Melestarikan Budaya Menghormati dengan Bahasa Kromo Inggil Yang Terancam Punah

Sugeng siang poro pamirsa ingkang satuhu dahat kinurmatan, sugeng pitepangan kalih kawulo alit Prajnaparamita Indonesian Batik. Satu kalimat sudah membuat bingung ya? Bagaimana kalau seluruh artikel kita jadikan bahasa Jawa Krama Inggil yang sekarang sudah jarang kita temukan. Jadi, kita akan sejenak melestarikan budaya menghormati dengan bahasa kromo inggil, dan mengungkap apa sebenarnya filosofi didalamnya.

Seperti yang kita tahu, Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan dan bahasa resmi di negara kita, dan kita juga harus tetap menggunakannya sebagai bahasa resmi.

Namun disamping itu, karena banyaknya suku dan budaya dan beragam, bahasa daerah juga merupakan kekayaan yang khas dari Bangsa Indonesia. Dan kita akan mengambil sebuah contoh yang banyak kita temukan, Bahasa jawa, lebih khususnya lagi, Kromo Inggil.

Ada makna yang sangat mendalam, dan sebuah pelajaran mengenai bagaimana kita menjalani sebuah filosofi kehidupan dalam Kromo Inggil.

Kromo Inggil atau kromo alus adalah salah satu tingkatan dalam bahasa Jawa kepada orang yang lebih tua atau lebih dihormati. Sehingga cenderung merendahkan posisi diri dan memberikan penghormatan secara tidak langsung lewat gaya bahasa kromo inggil.

Tetapi kita tidak akan membahas tentang cara penggunaan atau teknik berbahasa Kromo Inggil, di google sudah banyak. Kita akan lebih membahas tentang filosofi menghormati orang lain dengan bahasa Jawa Kromo Inggil dalam kehidupan.

Kalian bisa melihat di zaman sekarang, betapa menghormati orang lain adalah sebuah hal yang langka. Dan sebagian besar “menghormati” hanya untuk tujuan tertentu, seperti jabatan dan harta kekayaan. Tidak usah yang jauh, generasi muda yang tidak memiliki rasa hormat sedikitpun bahkan kepada orang tuanya.

Lalu apa hubungannya dengan Kromo Inggil?

Dalam kehidupan budaya Jawa, terutama di pedalaman, penggunaan bahasa Kromo alus ini kepada orang tua atau kepada orang yang kita hormati secara otomatis akan memberikan sebuah image bahwa kita sangat menghormati orang yang kita ajak bicara dengan bahasa kromo tersebut.

Sayangnya, ketika dari bahasa saja kita sudah tidak mampu menunjukkan rasa hormat kepada orang yang lebih tua, maka bisa kita ambil kesimpulan, banyak orang jawa yang kehilangan tata krama, dan lebih parahnya lagi, tidak bisa menghormati orang lain pada umumnya dan orang yang lebih tua khususnya.

Iya, baiklah, Bahasa Indonesia adalah bahasa kita.

Tidak masalah menggunakan bahasa Indonesia, bahasa Jawa ngoko, atau bahasa gaul. Tetapi yang sekali lagi kita coba sampaikan adalah sebuah filosofi bagaimana menghormati orang lain. Kalau kalian dengan bahasa Indonesia bisa lebih menghormati orang lain, itu bahkan lebih baik.

Nah.

Kromo alus ini hanyalah sebuah contoh yang telah dibawa puluhan bahkan ratusan tahun mengajarkan kepada kita untuk menghormati orang yang lebih tua. Dengan harapan kita bisa mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Contoh

“Kakung, kowe wis mangan durung??”

“Kakung, jenengan sampun dhahar dereng?”

Kalian bisa mempraktekkannya kepada eyang kalian, diantara kedua kalimat diatas, mana yang kalian akan dilempar piring dan mana yang kalian akan disuapin.

Ada perbedaan yang secara langsung kita bisa rasakan ketika kita mencoba menggunakan kromo alus kepada orang yang lebih tua. Dan kerennya, mereka akan lebih menghormati dan menghargai kita tanpa perlu kita meminta semua itu.

Fine, ketika kita bicara dengan orang yang seumuran dengan kita, tetapi untuk orang tua, ada naluri untuk kita harus lebih menghormati mereka, baik secara bahasa maupun tingkah laku dan tindak tanduk. Karena itu akan mencerminkan kita sebagai orang yang tahu diri dan bukan menjadi orang sombong.

Dan sayangnya, ketika bahasa kromo alus punah, maka yang kami takutkan adalah kita juga akan mengalami kepunahan rasa menghormati dan empati kepada orang lain. Kita terlalu egois kepada kehidupan yang fana penuh fatamorgana kesombongan diri kita sendiri.

Semoga saja kita bisa tetap saling menghormati dalam berbagai ragam perbedaan yang kita miliki. Tidak menggunakan kromo inggil tidak masalah, asal kita mampu tetap menunjukkan rasa hormat kita kepada orang lain dengan sepenuh hati.

Semoga bisa menjadi inspirasi dan pelajaran berharga bagaimana sebuah kalimat bahasa kromo alus bisa membawa kita menjadi pribadi yang lebih baik dalam kehidupan ini.

Terima Kasih Sudah Berkunjung dan Membaca

Salam Hangat, Indonesian batik

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *