Edisi Ramadhan : Pengaruh Islam dari Ki Ageng Henis di Kampung Batik Laweyan

Hai…hai..hai..Bulan ramadhan memang penuh dengan berkah dan ampunan. Masih dengan kami Prajnaparamita Indonesian Batik, masih dalam rangka bulan ramadhan, secara tidak langsung kita akan mencoba mencari segala hal tentang batik yang memiliki hubungan dengan Islam. Dan kali ini, datang dari salah satu kampung batik terkenal, Laweyan, siapa dan apa pengaruh Islam dari Ki Ageng Henis di Kampung Batik Laweyan?

Let’s Find out…

Nama Laweyan sudah sangat tidak asing bagi kita penggemar batik, salah satu kampung yang memiliki sejarah dinasti batik yang sangat luar biasa. Bahkan sebelum Kerajaan Mataram Islam berdiri di Jawa. Sebelum Panembahan Senopati mendirikan Kerajaan Mataram Islam, sudah dirintis lebih dahulu oleh Ki Ageng Pamanahan, Ki Juru Martani dan Ki Panjawi mereka bertiga dikenal dengan “Tiga Serangkai Mataram” atau istilah lainnya adalah “Three Musketeers from Mataram”.

Disamping itu banyak perintis lainnya yang dianggap berjasa besar terhadap terbentuknya Kesultanan Mataram seperti : Bondan Kejawan, Ki Ageng Wonosobo, Ki Ageng Getas Pandawa, Nyai Ageng Ngerang dan Ki Ageng Ngerang, Ki Ageng Made Pandan, Ki Ageng Saba, Ki Ageng Pakringan, Ki Ageng Sela, Ki Ageng Enis dan tokoh lainnya dari keturunanan masing-masing.

Mereka berperan sebagai leluhur Raja-raja Mataram yang mewarisi nama besar keluarga keturunan Brawijaya majapahit yang keturunannya menduduki tempat terhormat dimata masyarakat dengan menyandang nama Ki, Ki Gede, Ki Ageng’ Nyai Gede, Nyai Ageng yang memiliki arti : tokoh besar keagamaan dan pemerintahan yang dihormati yang memiliki kelebihan, kemampuan dan sifat-sifat kepemimpinan masyarakat.

Berkembangan sejarah masuknya Agama Islam di Surakarta, tidak dapat dipisahkan dengan sejarah Ki Ageng Henis. Mulanya Laweyan merupakan perkampungan masyarakat yang beragama Hindu Jawa. Ki Ageng Beluk, sahabat Ki Ageng Henis, adalah tokoh masyarakat Laweyan saat itu. Ia menganut agama Hindu, tetapi karena dakwah yang dilakukan oleh Ki Ageng Henis, Ki Ageng Beluk menjadi masuk Islam. Ki Ageng Beluk kemudian menyerahkan bangunan pura Hindu miliknya kepada Ki Ageng Henis untuk diubah menjadi Masjid Laweyan.

Dan sekaligus, membicarakan kampung Laweyan juga tidak akan terlepas dari kampung batik terkenal. Berbagai hasil karya batik nan indah juga dihasilkan disini, dari karya Ki dan Nyi Ageng Henis seperti Motif Udan Liris, Motif Sido Luhur masih menjadi salah satu motif yang terkenal bahkan sampai sekarang.

Batik sendiri diperkenalkan pertama kali oleh Ki Ageng Henis yang pada dasarnya menyukai kesenian, seperti ajaran gurunya, Sunan Kalijaga. Selain menyebarkan dakwah, Ki Henis mulai aktif mengajarkan bagaimana acara membuat batik. Jadilah Laweyan yang dulunya hanya memproduksi kain tenun, kemudian berubah menjadi produsen batik.

Awalnya, sejarah pembuatan batik secara keseluruhan mulai dari penciptaan ragam hias hingga pencelupan akhir, dikerjakan dan dibuat dalam keraton, karena pada dasarnya busana batik, hanya diperuntukkan oleh warga keraton juga sebagai keperluan ritual raja dan pengikutnya.

Motifnya pada awalnya berdasarkan atas perbedaan kasta, kelas dan golongan yang terdapat dalam keraton atau yang dikenakan oleh para penguasa tersebut. Pembuatan batik pada awalnya tidak mudah karena memang batik harus dikerjakan dengan pakem-pakem tertentu.

Kegiatan membatik ini tidak gampang tetapi memerlukan pemusatan pikiran, kebersihan jiwa, kesabaran, ketelitian juga ketelatenan. Oleh karenanya pekerjaan ini banyak dilakukan oleh puteri dilingkungan keraton. Ragam hias juga motif apalagi pewarnaannya tidak dikerjakan dengan asal-asalan namun mengandung nilai perlambang, pandangan hidup bahkan mantra sampai permohonan. Dengan demikian tidaklah mengherankan jika hasilnya merupakan perpaduan yang mengagumkan antara seni, adat, pandangan hidup dan kepribadian lingkungan yang melahirkan.

Tak dipungkiri lagi, seni batik yang begitu adiluhung itu tidak lagi tercukupi kebutuhannya jika dibuat oleh putri pada lingkungan keraton. Hal tersebut dikarenakan kebutuhannya semakin meningkat untuk berbagai keperluan busana adat, maupun ritual warga keraton.

 Untuk mengatasi hal tersebut, maka pembuatannya mau tidak mau harus dibantu oleh orang lain diluar tembok keraton, dengan cara para abdi dalem dan kerabat keraton yang bertempat tinggal diluar keraton bisa ditugaskan untuk mengajari orang luar keraton untuk membuat batik itu. Maka kesempatan emas yang bisa memungkinkan memperkenalkan seni batik diluar tembok keraton, tidak disia-siakan oleh beberapa kerabat dan abdi dalem yang tinggal diluar keraton.

Ki Ageng Henis, yang kala itu sebagai salah satu petinggi kerajaan dan pengikut Raja juga diharuskan menggunakan busana batik pada berbagai kesempatan, termasuk acara ritual kerajaan. Beliau dengan segera menangkap kesempatan emas itu sebagai hal yang bisa mengembangkan potensi berkeseniannya.

Untuk keperluan tersebut, ia mengerjakan batiknya dirumahnya di Laweyan sebagai tanah perdikannya. Pekerjaan batik yang sebelumnya dikerjakan pleh putra-putri dan abdi dalem dilingkungan keraton, dalam perkembangan selanjutnya seni batik kemudian diperkenalkan dan diajarkan kepada para santrinya yang berguru kepadanya.

Perkembangan batik dan islam seiring sejalan mulai mendapatkan perhatian dari berbagai daerah sehingga banyak memunculkan kampung batik yang lain yang juga berkembang mengikuti ajaran Islam yang dibawa para santri dan abdi dalem tersebut.

Sangat beruntung kita masih bisa menikmati berbagai hasil karya para seniman batik yang mewarisi kita dengan budaya batik yang adiluhung. Membuat batik menjadi sebuah jalan untuk menyebarkan agama Islam dan begitu juga sebaliknya, perkembangan Islam juga membantu batik berkembang dengan pesat di seluruh Nusantara.

Sekilas sejarah tersebut semoga menjadi motivasi untuk kita tetap melestarikan batik, dan menjadi inspirasi mengembangkan batik ke seluruh dunia.

Terima kasih sudah berkunjung dan membaca, Selamat menunaikan ibadah puasa,dan jangan lupa berbukalah dengan banyak rasa syukur.

Salam Hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

2 Comments

  1. Pingback: Edisi Ramadhan : Melihat Betapa Indahnya Mushaf Al-Qur’an yang Dibatik di Kampung Batik Laweyan - Indonesian Batik

  2. Pingback: Sentra Batik : Ki Henis di Kampung Batik Laweyan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *