saja bagaimana seorang Dea Valencia mampu menjadikan batik sebagai sumber mata pencaharian dengan omset milyaran, sekaligus mampu memberikan sumbangsih kepada orang di sekitarnya dengan mempekerjakan mereka di dalam butiknya di Semarang.

Mungkin ituhanya salah satu diantara banyaknya orang yang mau menghargai batik tulis klasik, dan mau tetap setia mengembangkannya sampai pada akhirnyamendapatkan timbal balik sesuai dengan yang mereka inginkan.

Sebagai penutup, klasik tidak selalu jelek, tidak selalu kuno, karena klasik itu sesuatu yang menarik.

Terima Kasih Sudah Berkunjung dan Membaca.

Salam Hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-  

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *