Melanjutkan Idealisme Para Leluhur di Negeri Tempat Padi Tumbuh Tak Berisik

11 Juli 2018, Wetankali.

Sebuah kisah pasti akan ada yang menceritakannya, entah pada generasi selanjutnya atau hanya dalam sebuah foto klasik yang kusam dalam sebuah folder kehidupan seorang pemuda yang penuh LCD fatamorgana.

Dan ketika kisah itu adalah sebuah hal yang begitu bermakna bagi petani padi, atau pencari rumput di pagi hari, pencanting yang membatik, atau hanya penikmat kidung sinden yang mengiringi gerak gerik wayang kulit, maka sebuah kebanggaan tersendiri bagi seorang cucu mendengar kakeknya berada dalam dongeng dan kisah bersejarah yang membanggakan.

Dimana aku juga harus bisa berbuat sesuatu untuk melanjutkan kisahnya yang dia wariskan. Bahkan seperti memicu ledakan yang keras dari dalam hati untuk bagaimana menciptakan sejarah yang nantinya anak dan cucuku nanti bisa menyebutkan namaku dengan jelas, bagaimana menyebut nama kakeknya sendiri dengan kebanggaan.

Dari sinilah tercipta sebuah idealisme bahwa bagaimana membuat sebuah perubahan dari obrolan di pos kamling, di masjid, atau di depan rumah mas Iwan, atau di pinggir sungai, di masjid, di pinggiran jalan, menjadi sebuah realita.

Bahwa kami akan menciptakan sejarah, bahwa kami akan membangun desa ini.

Kami akan mulai meneruskan dari sini, dari dongeng, dari kisah, dari spasi terakhir kehidupan kami disini sebagai generasi yang ingin mencatat sejarahnya sendiri, melebihi para leluhur yang sudah payah membangun bentangan sawah dan hamparan padi.

Entahlah dengan kalian, idealisme kami sudah bertali pati, melepaskannya akan sangat sulit. Kami ambil alih dari sini Eyang Kakung, kami akan melanjutkan kisahmu, dan anak cucu kami yang juga akan ikut membanggakanmu.

27 September 2017, Sebendo.

Rumah itu terbengkalai, karena usia, karena penghuninya sudah purna tugas di kehidupan dunia, tidak ada yang menarik, bahkan terkesan menyeramkan. Di dalamnya, gebyok kayu setinggi lebih dari 2 meter mulai rapuh menjadi cemilan dikala sore rayap dan semut.

Pendopo yang sangat luas dahulu, mungkin seluas arena kami ketika kecil berlarian sampai payah. Sekarang berganti menjadi rumput yang berlarian, dan pohon singkong yang sedang membicarakan dahulu kala, tentu saja aku tidak bisa mendengarnya.

Iya, itu rumah leluhurku, rumah eyang yang aku sendiri sebenarnya tidak terlalu tahu bagaimana dia muda, mungkin sekelas Tom Cruise. Paling tidak kalian sudah tahu, tapi aku belum benar-benar tahu kisahnya.

Tetapi mungkin dari sinilah aku mendapatkan kematangan atas idealisme yang mungkin juga menurun dari beliau.

7 Januari 2016, Pos Kamling, Wetankali.

Dari sinilah idealisme untuk seperi beliau mulai tertanam dalam di memori internal pikiranku. Di sebuah sore sebelum maghrib.

Seperti sebuah déjà vu, sepertinya aku sudah pernah mendapatkan adegan ini dalam hidupku, dan terus menerus berulang-ulang, setiap tahun. Sepertinya bukan hal yang menyeramkan, tetapi aku pun masih hanya sebagai pendengar yang baik untuk cerita itu.

Cerita tentang seorang Suro Pawiro, yang begitu berkesan bagi para generasi yang sempat mengalami masa kejayaan Kerajaan Sebendo, begitu aku menyebutnya. Layaknya sebuah dongeng yang mereka ceritakan dengan semangat, dengan aku berada disitu.

Seakan-akan mereka mencoba memamerkan bagaimana “The Power of Suro Pawiro” dengan satu set peralatan Wayang Kulit, kemudian berbagai koleksi gamelan, lalu juga batik-batik berkelas yang mahal. Bagaimana mereka dengan bangga mulai menceritakan kehidupan eyang yang benar-benar seperti Bob Sadino pada masanya.

Entah mengapa orang-orang lebih senang bercerita itu kepadaku sebagai cucunya, dan bagaimana bisa mereka bangga dengan keberadaan seorang Suro Pawiro, mereka seperti memiliki chapter kisah seorang Suro Pawiro dalam hidupnya, dan penuh dengan hal-hal besar yang membuatku merinding.

Just what are you doing in the past time…

6 Mei 2015, Semarang.

Teringat sebuah kisah Caping Gunung, menjadi sebuah pilihan untuk merantau, dan bagiku, pilihan yang begitu buruk, meskipun tidak terlalu buruk. Membutuhkan waktu lebih dari 5 tahun untuk menemukan idealisme bagaimana membuat kampung halamanku menjadi sebuah tempat yang orang lain akan iri dan ingin menetap disini.

Membutuhkan sebuah pola dan rumus phytagoras yang bahkan aku tidak mengerti bagaimana ada sudut a, b, dan c. atau belajar bahasa Belanda goedenacht dan bedankt sampai membuat lidahku keseleo dan otak kananku kram.

Pada akhirnya aku hanya bisa mengucapkan Ik spreek geen Nederlands alias Saya tidak bisa bahasa Belanda.

Suasana kampus yang idealis  seperti Tan Malaka dengan quote “Padi tumbuh tak berisik”, membuat keyakinan aku ahur kembali ke sana, temapat cinta pertamaku kambuh sebelum ditinggalkan menikah dengan lelaki lain.

Kembali ke haribaan ibu pertiwi, kembali kepada dongeng anak kecil tentang eyangnya yang selalu memakai celana gembyong dan pecinya yang miring. Mendongeng tentang seberat apapun caranya, buatlah sebuah kisah hidupmu yang nantinya cucu kesayanganmu akan meneruskan ceritamu, meneruskan perjuanganmu, menjadi penulis di halaman lain kisah ini sebagai salah satu yang berhasil mewujudkan cita-cita para leluhur.

Membangun Negeri Sendiri, Indonesia.

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *