Ilalang Hitam Supraba Penakluk Kerajaan Hati Arjuna

Seribu semi bunga gladiol merah menghiasi pelataran joglo megah yang penuh dengan ukiran jati dan gaharu. Semilir aroma melati menyerbak memenuhi rongga jantung seorang lelaki muda yang duduk bersila di tengah hamparan padang bunga dahlia. Menyerahkan diri ke hadapan Sang Pemilik Jagad Raya, yang mewarisi kesempurnaan para dewa.

Dialah Arjuna..

Getar nafas pemuda ini menunjukkan keteguhan dan kerendahan hatinya, sudah tidak diragukan putra ketiga prabu Pandu tersebut. Seluruh jiwa raganya seperti air yang mengalir menuju lembah, sesekali terbang menuju langit yang tinggi, sebentar kemudia merendah sampai membumi.

Sementara itu jauh tinggi di Suralaya, sebuah mata memandang dari kejauhan, dengan rambut hitam tergerai sedikit menutupi raut wajahnya yang dipenuhi rasa penasaran. Kelopak mata yang sedikit sayu namun tidak menutupi jernihnya bola mata yang hitam kebiruan, raut muka gadis dengan warna merah bibirnya layaknya kelopak mawar yang disusun rapi melengkapi kekuasaan Sang Pencipta.

Gerai rikma berayun-ayun seperti ilalang yang menghitam lurus dengan lembutnya menari dengan hembusan angin khayangan. Tidak ada yang mampu lepas dari pandangan matanya, satu kedipan saja cukup untuk membuat jutaan ksatria takluk. Sesisir senyum saja mampu menguras segala yang seorang raja miliki.

Dialah Supraba..

Seorang Dewi khayangan Suralaya, pemilik kesempurnaan seorang wanita diantara keenam saudara perempuannya. Tubuhnya dibalut dengan kain batik bermotif garuda sebagai kemben dan selendang putih yang selalu berkibar mengikuti helai rambutnya. Tidak akan membosankan melihat Supraba, bukan hanya karena parasnya, dari setiap gerak gerik dan kedipan matanya, adalah keindahan.

Melamun menatap jauh menerobos awan menuju padang bunga tempat semedi Arjuna. Raut mukanya penasaran bagaimana melihatnya lebih dekat, bagaimana agar dia bisa bercengkrama dengan pertapa muda itu.

Lembayung bunga sedap malam mulai menghampiri suasana khayangan Suralaya. Beberapa kilatan komet terjatuh melewati hamparan langit.

Supraba bimbang tidak karuan ingin turun menuju Arcapada tempat pertapa itu tinggal. Namun bagimanapun dia adalah perempuan yang seharusnya dikejar para lelaki bukan malah mengejar lelaki itu. Beberapa kali memikirkan itu, akhirnya dia melangkah meniti awan untuk menemui sang pertapa, memenuhi rasa penasaran sukmanya.

Dalam sekian milidetik, Supraba telah berada di bawah lereng lawu, dengan dingin angin dan desahan pepohonan pinus. Sepi namun terasa hiruk pikuk suara alam menyambut sang bidadari.

Gelap malam itu tiba-tiba menjadi terang benderang dengan kehadiran Supraba, bunga yang ingin tertidur seakan bangun menyambut dengan wangi surgawi. Berdiri dengan anggun di hadapan Arjuna yang masih terdiam memejamkan mata hati dan batinnya.

Meskipun begitu, Arjuna hanya manusia biasa, sekuat apapun bertahan, mata batinnya selalu mencoba ingin melihat Supraba. Seorang Dewi khayangan yang paling cantik diantara keenam saudaranya yang juga bidadari, entahlah, sulit mungkin baginya menggambarkan bagaimana paras bidadari yang paling cantik diantara bidadari.

“Duhh cantik, enyahlah dari hadapanku, aku tidak bisa menerimamu kali ini..”

Bersambung

-prajnaparamita-

Posted in Gallery, Story, Wayang Kulit and tagged , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *