Explore Desa Batik Girilayu, Melestarikan Warisan Membatik dari Tahun 1960

Hujan rintik mengucapkan salam hangat selamat sore, dari kami Prajnaparamita Indonesian Batik. Semoga kalian selalu diberikan kesehatan dan keberkahan setiap harinya. Masih lagi dan lagi kita akan Explore Desa Batik Girilayu dan segala kehidupan membatik di dalamnya. Kalau kalian ingin berkunjung, alamat ada di contact us. Dengan senang hati kami akan menunggu kalian datang.

Kalian pasti ingat ketika kita membahas Suro Pawiro, nah ini yang nantinya kita bahas rumahnya ada tepat di kulon rumahnya Mbah Suro. Sebenarnya nama tempatnya adalah Sebendo, ketika kalian menuju Tawangmangu melewati jalur Astana Giribangun, kalian akan melewati kami Prajnaparamita dan daerah Sebendo.

Disitu kita akan berkenalan dengan Ibu Sri Wiyati. Entah itu sudah nama Sri yang ke berapa di Desa Girilayu, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia, Planet Bumi. Tetapi kami lebih mengenalnya dengan Sebendo.

b

Tadi siang kami menganggu waktu beliau membatik, untuk mendapatkan sebuah cerita tentang batik yang beliau buat dan beliau miliki. Ibu Sri Wiyati ini juga membatik, seperti warisan sang Ibu yang merupakan teman seangkatan Mbah Suro yang bernama Mbah Warno. Selain itu anak perempuannya juga terkadang membuat motif batik di rumah.

Dan kami mendapatkan hal yang unik, warisan berupa motif batik yang digambarkan dalam sebuah kertas minyak. Di dalam lembaran motif itu kami melihat tahun pembuatan yaitu 1982. Cukup tua untuk ukuran sebuah motif batik. menariknya lagi, Ibu Sri masih menyimpan pola dan motif itu sampai sekarang. Keren.

Meskipun begitu, nampaknya kekurangan modal dan sulitnya memasarkan batik membuat beliau hanya menjadi buruh membatik saja. Ditambah lagi waktu untuk kegiatan yang lain membuat beliau terkadang terpaksa meninggalkan batiknya.

Namun.

Pengabdian beliau terhadap dunia batik tidak main-main. Beliau mengikuti berbagai seminar dan program pelatihan tentang batik yang diadakan beberapa kali di Desa Girilayu. Selain itu dari pelatihan tersebut beliau juga mendapatkan sertifikat atas pelatihan membatik yang diikuti.

Akan tetapi.

Sertifikat itu juga masih bukan menjadi sebuah alat atau media yang membantu secara langsung kehidupan beliau. Pekerjaan buruh membatik dengan bayaran yang tidak lebih dari 100 ribu rupiah yang beliau dapatkan.

a

Mungkin saja memang harga batik sedang menurun atau pasar yang belum jelas membuat harga batik yang belum diwarna menjadi sangat murah. Ditambah lagi batik tersebut sudah melewati beberapa pemberhentian sebelum sampai kepada Ibu Sri sebagai pembatik.

Hasil itu tentu belum cukup untuk membuat beliau menjadi bersemangat dalam membatik. Pengabdian untuk tetap membatik sebagai warisan leluhur yang tidak ingin dilepaskan begitu saja oleh beliau. Karena warisan itu bukan hanya harta dan benda tetapi warisan pengabdian cinta terhadap batik yang membuat beliau tetap melanjutkan berkarya.

Buktinya, beliau masih menyimpan peninggalan Mbah Warno yang lain yaitu motif semen dalam koleksinya. Meskipun warnanya sudah mulai memudar dan beberapa kali dimakan rayap, batik tersebut memiliki pola yang sangat luwes dan sangat detail.

Kami pun juga masih terus berpikir dan berusaha bagaimana agar para pembatik seperti Ibu Sri mendapatkan harga dari kerja kerasnya. Tentu saja tidak perlu naif karena kita semua membutuhkan materi dari hasil batik yang kita kerjakan.

Kami pun tahu pemerintah juga berulang kali memberikan bantuan modal kepada para pembatik, tetapi sekali lagi, bahkan Ibu Sri merasa tidak pernah mendapatkan bantuan yang nyata dari yang mungkin pemerintah sudah berikan kepada masyarakat.

Entahlah, kami pun tidak mengerti. Intinya kami mencoba secara mandiri untuk memberikan sedikit bantuan kepada para pembatik agar setiap karya yang beliau kerjakan mendapatkan harga dari hasil kerja kerasnya. Mungkin hanya sebatas pemasaran dan sebuah cerita bahwa dibalik batik tulis yang mahal dan mewah itu, dari tangan para pembatik lah mereka berasal.

Dan dari pengabdian Ibu Sri, beliau tidak pernah meminta lebih karena beliau tahu, Tuhan Maha Tahu dan tidak akan pernah salah alamat dalam memberikan rezeki kepada umatnya

Semoga sedikit cerita ini mampu menjadi inspirasi bahwa mungkin setiap pengabdian yang kita berikan, kadang membutuhkan penghargaan, bukan hanya dalam bentuk materi, tetapi sebuah support dan dukungan agar batik semakin berjaya dengan para pembatiknya.

d

Satu kutipan singkat dari beliau

“mewarisi keahlian membatik adalah sebuah perwujudan cinta yang tak berkata”

Mungkin dari kami hanya seperti itu, mungkin banyak kekurangan dan kesalahan dari kami, dengan segala kerendahan hati, kami memohon maaf.

Tetap dukung batik Indonesia agar menjadi sebuah cerita indah yang akan kita wariskan kepada generasi kita selanjutnya.

Terima Kasih Sudah Berkunjung dan Membaca.

Salam Hangat, Indonesian batik

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *