Tangis Arimbi untuk Gatotkaca dalam Api Kesedihan di Padang Kurusetra

Mendung kelam berduyun-duyun datang seolah mengiringi cahaya yang sesekali bersembunyi di atas langit kurusetra. Beberapa kali menukik menjemput nyawa prajurit kurawa yang tidak mampu menghindar. Jasad-jasad tanpa kepala meregang nyawa di tengah peperangan. Api kesedihan di padang Kurusetra, tempat perang Bharatayuda.

Gatotkaca lah yang terbang di antara kelam mendung senja hari itu. Dialah putra Dewi Arimbi, lelaki keturunan kuatnya sang Werkudara. Yang ketika lahir sudah ditakdirkan kuat. Bahkan ari-ari yang hanya bisa diputus oleh keris Kunta Wijayandanu. Sementara sarung keris muksa berada dalam tubuh Gatotkaca yang semakin menambah buasnya salah satu putra Pandawa ini, keris berada di tangan pamannya yang berada di pihak Kurawa, Prabu Basukarna.

Dan sudah menjadi keinginan jagad peperangan bahwa Gatotkaca harus gugur untuk tawur menyempurnakan kemenangan Pandawa dalam Bharatayuda, seperti saudaranya Abimanyu.

Kematian Gatotkaca juga karena Keris Kunta yang dimiliki oleh Prabu Karna mencari sarungnya kembali, sementara sarung keris tersebut muksa berada dalam tubuh Gatotkaca. Sepertinya sang ksatria sudah mengetahui bahwa dirinya dekat dengan sang paman yaitu Kalabendono, yang tidak akan muksa sebelum Gatotkaca juga muksa.

Namun takdir kematian sama sekali bukan di tangan makhluk fana seperti dia. Takdir itu sejengkal pun tidak mungkin dipercepat atau ditunda. Sudah waktunya Gatotkaca, sampai di sini pengabdian kesatriaanmu. Kunta Wijayandanu dilepaskan dari busurnya oleh Adipati Karno. Di jagad ini hanya Arjuna yang mampu menyamai keahlian dan ketepatan Basukarno dalam mengolah dan mengarahkan anak panah dari busurnya. Kuntawijandanu melesat secepat kilat ke angkasa, dari Kereta perang Basukarno seolah keluar komet bercahaya putih menyilaukan secepat kilat melesat.

Senjata kunta mengeluarkan suara yang memekik sebelum membelah dada Sang Ksatria Pringgadani. Seperti bintang jatuh yang mencari sasaran, jatuhnya badan Gatotkaca tidak lah tegak lurus ke bawah, namun mengarah dan menghujam ke kereta perang Basukarno.

 Basukarno bukanlah prajurit yang baru belajar olah kanuragan setahun dua tahun. Dengan keprigelan dan kegesitannya, sebelum jasad Gatotkaca menghujam keretanya dia melompat seperti belalang menghindar dari sergapan pemangsa. Jasad gatotkaca menimpa kereta, Keretapun hancur lebur, pun delapan kuda dengan kusirnya tewas dengan jasad tidak lagi bebentuk. Selesailah episode Gatotkaca dengan perantaraan Uwaknya, Adipati Karno Basuseno.

Kematian Gatotkaca menjadi lagu melankolis yang mengiringi duka seluruh keluarga Pandawa. Sang Ibu, Dewi Arimbi tertunduk menangis dalam pilu sang sangat sendu. Perjuangan ketika mencoba meluluhkan hati sang Werkudara, akhirnya berbuah kepada seorang ksatria yang benar-benar berbakti kepada orang tuanya.

Seorang Arimbi yang dahulunya raseksi berubah menjadi seorang bidadari dan sekarang menjadi seorang ibu yang penuh cinta kasih. Kematian putra kesayangannya ini menjadi pukulan yang telak kepadanya.

Namun sebagai ibu yang juga mewarisi sifat ksatria, sebuah keputusan yang sangat berat dia ambil, Arimbi menyatakan akan mengikuti jejak langkah sang Gatotkaca untuk melengkapi darmanya sebagai seorang ibu dengan ikut membakar diri bersama jasad Gatotkaca.

Ia menyatakan keputusannya kepada Bima dengan kemantapan hati yang luar biasa. Bima yang tahu bahwa sang istri sangat menyayangi anaknya, tidak kuasa menolak jeritan hati Arimbi, perempuan yang selalu menjadi teman setia pandawa ketika di hutan Wanamarta.

Pun para Pandawa dan Kresna tidak mampu menolak keinginan Arimbi, mereka masih terbayang oleh Gatotkaca kecil yang sangat periang dan mampu membuat suasana perjuangan Pandawa di hutan Wanamarta menjadi lebih indah dengan kehadiran Arimbi dan Gatotkaca kecil, dahulu.

Geram dan gemeletak gigi Werkudara tidak habis, begitu pula Arjuna dan seluruh prajurit Pandawa, rasa-rasanya ingin mengamuk dan membabat habis pasukan Kurawa yang berpesta dengan kematian Gatotkaca.

Setelah semua pandawa merelakan kepergiannya Arimbi mendekati jenasah puteranya, sesampai disitu dia berbaring dan minta segera dibakar bersama puteranya. Bima tak mampu menyaksikan pemandangan itu dan tertunduk sambil berdoa kepada Dewa agar Jiwa mereka diperbolehkan bersemayam dalam damai di Suralaya.

Mendung yang sedari tadi mengikuti Gatotkaca seakan ikut manangisi kepergian sang ksatria dengan gerimis yang seperti tidak rela ketika keduanya harus pergi. Bahkan lelehan air mata seorangBima yang tidak pernah menangis selama hidupnya ikut mengiringi kepergian istri dan putra kesayangannya.

Namun semuanya sudah menjadi takdir yang kuasa, karena tawur mereka akan menjadi api semangat Pandawa untuk kemenangan Bharatayuda. Dharma bakti Gatotkaca akan menjadi panah dan ujung tombak setiap ksatria Pandawa.

Dalam sekejap api membara membakar ibu dan anak ini, namun sesekali bima menatap ke langit, dia bisa melihat Arimbi dan Gatotkaca bersama-sama pergi dalam kedamaian menuju nirwana.

-prajnaparamita-

Posted in Story, Wayang Kulit and tagged , , , , , , , , .

One Comment

  1. Pingback: Memayu Hayuning Bawana, Memperindah Yang Sudah Indah - Indonesian Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *