Sekilas Perbedaan Singkat Batik Klasik dengan Batik Kontemporer

Halo semuanya, kembali lagi kita Prajnaparamita Indonesian Batik, yang memiliki markas di dekat Astana Mangadeg dan Giribangun, Di Desa Batik Girilayu. Dan ternyata hujan deras mengguyur rencana kami untuk jalan-jalan ke tempat para pembatik. Jadi sementara kita bahas dulu perbedaan singkat batik klasik dengan batik kontemporer versi Prajnaparamita.

Sebelumnya, mungkin beberapa dari kalian adalah kolektor batik, atau punya koleksi batik entah itu warisan keluarga atau membeli dari produsen batik. Kita mulai dari yang paling mudah dulu.

Perbedaan Warna

Pada batik klasik, penggunaan warna alam sudah menjadi suatu keunikan tersendiri karena butuh banyak sekali bahan alam untuk membuat satu warna bati. Seperti Yogyakarta dengan motif semen klasiknya, atau motif keluarga Sido yang menggunakan sogan Jawa.

Dibanding dengan batik kontemporer yang menggunakan pewarna kimia, warna batik klasik tidak mencolok, sedangkan warna kontemporer yang dimiliki batik kreasi sekarang lebih memiliki variasi warna yang beranekaragam. Mulai dari warna cerah sampai warna klasik yang dibuat kembali.

Dominasi warna batik klasik biasanya mengusung 2 sampai 3 warna, kecuali batik pesisiran yang memang memiliki ragam warna yang sejak dulu sudah sangat indah. Batik pedalaman khususnya memiliki warna yang kalem dan tidak mencolok.

Perbedaan motif

Tentu saja motif yang dibuat memiliki variasi yang sangat beragam. Namun, pakem batik klasik mengikuti pendahulunya, tidak banyak pengembangan motif, misalnya ketika motif batik sidomukti klasik, belum terdapat variasi yang keluar dari pakem, misalnya ditambahkan dengan motif bunga.

Sedangkan batik kontemporer, baik kreasi warna maupun motif sama-sama memiliki perkembangan yang pesat, dengan didukung kreasi para pemuda dan berbagai pembuatan motif baru. Meskipun kadang menggunakan motif batik klasik, tetapi pasti memiliki sebuah pengembangan motif yang kita pasti mengenalinya dengan mudah.

Penggunaan Kain Batik

Batik klasik seperti yang kita bahas dalam artikel yang lalu, penggunaannya sebagai nyamping atau jarit untuk acara resmi, dan tetap mempertahankan ukuran aslinya sekitar 2,5m x 1,1 m. penggunaannya bisa diwiru atau bisa juga digunakan untuk kemben.

Sedangkan penggunaan pada batik kontemporer lebih ke model pakaian dan busana modern. Dengan variasi yang begitu banyak seperti gamis, dress, sampai pakaian model terbatru yang menggunakan motif batik.

Walaupun terkadang kita menemukan batik klasik yang juga dibuat untuk pakaian, namun batik klasik itu memiliki penggunaan lebih kepada acara pernikahan atau acara resmi lainnya.

Detail Motif

Seperti yang kita bandingkan di galeri kami. Batik klasik lebih memiliki tekstur dan teknik geometris yang sangat teliti, dan apabila dilihat secara lebar, motif tersebut akan terlihat luwes dan sangat rapi. Seperti motif udan liris atau motif babon angrem yang terkadang sulit sekali untuk membuat motif itu memiliki kesan simetris dan mirip.

Pada motif batik kontemporer, meskipun variasi dari motif memang banyak, tetapi jarang kita temukan motif yang memiliki pakem geometris, cenderung imajinatif dan abstrak. Seperti motif batik bunga atau motif kreasi baru yang lain.

Menurut kami, batik kontemporer mulai kehilangan sentuhan pada batik itu sendiri, karena target batik kontemporer faktanya lebih ingin cepat laku dijual daripada batik klasik yang sangat sulit untuk dipasarkan karena mungkin bingung dan eman-eman untuk digunakan sebagai apa.

Sepertinya itu saja dulu untuk melengkapi hari ini yang hujan deras dan gelap gulita, sebelum mati listrik, kalian bisa berkunjung ke galeri kami untuk sekedar ngopi atau mau belajar membatik, welome, selamat datang kami ucapkan.

Terima Kasih Sudah Berkunjung dan Membaca

Salam hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *