Dari Bawah Sedapur Bambu Ori, Untuk Negeri, dari Bumi Intanpari

Panas terik mulai menuruni sebuah lembah yang belum ditinggal oleh beberapa pemuda, sesekali mengusap peluh, kemudian bercengkrama kembali dengan alam. Memandang tinggi barisan Gunung Lawu yang melirik dengan beberapa kilogram awan yang berjinjit mengiringi pagi. Dahan mahoni juga mengantuk dalam hembusan angin semilir, mulai menulis surat sederhana dari lereng Lawu,  Dari Bawah Sedapur Bambu Ori, Untuk Negeri, dari Bumi Intanpari

Ah, beberapa waktu lalu mungkin hanya tinggal sisa-sisa luka yang menggores kulit, menusuk arteri dan mulai meneteskan darah. Dalam pekatnya padang duri yang dibentangkan oleh sedapur bambu, hanya beberapa centimeter dari tulang hasta lengan kanannya.

Teringat sebuah pesan Soekarno ketika ia hanya membutuhkan 5 orang pemuda untuk mengguncang dunia, sedikit berlebihan buat kami, maka kami tambah beberapa. Kalau Soekarno minta 5, kami berikan sepuluh.

Beberapa dari mereka masih berkelahi dengan kejamnya kehidupan ekonomi, atau kejamnya waktu yang terus menggerogoti raut muka mereka.

Atau beberapa yang masih menggerus muka mereka akan masa lalu yang selalu kejam terhadap mereka, mungkin dari mereka memendam gelap yang teramat gelap menunggu pijar nyala lentera.

Namun.

Di dalam pikiran mereka, ada cita sebesar gunung setinggi jengkal mega angkasa. Ada jalan yang lebar terbentang dan mereka menjalaninya dengan tanpa banyak alasan. Seperti sudah kecanduan dengan ide dan cita-cita, terus berkembang dan terus melangkah.

Mereka ingin ikut membangun negeri dari apa yang mereka mampu, dari satu langkah menuju langkah lain. Paradigma mereka menatap tajam ke angkasa sesekali menukik membumi.

Entahlah.

Beberapa orang menyebut, tidak ada masa depan untuk mereka, mungkin mereka benar, mereka tidak membeli masa depan, karena mereka para pembuat masa depan. Pemilik idealisme tertinggi dari masa muda, penatap cita, dan perwujudan mimpi.

Beberapa orang lagi menertawakan mereka dengan echo yang menggema di setiap gendang telinga. Tanpa Empati.

Tetapi.

Mereka, para pemilik teguh, tetap berpikir bagaimana merubah tawa itu menjadi sebuah huruf vokal yang melengkapi konsonan kalimat mereka ketika berpidato tentang kesuksesan mereka di mata dunia. Mungkin seperti itu bentuk balas dendam terbaik yang bisa mereka lakukan.

Sepertinya tidak ada alasan untuk menahan perih di luka mereka, tidak ada alasan untuk terus mengeluh dengan keadaan, tidak ada alasan untuk mengobati luka yang mereka derita, yang mereka perlu lakukan hanya bermimpi setinggi-tingginya lalu kemudian membangun tangga yang begitu panjang untuk meletakkan nama mereka dalam sejarah.

Peduli setan dengan celoteh kutilang yang selalu berkicau di pagi hari.

Dan, ah, kalau berceloteh saja, kami pun juga bisa.

Tidak perlu kuliah sastra untuk itu, tidak perlu gelar sepanjang galar dan tidak perlu alasan sepanjang jalan untuk itu. Mereka hanya menyadari selama ruas bambu masih memanjang, selama bambu ori masih berduri, mereka akan menaklukkannya tanpa banyak bicara.

Dan Perlu Kalian Tahu.

“Pemuda Jawa Tidak Pernah Melangkah Mundur”

Mereka yang akan menulis sejarah dengan tinta darah merah, dan akan mereka mulai dari sini, dari bawah sedapur bambu ori, dari bumi Intanpari, Karanganyar.

-prajnaparamita-

Posted in Gallery.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *