Melihat Kembali Foto Klasik Pekerjaan Para Pembatik Sejak Zaman Perjuangan

Sebuah foto atau gambar, mampu menceritakan bagaimana sejak zaman dahulu negera kita Republik Indonesia memiliki sejarah yang mengagumkan. Bagaimana tidak, foto para pembatik ini memberikan sentuhan seni dan cerita yang sangat menginspirasi kita semua. Bagaimana kalau kita sejenak melihat kembali foto klasik pekerjaan para pembatik sejak zaman perjuangan?

Lets find out.

Sebuah foto memiliki sudut pandang yang menarik jika kita mampu mengambilnya dengan setting dan moment yang tepat untuk menghasilkan gambar yang mampu bercerita tentang apa yang ada di dalam foto tersebut.

Selain harus memahami berbagai tehnik fotografi, kita juga harus mampu untuk menempatkan posisi kita berada di dalam moment yang tepat. Mungkin untuk fotografi pada zaman milenial ini sepertinya siapa saja masih bisa mengambil foto dengan mudah dan tanpa banyak memiirkan berbagai teknik fotografi.

Kembali kepada foto para pembatik, foto ini dihasilkan oleh beberapa foto dengan komposisi black and white ini adalah hasil karya menakjubkan dari Cephas, seorang fotografer yang mengabadikan moment para pembatik dan berbagai budaya atau hal lain pada zaman kolonial.

Meskipun memiliki komposisi hitam dan putih, namun moment yang dihasilkan sangat luar biasa untuk dunia fotografi pada zaman itu ketika kamera analog masih merupakan barang yang sangat langka dan gampir mustahil dimiliki oleh orang biasa.

Dan tampaknya Cephas sangat tertarik kepada dunia batik, terutama profesi seorang pembatik yang juga menghasilkan karya seni tinggi dalam pembuatannya. Dalam hubungannya dengan seni, maka fotografi dan batik tidak jauh berbeda, yaitu sama-sama menghasilkan cerita pada hasil karya seninya.

Para pembatik memberikan lukisan yang indah pada kain mori yang dilukis dengan malam dan canting, sementara Cephas melukiskannya dengan lensa dan kamera. Dan kedua karya seni tersebut mampu memberikan cerita tentang apa yang ada pada zaman kolonial.

Dan lebih jauh lagi, ketika kita sudah nyaman dalam menjalani profesi itu, maka yang terjadi adalah kita akan terus berjuang untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dalam pekerjaan kita.

Misalnya dalam dunia fotografi,kita tentu akan terus memikirkan ide dan inovasi bagaimana agar hasil karya seni kita semakin indah dengan berbagai pengalaman dan latihan yang lebih banyak.

Sama halnya dengan batik, batik tulis terutama, mampu membuat mahakarya batik yang berkualitas harus membutuhkan latihan dan perjuangan yang sangat berat, belum lagi ketika kita juga harus mampu menceritakan apa yang ada dibalik motif batik tersebut.

Meskipun terlihat biasa saja, tetapi setidaknya mengabadikan mereka dengan foto dalam bingkai kehidupan mereka saat itu adalah sebuah penghargaan yang luar biasa. Sekali lagi, meskipun hanya foto, kita mampu melihat bagaimana perjuangan para pembatik pada Zaman Kolonial, entah mereka digaji atau tidak, mereka mendapatkan uang dari batiknya atau tidak, semuanya berada dalam satu bingkai foto tersebut.

Untuk itu, sudah selayaknya kita lebih memiliki idealisme untuk bagaimana menghargai para pembatik lewat berbagai cara yang bisa kita tempuh, setidaknya mengetahui bahwa mereka eksis dan ada adalah tujuan awal kami sebagai salah satu penikmat seni batik, dan mendukung perjuangan dan pelestarian batik terutama batik tulis.

Setidaknya itu yang akan tetap kami perjuangkan sampai nanti pada akhirnya, akan ada generasi baru yang membuat foto tentang perjuangan kami, menceritakan kepada masa depan, bahwa Indonesia Berjuang untu tetap mempertahankan seni budaya batik.

Terima kasih sudah berkunjung dan membaca.

Salam hangat, Indonesian batik

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *