Batik Motif Kembang Bangah, Ekspresi Kekecewaan K.P.A Hardjonagoro dalam Sebuah Motif Batik

Hari ini adalah hari yang berbahagia sepertinya, cuaca juga tidak terlalu menyengat dan sejuk, disini loh, di galeri kami Prajnaparamita Indonesian Batik. Kami berusaha konsisten untuk berbagi pengetahuan mengenai batik yang mungkin kalian belum tahu, bahkan kami juga baru tahu. Kita mau membahas Go Tik Swan atau K.P.A Hardjonagoro, salah satu hasil karyanya adalah Batik Motif Kembang Bangah, nah kan sama kami juga baru tahu.

Intro singkatnya, K.P.A. Hardjonagoro yang memiliki nama kecil Hardjono Go Tik Swan, dilahirkan di tengah-tengah keluarga keturunan etnis Cina yang kesehariannya dekat dengan dunia batik. Ibunya yang bernama Nyonya Go Dhiam Ik merupakan keturunan dari seorang pengusaha batik kaya raya yang bernama Tjan Khay Sing.

Nah beliau adalah salah satu desainer batik yang sangat dekat dengan Bapak Presiden Soekarno. Berbagai karya telah dihasilkan oleh beliau, yang menarik, motif milik K.P.A. Hardjonagoro adalah kombinasi dari batik pedalaman dan batik pesisir. Jadi penuh dengan khasanah budaya. Keren.

Setelah kalian tahu, mari kita explore salah satu karyanya Batik Motif Kembang Bangah. Dari namanya saja sudah terlihat ini bukan batik biasa, maksudnya ada makna dan filosofi dibalik motif batik ini. Dan benar saja, ada cerita yang ingin beliau sampaikan lewat batik ini.

Ornamen motif Kembang Bangah merupakan perwujudan dari ekspresi rasa kecewa, bentuk protes, tolak bala dan permohonan keselamatan, yang kemudian disusun oleh K.P.A. Hardjonagoro menjadi sehelai kain batik. Beliau merasa kecewa karena budaya (khususnya batik) tidak lagi dihargai sebagai warisan budaya, melainkan hanya sebagai aset bisnis yang menguntungkan.

Bentuk protes terhadap kemunduran penilaian masyarakat terhadap budaya, yang diwujudkan Hardjonagoro melalui batik motif Kembang Bangah adalah sama seperti protes Ronggowarsito yang kecewa dengan raja dan lingkungan, yang kemudian diekspresikan melalui tulisannya yang berjudul Kala Tida. Sama juga dengan kekecewaan Gesang dalam syair keroncong karyanya yang berjudul Caping Gunung.

Sekarang kita melihat ke dalam fisik batik motif Kembang Bangah tersebut

Beliau banyak memadukan ornamen atau ragam hias batik pola lama dari wilayah pedalaman, terutama batik daerah Solo-Yogya yang banyak dikombinasi dengan pola dan warna batik pesisiran, sehingga batik yang dihasilkan masih menggunakan pola-pola batik lama namun warnanya cenderung mengarah kepada warna batik pesisir yang cerah dan beraneka ragam.

Selain itu, ciri khas dari batik Indonesia karya K.P.A. Hardjonagoro adalah batik dengan nilai simbolis dan filosofis yang tinggi, seperti batik Pisang Bali yang dibuat sangat halus dengan latar warna merah muda, polanya melambangkan kehormatan, derajat dan pangkat, yang terus diulang-ulang dan bersifat abadi.

Warna latar dan ornamen motif batik yang beliau hasilkan terkadang berbeda satu dengan lainnya, seperti batik Pisan Bali dapat berlatar merah muda maupun cokelat soga tergantung untuk siapa batik itu dibuat. Hal ini dikarenakan setiap warna memiliki makna filosofis sendiri-sendiri.

Dilihat dari ragam hias motif maupun pola yang dihasilkan, K.P.A. Hardjonagoro memiliki ketepatan dalam penggunaan prinsip maupun unsur desain. Batik yang beliau hasilkan pun terkenal sangat halus dan bermutu tinggi. Rata-rata peminat batiknya terbatas pada kolektor-kolektor batik maupun pencinta batik dari kalangan atas.

Selain keindahan yang ingin disampaikan oleh K.P.A. Hardjonagoro, beliau juga ingin menyampaikan bahwa batik bukan hanya sebuah bisnis, batik merupakan seni budaya. Apabila kita hanya menggiring idealisme kita hanya kepada keuntungan materi semata, maka kekuatan ekspresi batik itu sendiri juga akan memudar.

Karena memang faktanya, sekarang hanya keuntungan materi yang dicari, tetapi keindahan dan filosofi batik yang menjadikan batik memiliki harga yang mahal. Dengan tanpa melupakan makna batik itu sendiri diharapkan menjadi kebudayaan Indonesia yang tidak ternilai harganya.

Sekian dulu, sebenarnya masih panjang sekali kalau dibahas, lain waktu saja kita sambung lagi. Jangan lupa bersyukur dan tetap keren dengan berbatik.

Terima Kasih Sudah Berkunjung dan Membaca

Salam hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

One Comment

  1. Pingback: Batik Solo : Batik Motif Kembang Bangah, Kecewa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *