Indahnya Ornamen Lukisan Batik Kumudawati di Pura Mangkunegaran

Selamat malam para omnivora, sudah makan apa saja kalian hari ini? Hari senin yang panjang dan melelahkan kelihatannya. Biar tambah capek kita mau jalan-jalan ke Keraton Mangkunegaran, untuk melihat makna ornamen lukisan batik kumudawati. Berkali-kali kesana rasanya selalu terlewat.

Kali ini kita akan memahas ornamen fisiknya saja dulu, karena panjang sekali kalau diuraikan satu per satu.

Kalian pernah berkunjung ke Keraton Mangkunegaran?

Ughhh, keren abis. Selain banyak sejarah yang kita dapatkan sejak zaman Raja Mangkunegara I atau Raden mas Said, kita juga bisa melihat ornamen-ornamen budaya Jawa yang masih dsangat dipertahankan oleh Keraton Mangkunegaran ini.

Pendhapa Ageng Mangkunegaran dibangun dengan sistem konstruksi terpadu, yaitu gabungan antara konstruksi tradisional dan modern. Konstruksi tradisional ditunjukkan melalui bentuk bangunan joglo, yang susunannya dari atas ke bawah terdiri atas bagian brunjung, pananggap, panitih, dan paningrat, yang menggambarkan keagungan arsitektur tradisional. Konstruksi modern diwakili oleh sistem kerangka logam pada kuncungan atau bangsal tosan dan emper.

Aduh susah semua kan kosakatanya. Hahaha. Kita menuju ke tata letak ornamen kumudawati ini deh.

Empat buah tiang utama atau saka guru menyangga bagian utama joglo, kokoh berdiri karena berasal dari balok-balok kayu jati berukuran besar dan mempunyai bidang lebar berukuran 0,40 m. Keempat ujung atasnya  dipersatukan dengan balok datar sehingga membentuk bidang segi empat langit-langit atau singup.

Pada tahun 1937 Mangkunegara VII memberi ornamen bermotif simbolis magis dan religius bernilai filosofis pada singup tersebut.

Ornamen tersebut diberi nama Kumudawati, yang sarat dengan kedalaman makna dan ajaran filsafat Jawa. Ajaran filsafat Jawa itu diaplikasikan pada ornamen Kumudawati pada singup Pendhapa Ageng tersebut, dibuat agar orang-orang tidak hanya menjadikannya sebagai tontonan, tapi juga tatanan dan tuntunan sebagai orang Jawa.

Tepat di tengah pendopo ageng tersebut kita bisa melihat 8 kotak lukisan batik dengan warna yang berbeda. Itulah lukisan batik Kumudawati.

Sedikit kita ungkap makna dari warnanya saja dulu ya. Kuning bermakna mencegah rasa kantuk, biru mencegah datangnya musibah, hitam mencegah rasa lapar, hijau mencegah frustasi atau stress, putih mencegah pikiran kotor atau negatif, orange mencegah ketakutan, merah mencegah kejahatan dan ungu mencegah pikiran jahat.

Kata kumuda berarti bunga-bunga teratai putih, sedangkan wati memiliki arti jagad; rahsa, juga cahaya atau sinar. Menurut arti kata Kumudawati tersebut, telah nampak sebuah makna tersirat yang ingin disampaikan. Terlebih, motif hias yang menyusun ornamen Kumudawati ini. Di dalam agama Hindu, bunga teratai merupakan lambang kesucian, dan dianggap sebagai tempat lahir dewa. Ada pula yang mengatakan bahwa kelopak kumuda yang berjumlah delapan, menandakan delapan dewa penguasa penjuru mata angin. Warna putih teratai juga muncul sebagai background warna ornamen Kumudawati. Sedangkan wati yang berarti jagad; rahsa, juga cahaya atau sinar.

 Mengungkapkan bahwa Kumudawati memiliki makna sebagai dunia para dewa, atau cara pendekatan diri melalui rahsa kepada Tuhan, ataupun cahaya ketuhanan yang menyingkap ajaran ketuhanan dalam sebuah ornamen. Melalui ajaran yang terdapat dalam ornamen Kumudawati, manusia Jawa diajarkan bagaimana cara mendekatkan diri kepada Tuhan dalam menjalani hidup di dunia, agar manusia selalu mendapatkan cahaya ilahi (hidayah) sehingga selalu dalam keadaan yang ”suci”.

Pembuatan ornamen kumudawati terinspirasi dari gambar kemudawati wayang beber Pacitan yang berasal dari klika wiwitan (kertas gedhong atau kertas Ponorogo) yang sering digunakan untuk keperluan kolonial di Paris. Inspirasi itu muncul pada tahun 1910.

Namun, ide membuat motif tersebut di Pendhapa Ageng baru terwujud pada tahun 1937 atas inisiatif Mangkunegara VII. Setelah melihat gambar kemudawati tersebut, KGPAA Mangkunegara VII menugaskan kepada abdi dalem kraton Surakarta bernama Widasupama, yang setelah menjadi lurah kraton bernama Raden Ngabei Atmasupama.

Untuk melakukan tedhak sungging wayang beber Pacitan yang kemudian disimpan di musium Sana Pusaka. Kemudawati yang terlukis pada sungging klika wiwitan ukuran 25 x 30 cm tersebut, diperkirakan peninggalan zaman Mataram. Lukisan kumudawati yang semula dibuat di atas daluwang Jawa itu kemudian dibuat duplikatnya (ditedhak) di atas kain putih.

Gambar ini kemudian diperbesar lagi dan dilukiskan pada langit-langit pendhapa. Proses teknisnya dilakukan oleh Liem Tho Hien, sedangkan yang melukiskan (ingkang nedhak sungging) tetap Raden Ngabei Atmasupama Kumudawati pada singup atau uleng pendapa joglo, di bagian tengah terdiri delapan bidang persegi; empat bidang persegi dipisahkan oleh sebuah balok kayu melintang (dhadha peksi.

Kelihatannya seperti itu saja dulu perkenalan kepada indahnya motif batik dalam lukisan ornamen Kumudawati di Keraton Mangkunegaran.

Serius, ini artikel yang berat untuk dibahas, jadi kita bahas sedikit demi sedikit. semoga kalian tidak bosan dengan pembahasan seri berikutnya, dan tetap setia bersama kami untuk mendapatkan info yang lebih banyak mengenai batik Indonesia.

Terima Kasih Sudah Berkunjung dan Membaca

Salam hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

referensi : disini

IMG : Google Images

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *