Pesona Ramadan 2018, Melukis Senja di Bumi Batik Tulis Desa Girilayu

Bulan Ramadan 1439 H sepertinya memang penuh berkah. Salah satunya adalah berkah Pesona Ramadan 2018, melukis senja di bumi batik Tulis Desa Girilayu. Desa yang jauh dari hingar bingar kota dan polusi udara, desa yang penuh dengan nyanyian jangkrik di malam hari. Desa dengan kearifan lokal batik dan para pembatik yang tersenyum di bulan Ramadan.

Apa saja cerita yang bisa kita temukan di desa wisata batik tulis ini?

Let’s go kita cari tahu. Gassss…

Lokasi dan Akses Wisata

Sebelumnya, Desa Girilayu adalah salah satu desa di Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Dan merupakan salah satu desa produsen batik tulis yang sudah turun temurun sejak Praja Mangkunegaran berdiri. Bahkan, makam para Raja Mangkunegaran [kecuali Mangkunegara VI] juga berada di Desa Girilayu, lebih tepatnya bernama Astana Mengadeg dan Astana Girilayu.

Belum berhenti disitu, Presiden kedua Indonesia Bapak H.M Soeharto juga ikut disemayamkan di komplek Astana Giribangun, berdampingan dengan Ibu Tien Soeharto, yang juga salah satu keturunan Mangkunegaran. Dengan bangunan Astana Giribangun yang megah dan sejuk untuk berwisata religi.

Kurang lebih 1 jam perjalanan dari kota Solo, seakan terbayar lunas ketika kita akan disambut gerbang besar Desa Batik Girilayu, disusul dengan Astana Giribangun, kemudian Astana Mengadeg, dan diakhiri dengan Astana Girilayu. Tempat yang indah untuk menenangkan hati dengan berwisata ziarah di dalam pesona ramadan 2018 ini.

Namun.

Selain itu, ada rahasia tersembunyi yang belum diungkap, bahwa di desa yang sangat luas ini, ada para maestro dan seniman batik tulis yang sedang berkarya tanpa kita sadari. Mereka tidak terlihat secara kasat mata, karena tertutup tembok rumah mereka. Horor sekali.

Hahaha, bercanda kok.

 

Mereka adalah Para Pembatik

Lemah gemulai tangan para perempuan pembatik ini melukiskan canting ke dalam kain, sembari terkadang meniup canting. Sungguh eksotisme tersendiri bagi kami, belum lagi asap nyala tumper untuk memanaskan wajan penuh malam, dan melihat langsung bagaimana kedamaian dituliskan lewat motif batik, benar-benar membuat kami terpesona.

Faktanya, di desa ini memang banyak sekali pengrajin batik tulis, hampir 80% perempuan memiliki kemampuan alami membatik. Yang dari generasi ke generasi selalu diwariskan kepada keturunan selanjutnya. Dan mereka sepertinya sudah terbius dengan motif-motif batik dan dengan lincah melukiskan malam menjadi begitu indah.

Motif Parang, Motif Truntum, Motif Udan Liris, Motif Sido Asih, Motif Sido Mukti, Motif Wahyu Tumurun.

Beberapa motif di atas adalah motif batik klasik yang sudah sejak zaman Kerajaan Mataram Islam yang didirikan oleh Panembahan Senopati berdiri dengan batik motif Parang. Dan di Desa Girilayu juga sudah memiliki maestro tersendiri, dari yang motif sangat sulit, sampai motif yang tidak perlu menggunakan pola dasar.

Mbah Wito [alm] yang sebelum memasuki bulan Ramadan ini kembali ke hadirat Yang Maha Kuasa, beliau adalah maestro Motif Cuwiri, tanpa pola dasar. Jadi di kerut tangan beliau sudah hapal goresan canting yang harus dilukiskan agar menjadi motif Batik Cuwiri. Dan perlu kalian tahu, usia terakhir beliau saat masih membatik, 95 tahun.

Mbah Darso, yang menekuni motif batik yang sangat rumit, dengan ciri khas penggunaan canting kecil dan detail yang sangat membuat berkunang-kunang ketika kita melihatnya. Benar-benar motif yang sangat sulit. Tetapi kalian perlu tahu, beliau kalau di hitung sudah sejak kelas 2 Sekolah Dasar telah mulai membatik.

Mbah Atmo, sudah mulai membatik sejak zaman Gestok, yang berarti sejak sekitar tahun 1965. Sampai sekarang masih dengan anggun membatik meskipun tangan beliau sudah mulai gemetar karena usia. Dan begitu anggun ketika beliau menyambut kami dengan bahasa Jawa Kromo Inggil. Sampai sekarang masih sehat membatik tulis dengan cantingnya.

Mbak Inem, maestro batik motif langka Udan Liris, sayang nya beliau masih mengerjakan batik pesanan dari Solo, jadi belum bisa ditampilkan. Tetapi, dari karyanya, kami bisa melihat detail dan ketelitian variasi motif Udan Liris yang sangat tinggi, dan dengan usia yang masih muda.

Beberapa contoh para pembatik di atas memiliki usia yang lebih dari 50 tahun, namun ekspresionisme terhadap batik tidak pernah berkurang, bahkan semakin bertambah semangatnya. Dan memberikan contoh pada generasi muda bahwa yang klasik sudah pasti lebih menarik.

Ramadan di Desa Batik Girilayu

Dan tidak terlepas dari berkah bulan Ramadan 2018, sebuah motif batik adalah keindahan tersendiri. Seperti bulan ramadan dimana kita harus bersabar selama satu bulan penuh untuk menuju Idul Fitri.

Begitu juga dengan batik tulis.

Membutuhkan waktu sekitar 1 bulan dari proses nyoret, nglowong nembok, medel, nglorod, mbironi, nyolet, sampai pada proses nyoga agar mendapatkan sebuah mahakarya batik yang benar-benar indah. membutuhkan kesabaran yang lebih, belum lagi ketika motif yang sangat rumit, atau pengulangan motif yang harus diperhatikan, sampai lekuk canting yang juga harus  memiliki nilai seni tersendiri. Dan lebih menjadi sebuah keunikan tersendiri ketika bulan ramadan mereka bisa membatik sembari mengajari anaknya mengaji.

Di samping itu para pemuda berusaha mencari inovasi dan improvisasi agar lebih memajukan budaya batik di Desa Girilayu, dari karnaval batik sampai berbagai pameran. Yang hanya satu misi, bertujuan memberikan support kepada batik, kepada wisata Indonesia untuk terus menjadi yang terbaik.

Dan.

Sebenarnya membatik itu sendiri sudah tradisi, dan tanpa perlu mencari keunikan mereka, mereka sendiri sudah unik. Dan, bersyukurlah ketika kita dilahirkan di bumi Indonesia, bumi dengan segala kekayaan alam dan budaya yang melimpah, dengan karakteristik yang berbeda-beda namun mampu tetap berusaha saling menghormati dan memiliki toleransi yang tinggi.

Kerika kita memasuki Gerbang Wisata Desa Batik Girilayu, gerbang tersebut hanya ingin menyampaikan bagaimana kearifan lokal, bagaimana pengabdian para pembatik di Desa Girilayu untuk Indonesia. Tanpa perlu meminta penghargaan ataupun penghormatan, hanya sebuah cita dan cinta untuk Indonesia yang lebih baik.

Sebagaimana Motif Sido Asih, semoga dalam Bulan Ramadan 1439 H dan Pesona Ramadan 2018 kita menjadi manusia dengan sifat welas asih dan sebuah pengharapan agar negara kita Indonesia mampu melewati segala macam cobaan dan mampu memberikan kemakmuran bagi masyarakatnya.

Untuk itu tetap dukung GenPi, Kementrian Pariwisata, dan Pesona Indonesia agar tetap memberikan yang terbaik kepada Indonesia, dan menambah daya tarik wisatawan baik asing maupun domestik agar lebih mencintai budaya dan kearifan lokal Indonesia yang beraneka ragam.

Terima Kasih Sudah Berkunjung dan Membaca, Selamat Menunaikan Ibadah Puasa.

“tidak perlu mencari keunikan, karena kita sendiri sudah tercipta dengan keunikan tersendiri”

Salam hangat dari Senja di Desa Batik Girilayu.

[Wisang Nugraha Ardyansa]

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *