Edisi Ramadhan : Kebiasaan Berpuasa Sebelum Membatik, Keluhuran Tradisi Orang Jawa

Hayooo, masih kuat ngga ini puasanya atau sudah melihat fatamorgana kolak dan es sirup yang manis. Yang sabar dulu, karena tinggal beberapa jam lagi kita bisa menikmati buka puasa bersama keluarga atau orang yang kita sayang. Sebelumnya, kita bahas dulu tentang batik, adalah kebiasaan berpuasa sebelum membatik, keluhuran tradisi orang Jawa.

Ketika memikirkan untuk membuat batik, yang kita pikirkan hanya membuat motif kemudian membatiknya, lalu mencelupkan warnanya. Tetapi, ternyata dibalik itu semua ada rahasia yang seharusnya menjadi perhatian kita.

Kegiatan membatik pada zaman dahulu, terutama pada zaman Kerajaan, sebelumnya memiliki syarat yang sangat sulit. Apalagi ketika mencari inspirasi untuk membuat motif batik. sebagian besar orang Jawa pada zaman dahulu akan melakukan laku teteki, berpuasa, sampai bertapa untuk menemukan jati diri dan lebih dekat dengan Sang Pencipta.

Lebih dekat, dalam artian memiliki jiwa yang bersih, suci dan bertujuan untuk kembali mengingat bahwa segala sesuatu nantinya akan kembali kepada Yang Maha Kuasa. Ketika manusia sudah mencapai kesadaran tersebut, maka ketika batik dibuat, pasti akan penuh filosofi dan penuh makna yang mendalam.

Berpuasa sendiri bertujuan untuk mengendalikan hawa nafsu kita sebagai manusia, mengatur bagaimana kita menjadi pribadi yang lebih sabar dalam menghadapi kehidupan. Begitu juga ketika kita membatik, membutuhkan kesabaran yang luar biasa, sehingga apabila kita hanya asal-asalan dalam membatik, sudah dipastikan hasilnya tidak akan menjadi sebuah batik yang biasa saja.

Sebagai contoh, Ki Ageng Henis ketika melakukan buasa selama 40 hari ketika menemukan motif Udan Liris, atau laku tapa dan puasa Panembahan Senopati ketika menemukan Motif Parang, dan masih banyak para sesepuh kita yang memahami, bahwa kita hanya manusia biasa, hendaknya selalu ingat kepada segala ketetapan Yang Maha Kuasa.

Dari batik kita bisa belajar mengendalikan diri, mengendalikan hasrat akan dunia yang fatamorgana, terlebih karena sekarang segalanya dihargai oleh materi. Seperti berpuasa, yang nantinya dihasilkan adalah kesabaran dan kesucian dan ketentraman jiwa yang bisa kita dapatkan.

Batik sendiri juga bukan semata-mata sebuah karya seni biasa, di dalamnya penuh ajaran luhur dan berbagai ajaran kehidupan. Bukan hanya pada zaman dahulu, tetapi sampai zaman millenium sekarang, masih sangat relevan untuk diterapkan.

Jadi, kesimpulannya, bulan puasa menjadi sebuah sarana untuk kita lebih mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa, dan selain itu dengan jiwa yang bersih makan nantinya juga akan dihasilkan karya batik tulis yang sangat indah, indah dalam artian fisik maupun filosofi yang dibawa motif batik tersebut.

Sekian saja dulu, karena kami mau berangkat berburu takjil gratis, kita lanjutkan besok yang akan membahas tentang pembuatan Al-Qur’an yang dibatik.

Tetap support Batik Indonesia, terima kasih sudah berkunjung dan membaca.

Salam Hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *