Edisi Ramadhan : Antara Batik dan Wisata Ziarah ke Makam Pendiri Praja Mangkunegaran

Hellow fellas, hihihi, beberapa hari yang lalu ternyata kita tidak bisa memenuhi kuota artikel karena sedang berburu berkah di bulan Ramadhan. kami juga sudah sangat rindu untuk bisa berbagi informasi mengenai batik dan bulan Ramadhan 1439 H ini. Dan kali ini kita akan melihat batik dan wisata ziarah ke makam pendiri Praja Mangkunegaran.

Astana Mangadeg, adalah salah satu tempat yang menjadi pilihan untuk berwisata rohani pada bulan ramadhan. Astana atau petilasan yang berada di daerah Girilayu, Karanganyar adalah Astana Mangadeg. Tempat yang sejuk untuk berkunjung dan berziarah ke makam para Raja Mangkunegaran.

Ketika sampai di komplek Astana Mangadeg, kita akan disuguhi tangga naik menuju ke atas bukit, bukan disuguhi kolak loh ya. Ada gerbang yang khas joglo jawa dengan penanda arah mata angin di atasnya. Setelah kita melewati joglo itu kita akan dihadapkan sebuah prasasti yang bertuliskan bahwa Astana Mangadeg ternyata memiliki hubungan dengan keluarga Alm. Presiden Soeharto.

Sekitar 100 tangga kita lewati, kita akan berhadapan dengan sebuah Masjid yang berukuran tidak terlalu besar namun terlihat sangat sejuk. Diketahui Masjid tersebut adalah Masjid Kyai Kasan Nuriman, dengan tulisan aksen huruf Jawa di atas pintu masuknya.

Sebelum menuju ke komplek makam yang ada di atas kita harus lapor dahulu nih, ada bapak-bapak keren, Bapak Zytho (keren yak namanya), yang menerima kita dengan sangat baik sebagai pengunjung reguler disitu. Selesai mengisi buku tamu, langsung kita menuju ke atas yang juga membutuhkan tenaga ekstra karena naik tangga lagi.

Tetapi jangan takut deh ya, kita tetap akan dimanjakan dengan suasana sejuk dan rindangnya pohon-pohon menuju komplek makam. Tetapi sebelum itu kita akan disambut sebuah gerbang besar khas kerajaan di Jawa, kemudian ada menara tempat Pangeran Sambernyawa (pendiri Mangkunegaran) bertapa untuk mendapatkan wahyu keprajan.

Monumen ini berdiri gagah seperti memberikan aura semangat kepada para pengunjung. Dan tahukah kalian, menurut cerita para sesepuh desa Girilayu, bahwa mitosnya dahulu ketika ada makhluk hidup yang terbang di atas tugu tersebut maka akan langsung jatuh ke darat. Menurut cerita banyak pesawat tempur Belanda yang jatuh setelah lewat di atas tugu tersebut.

Setelah puas dengan monumen tersebut, kita akan melewati tempat untuk melihat pemandangan di pesanggrahan, dari situ kita bisa melihat pemandangan indah kota Karanganyar dan sekitarnya.

Selesai memanjakan mata, kita akan melewati jalan kecil yang penuh dengan rindangnya pohon pinus dan berbagai tumbuhan yang sengaja memayungi kedatangan kita menuju komplek makam.

Ketika berada di ujung jalan kita akan disambut dengan sebuah gerbang megah yang memiliki aksen Jawa Kuno, dengan sebuah pintu masuk kecil yang juga khas dengan Jawa. Ketika kita memasukinya akan terasa sejuk sekaligus damai rasanya.

Dan memasuki komplek makam, kita harus memakai kain batik, dan berjalan jongkok ketika menuju makam, karena sebagai bentuk menghormati. Di dalam makam juga terlihat sangat sejuk dengan berbagai ornamen khas Praja Mangkunegaran.

Ketika kita berwisata ziarah, bukan untuk bertujuan syirik atau berdoa kepada selain yang Maha Kuasa. Tetapi lebih karena kita nantinya juga akan mati, juga akan meninggalkan dunia fana ini, hanya bagaimana kita menjalani hidup di dunia ini menunggu kematian.

Dengan mengingat bahwa kita manusia biasa, maka akan memunculkan rasa rendah hati dan rasa untuk lebih mencoba membuat hidup yang ktia jalani lebih bermanfaat bagi diri kita sendiri dan juga bagi orang lain.

Jadi bisakah kita untuk lebih menghargai sebuah kehidupan?

Terima Kasih Sudah Berkunjung dan Membaca

Salam Hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *