Edisi Ramadhan : Melihat Betapa Indahnya Mushaf Al-Qur’an yang Dibatik di Kampung Batik Laweyan

Masih bersama Prajnaparamita Indonesian Batik, dan masih dalam Edisi Bulan Suci Ramadhan 1439 H. Dan selalu tetap batik tulis yang akan menjadi perhatian khusus. Dan kali ini kita akan melihat betapa indahnya mushaf Al-Qur’an yang di batik di Kampung Batik Laweyan. Tenang saja, batik ini tidak untuk dibuat pakaian atau busana, tetapi sebagai bentuk rasa syukur dan sebagai contoh bagi kita untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Sebelumnya, kalau belum tahu tentang Laweyan bisa kalian baca lagi di sini. Sebgai salah satu kampung batik, maka otomatis banyak pengrajin batik yang berkarya di daerah Laweyan, Solo. Kampung seluas 24 hektar ini sudah ada sejak 1540-an sebagai sentra industri lawe (benang bahan tenun) pada zaman Pajang, kerajaan Islam di Jawa setelah Demak. Di kampung ini juga ada salah satu masjid tertua yang didirikan oleh Ki Ageng Henis, moyang dari raja-raja dinasti Mataram Islam (Surakarta dan Yogyakarta).

Nah, kali ini yang keren adalah pembuatan batik Al-Qur’an. Pembuatan batik Alquran ini terinspirasi dengan gerakan membaca Alquran sambil menulis. Jadi biasanya menulis itu dibikin tipis lalu ditebali dan itu sama dengan proses membatik. Sehingga ini membaca sekaligus menulis, kalau bisa memahami dan menjalankannya.

Pembuatan mushaf batik semuanya dikerjakan secara manual, dimulai dengan pemotongan kain polos menjadi lembaran menyerupai halaman buku dan kemudian digambari pola batik pada bagian bingkainya dengan pensil. Bagian tengahnya diisi baris-baris ayat Al-Qur’an, menyalin secara persis dari kitab suci yang diperbesar ukurannya.

Setelah pembuatan pola dengan pensil, pembatik menebalkannya dengan menggunakan malam yang dididihkan. Proses ini paling rumit, karena pola yang dibuat oleh canting nanti akan menghasilkan tulisan akhir berwarna putih atau krem karena tidak tercelup selama proses pewarnaan. Malam berfungsi menutup rajutan benang pada kain dari penetrasi pewarna serat.

Selesai pembatikan, kain dicek secara bersama oleh penghapal Al-Qur’an dan pakar. Jika proses koreksi menemukan kesalahan, kekurangan, maupun kelebihan huruf atau harakat, maka akan dibetulkan sebelum distempel untuk proses akhir, yaitu pencelupan warna.

Proses selanjutnya adalah proses pencelupan warna, memang urutan proses membatik ini seperti membatik tulis pada umumnya. Setelah selesai maka nantinya akan disusun sesuai urutan Al-Qur’an yang diteliti dan di cek oleh para ahli.

Mushaf batik Al Quran tersebut rencananya akan dijilid setiap lima juz, sehingga total akan terdapat 6 jilid untuk 30 juz Al Quran. Mushaf batik Al Quran akan diberikan kepada Masjid Laweyan.

Menurut Alpha Febela Priyatmono, pemilik merek Batik Mahkota Laweyan sekaligus Ketua Umum Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan (FPKBL) di Solo, Jawa Tengah.

“Apapun jenis hurufnya, tidak mengubah sedikit pun isi dan arti Al Quran,”

Bagaimana? Inspiratif tto, keren blas, hihihi. Salut buat bapak Alpha yang memiliki ide yang keren ini semoga bisa menular ke generasi muda penerus batik indonesia. Semoga.

Terima Kasih Sudah Membaca dan Berkunjung

Salam Hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

 

Reference : myrepro.wordpress.com

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *