Melati di Tapal Batas Langit Jingga Bumi Batik Desa Girilayu

Iringan lagu di sebuah radio tua, seperti suasana tahun 50-an, begitu klasik. Lagu Ismail Marzuki berjudul Melati di Tapal Batas, mendayu romantis di bawah langit jingga bumi batik Desa Girilayu. Seusia dengan renta kulit yang lusuh penuh rapuh.

Beliau masih membatik sore itu.

Cetak 1

Sejak gestok sudah membatik, sejak rayuan pulau kelapa bermain angklung di hati kecil beliau dengan hikmat. Menerobos bilik ruang segala rindu, mengalir dalam goresan canting, bernyanyi riang dalam hening.

Di saat senja masih menawarkan sejuta mimpi dan harapan agar Indonesia ini selalu dalam cita dan cinta damai. Berjalan sejajar dengan rambut memutih yang selalu menolak tua. Genggam jemari yang renta, gemetar melukis liris dengan lirik seribu lagu. Bertahan dengan segala kesederhanaan, bersyukur dengan segala yang dicukupkan.

Goresan batiknya bergetar karena tidak mampu menahan usia. Beliau masih membalas senyum kami dengan senyum yang paling cantik sore itu, seperti melati yang mekar penuh kasih sayang. Tutur kata yang lemah lembut membawa diam dalam jutaan lembar ketenangan.

Sorot mata yang tajam meskipun kaca mata menggantung di antara hidung beliau. Sungguh, jauh dari anggak dan angkuh manusia. Pandangan yang bersahaja mencoba merayu kami untuk mendekat. Tetapi kami masih tersesat dalam pekat asap gelap.

Batik itu bercerita bahwa beliau sudah renta, lengkungan motif terpaksa berderak berderai mengikuti detak nadi yang terus berjuang untuk mengisi sisa hari. Hanya titik-titik kecil menghibur beliau bersama monolog romantis.

Ah, begitu riang relung hati kami.

Sementara di luar sana banyak jiwa yang tidak bernyawa dan banyak nyawa yang tidak berharga. Beliau menyayangi apa yang dimiliki, karena tiada lagi air mata untuk ditangisi. Hanya ngilu di ujung jurang hati berharap Nusantara yang rindang, dengan kidung ilir-ilir kedamaian.

bbb

Sudah cukup rasanya beliau merasakan perang. Renta beliau menunggu dengan sendu sisa usia yang tiada pernah menentu. Diarak daun blarak mengering dan cucuk canting yang enggan untuk ditiup. Suatu saat nanti, ketika Nusantara damai, akan kami nyanyikan kidung Rayuan Pulau Kelapa.

Untuk senja jingga kedamaian yang penuh warna sogan kekuningan, dalam gita cinta romantisme bumi pertiwi. Lantunan doa untuk Indonesia tercinta, di tapal batas bumi batik Desa Girilayu.

Sssst…

Diamlah, jangan berisik, beliau sedang membatik.

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *