Dibalik Misteri Perhitungan Jawa, Masihkah dan Apa Maksud Didalamnya?

Filosofi kehidupan orang Jawa tidak akan pernah hilang meskipun diterpa badai zaman yang selalu berubah-ubah. Sejak zaman Hindu-Budha sampai zaman Islam, masyarakat jawa selalu mampu berpegang teguh pada konsepsi kehidupan budaya Jawa, dari penentuan hari pernikahan dan penentuan acara penting lainnya, penggunaan filosofi Jawa masih dapat kita temukan keberadaannya. Apakah maksud dibalik misteri perhitungan Jawa?

Lalu, apakah masih relevan hingga saat ini?

Tentu saja, tetapi harus diimbangi dengan kepercayaan kepada Tuhan, karena kalau tidak kembali kepada sang pencipta, maka hanya sia-sia saja meskipun menggunakan perhitungan Jawa yang rumit. Selain itu tidak ada salahnya menggunakan budaya Jawa dalam berbagai hal yang kita yakini itu akan membawa dampak yang baik bagi kehidupan kita selanjutnya.

Apakah masih ada yang percaya dengan efek dari penggunaan perhitungan Jawa itu?

Kalau urusan kepercayaan itu tergantung dari pribadi masing-masing manusia, karena semua itu juga tidak bisa semua orang menerima perhitungan Jawa ini. Bagi yang masih percaya dengan efek atau akibat dari perhitungan Jawa itu silahkan, apabila tida juga tidak menjadi masalah dan tidak perlu menjadi berbeda hanya karena hal tersebut.

Di zaman modern ini sepertinya sudah banyak yang meninggalkan perhitungan menggunakan budaya Jawa, apakah budaya tersebut mampu bertahan?

Kehidupan orang Jawa yang adiluhung sampai sekarang akan terus bertahan, karena bagaimanapun generasi penerus akan terus memiliki pengalaman sebab akibat dengan perhitungan budaya Jawa, meskipun tidak semuanya benar, tetapi karena sudah turun-temurun, kepercayaan itu akan selalu bertahan meskipun hanya beberapa orang saja yang mempercayainya.

Apakah generasi muda masih akan menerima warisan para leluhur ini?

Generasi muda zaman sekarang memang sudah banyak yang kehilangan sifat orang Jawa yang menghormati orang yang lebih tua, menghargai budaya negeri sendiri, faktanya memang begitu. Namun, tidak semuanya, banyak juga yang masih sangat ingin memperdalam budaya Jawa yang luhur. Karena bagi mereka kehidupan orang Jawa ini adalah sebuah kekhasan tersendiri untuk mereka.

Bagaimana dengan konfilk antara agama dan budaya Jawa ini?

Sebenarnya tidak pernah ada konflik dalam kehhidupan berbudaya dan beragama, karena kedua hal ini selalu berdampingan dan kita yang harus selalu menyeimbangkannya. Tidak mutlak harus begini dan begitu, budaya Jawa sangat fleksibel terutama yang berhubungan dengan Agama.

Cuma memang setiap manusia memiliki sudut pandang dan pengertian yang berbeda-beda, dan kesalahannya adalah mencampur adukkan antara agama dan budaya menjadi satu, dicari kesalahannya, dan dipermasalahkan karena berbeda.

Banyak kritik tetapi antikritik, itu yang banyak menjadi masalah. Sekali lagi, kedua hal ini (agama dan budaya)berjalan sejajar, berdampingan dan saling menghormati. Jadi jangan menyebut hal itu sebagai konflik, tetapi sebuah cara bagaimana mempererat perbedaan menjadi sebuah kesatuan tujuan yang hakiki, yaitu kebahagiaan dunia dan akhirat.

Lalu apakah tujuan perhitungan Jawa ini, kalau hanya menentukan hari dan tanggal, maka siapapun bisa melakukannya?

Justru itu, banyak yang bisa melakukannya, karena perhitungan Jawa ini tidak serumit yang kita pikirkan, namun, menentukan makna dibalik hari itu yang tidak semua orang bisa. Maksudnya, ada pesan moral ketika menentukan hari dan tanggal menggunakan budaya Jawa, dan pesan itu menjadi sebuah doa dan pengharapan kepada manusia agar pada hari itu, akan menjadi awal yang penuh berkah untuk orang atau kelompok yang memiliki acara, sebuah pernikahan misalnya.

Pengharapan untuk menjadi sebuah keluarga yang baik, yang penuh berkah, yang penuh rezeki, semua itu sebuah doa dan pesan untuk kedua mempelai agar selalu ingat dimana hari mereka bersatu membina hubungan pernikahan.

Pesan moral yang terkandung untuk menjadikan manusia yang bermanfaat bagi sesama umat manusia dengan selalu berdasar kepada agama yang dia anut. Bukan berarti menjadikan hari itu sebagai yang kita percaya akan untung atau banyak rezeki, tetapi membangun manusia untuk selalu berusaha sekuat tenaga mendapatkan apa yang menjadi cita-cita dan apa yang menjadi pesan moral pada hari itu.

Akhirnya.

Sekali lagi, sebagai manusia, kita hanya perlu belajar menghormati orang dan kebudayaan yang lain, bukan memecah belah, dan bukan menambah masalah. Kita sudah diwariskan berbagai hal baik dan buruk untuk kita mampu pertimbangkan dalam menjalaninya, sisanya, kita hanyalah manusia yang memayu hayuning bawana.

Salam Hormat dan Terima Kasih Sudah Berkenan Membaca.

Salam Hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *