Perlu Tahu, Tiga Komposisi Penting yang Terdapat dalam Motif Batik Indonesia

Hello kalian yang sedang berburu pengetahuan mengenai batik Indonesia, dari ratusan artikel ternyata memang masih banyak sekali yang perlu dibahas lebih detail, terutama motif batik. Untuk itu kali ini kita akan membahas tiga komposisi penting yang terdapat dalam motif batik Indonesia, terutama batik klasik.

Dari pertama, menentukan jenis motif adalah sebuah kesulitan tersendiri memang, apalagi yang benar-benar masih awam. Kami saja yang setiap hari berada di depan buku batik masih terkadang bingung mana yang Sido Mukti, Sido Luhur, atau Sido Asih.

Nah, kali ini berhubungan dengan motif itu, kita bahas tiga komposisi penting yang menjadi dasar dalam sebuah motif batik. biar kalian juga tahu dan bisa menjelaskan apa sebenarnya filosofi yang terkandung dalam sebuah batik.

Langsung menuju yang pertama.

Motif Baku

Motif baku adalah pakem utama sebuah motif batik, yang mungkin sudah ada sejak zaman Kerajaan Mataram dahulu. Motif baku dalam peristilahan batik disebut pola baku, dapat juga disebut motif utama pada kain batik. Sebagai contoh, motif baku yang terdapat dalam batik semen rama. Ada 9 bentuk motif baku, yaitu meru, modang, baita, dampar, lar, burung, pusaka, binatang dan pohon hayat.

Setiap motif baku tersebut memiliki makna perlambangan kekuatan, peristiwa dan kejadian yang membuat motif tersebut mamu memiliki makna yang penting bagi sang pemakai. Beberapa dari motif baku sudah kita bahas di artikel yang lain.

Pola baku menjadi intisari sebuah batik tulis yang nantinya akan diperindah dengan unsur atau komposisi motif selanjutnya.

Motif Pelengkap atau Anggitan

Anggitan atau motif pelengkap sering pula disebut motif tambahan, dipakai untuk mengisi ruang kosong di antara motif baku, dan tidak memiliki arti perlambangan seperti halnya motif baku. Selain mengisi ruang yang kosong, tambahan motif ini juga bertugas untuk memperindah hasil karya sebuah batik tulis.

Batik akan memiliki banyak ruang yang kosong apabila tidak memiliki motif tambahan, dan cenderung terlihat sebagai kain biasa, berbeda dengan berbgai motif tambahan. Anggitan ini biasanya berpola daun, bunga atau berbagai hiasan tambahan lainnya. Motif tambahan ini biasanya dipadukan dengan komposisi yang ketiga, isen-isen.

Motif Isen-Isen

Isen, adalah motif atau komposisi penghias sebuah motif, motif anggitan ketika diberikan isen akan terlihat lebih dinamis dan menarik. Isen ialah unsur penghias pada motif baku dan anggitan.

Isen-isen tersebut berupa titik-titik, garis-garis, maupun gabungan yang sering disebut isen motif batik. untuk batik klasik masih banyak kita temukan pola isen tersebut. Dan dari berbagai batik ada beberapa jenis isen yang kita temukan yaitu

Cecek-cecek (titik-titik), Cecek-pitu (titik-tujuh), Sisik-melik (sisik-bertitik), Cecek-sawut (garis-garis dan titik-titik), Cecek sawut daun (garis-garis menjari dan titik-titik), Herangan (gambar pecahan yang berserakan), sisik (gambaran sisik), Gringsing (penutupan), sawut (bunga berjalur), galaran (seperti galar), rambutan atau rawan (seperti rambut atau rawa), sirapan (gambaran atap dari sirap), cacah gori (seperi gori yang dicacah).

Penerapan isen tergantung dari kreatifitas dan keahlian seorang pembatik yang harus memilikivariasi dan komposisi yang benar ketika dipadukan dengan motif baku atau motif tambahan. Pembatik sebagian besar sudah mengetahui tentang ketiga komposisi motif tersebut.

Tuh kan, masih banyak yang bisa kita bahas dari sebuah motif batik, hari ini kita cukupkan sekian saja dulu. Biar tidak terlalu bingung karena banyak yang dibahas.

Terima Kasih Sudah Berkunjung dan Membaca

Salam hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *