Rayuan Dari Desa Batik Untuk Tanah Air Kami, Indonesia

“Tanah airku Indonesia, negeri elok amat kucinta, tanah tumpah darahku yang mulia, yang kupuja sepanjang masa…”. Masih ingat bukan lagu yang bertema kebangsaan yang satu ini. Yang selalu mengajarkan kita untuk cinta dengan tanah kelahiran kita sendiri, Indonesia. Dari lagu itu juga kami belajar bagaiana mencintai tanah air kita ini, dari desa batik untuk tanah air kami, Indonesia.

Memang benar sekali, belum ada yang kita lakukan seperti para pahlawan untuk negeri kita tercinta. Bahkan untuk upacara saja kita selalu dengan berat hati datang. Dibandingkan pada zaman dahulu dimana kita harus berperang.

Kami menyadari bahwa dari sekian banyak yang bisa kita lakukan, belum ada yang bisa membanggakan Nusantara ini. Untuk itu kami selalu berpikir bagaimana mempercantik negeri ini dengan sesuatu yang bisa membanggakan.

Karena kami tinggal di sebuah Desa Batik, maka dari situlah kami mulai mencoba untuk bagaimana melestarikan dan mengembangkan batik, terutama batik tulis. Sebagai langkah kami menumbuhkan rasa cinta tanah air.

Batik tulis adalah sebuah rayuan yang sangat romantis, menunjukkan bangsa kita yang beraneka ragam, menunjukkan bagaimana kita bersabar dan berjuang memperoleh kemerdekaan.

Membangun jati diri bangsa dari sebuah desa memang butuh perjuangan. Karena mereka tidak sepenuhnya mengerti bagaimana mereka bisa ikut berpartisipasi untuk membangun bangsa, padahal mereka sudah melakukannya.

Para pembatik dengan tekun mencanting, seperti itulah romansa entah di sore yang hujan atau di pagi yang cerah. Namun mereka tidak mengerti bahwa yang mereka lakukan adalah sebuah pengabdian untuk negeri.

Lalu apa yang coba ingin kami sampaikan.

Para pembatik butuh motivasi untuk itu, penghargaan yang nyata baik dalam bentuk materi dan cerita yang bisa kita sampaikan kepada banyak orang. Bahwa mereka telah berjuang untuk negeri.

Yang berjuang bukan hanya di kantor DPR atau hanya orang-orang yang memiliki jabatan penting. Para pembatik juga berjuang mengabdi untuk negeri ini. Bahkan tanpa pernah meminta untuk dihargai, karena mereka tahu nantinya, mahakarya mereka akan menjadi kebanggaan Bangsa Indonesia yang memiliki batik.

Lalu kalau bukan kita yang bisa memberikan apresiasi, siapa lagi?

Faktanya, hanya omong kosong belaka untuk memberikan dukungan agar Indonesia semakin maju, semakin bermartabat di hadapan bangsa lain. Bagaimana ingin dihargai ketika menghargai orang yang berjuang saja sulit.

Sepertinya bukan itu yang pernah dicontohkan oleh para pahlawan bangsa. Tidak ada yang mencontohkan untuk korupsi, untuk saling membenci, untuk rebutan jabatan, untuk memperbanyak harta kekayaan.

Hanya satu yang mereka ingin lihat, bersatunya Indonesia menjadi ngeri yang makmur dengan rayuan pulau kelapanya, dengan kain batik sebagai pakaiannya, dan dengan semangat untuk lebih mencintai tanah air dengan cara apapun.

Untuk Indonesia, apa saja akan kami perjuangkan.

Salam hangat dari para anak negeri, dari Desa Batik Girilayu.

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , .

One Comment

  1. Pingback: Konsep Pariwisata Batik Tulis, Rekreasi Sekaligus Melestarikan Budaya Batik Indonesia - Indonesian Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *