Mengenal Motif Batik Cuwiri yang Bertugas Menyambut Sebuah Kelahiran

Tidak terasa liburan akhir pekan sudah kembali datang untuk memberikan kita kesempatan beristirahat sejenak menikmati istirahat dari jenuhnya pekerjaan. Selamat datang di negeri dimana kita dilahirkan di negeri kita tercinta Indonesia. Dan kali ini kita akan membahas tentang motif  batik yang bertugas menyambut sebuah kelahiran. Let’s go kita mengenal Motif Batik Cuwiri.

Dalam adat Jawa terutama, kita juga pernah mendengar tradisi “mitoni” atau “tingkeban”. Sebuah acara sakral namun tetap dalam suasana berbahagia menyambut kelahiran seorang bayi. Dalam tradisi Jawa, tidak ada yang tidak memiliki makna dan filosofi, bahkan dari alat dan penggunaannya juga memiliki filosofi dan makna yang berbeda.

Bagi sebagian besar orang motif batik Cuwiri hanya salah satu motif batik diantara ratusan bahkan ribuan motif yang telah diciptakan. Sebagai salah satu motif batik klasik, motif cuwiri mirip dengan motif semenan, namun filosofinya berbeda.

Seorang bayi baik yang masih di dalam kandungan ataupun sudah dilahirkan ke dunia pasti diharapkan oleh kedua orang tua menjadi anak yang berbakti dan menjadi seorang yang seperti diharapkan kedua orang tua.

Begitu juga motif batik cuwiri, diharapkan ketika sang ibu memakai batik dengan motif cuwiri maka anaknya nanti akan mendapatkankan derajat yang seperti diharapkan oleh kedua orang tuanya. Selain itu, batik motif cuwiri juga digunakan untuk menggendong bayi, dengan harapan sang bayi akan lebih nyaman dalam gendongan ibunya.

Batik ini juga digunakan untuk semekan dan kemben. Cuwiri artinya kecil-kecil, diharapkan pemakainya terlihat pantas, harmonis dan dihormati oleh masyarakat. Sejak kecil, manusia di Jawa sudah memiliki banyak aturan sesuai dengan falsafah hidupnya dengan tujuan mendapatkan kemakmuran dan kebaikan.

Berbagai filosofi kehidupan orang Jawa masih bisa dan masih relevan untuk kita terapkan dalam kehidupan modern. Karena dari kebudayaan Jawa juga yang melahirkan mudaya modern yang memiliki karakter ketimuran.

Dalam motif batik cuwiri, terdapat motif yang mirip dengan babon angrem yang melambangkan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Lalu ada juga motif meru atau gunung yang memberikan harapan anak tersebut akan memiliki kehidupan yang tinggi, yang baik dan bermartabat. Ditambah lagi dengan motif sayap yang melambangkan bahwa semoga kelak cita-cita anak tersebut menjadi setinggi langit dan berhasil terbang melewatinya.

Diantara motif tersebut berisi isen-isen atau hiasan yang juga memiliki arti tersendiri. Karena isen-isen ini tergantung para pembatik ingin memberikan harapan apa kepada sang pemakai batik maka mungkin memiliki arti yang berbeda-beda.

Tahukah Kalian?

Di sebuah desa, yang bernama Desa Batik Girilayu, terdapat seorang maestro batik Cuwiri yang berusia lebih dari 90 tahun, dan masih eksis membatik motif Cuwiri, tanpa pola.

Sebuah pengharapan kepada calon generasi muda, dan sebuah inspirasi bahwa nantinya akan ada yang menggantikan kehidupan kita, melanjutkan episode cerita kita untuk dijadikan sebuah kisah yang mampu membuat orang lain merasa perlu lebih menghargai sebuah kehidupan.

Hargailah setiap nafas kehidupan karena berapapun harta tidak akan mampu menebusnya.

Terima kasih sudah berkunjung dan membaca, kalian juga bisa mengkakses informasi kami di aplikasi baca berita yang lengkap yaitu BaBe. Download di playstore dan keep in touch dengan kita.

Salam Hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *