Explore Desa Batik Girilayu, Antara Tumper dan Sebuah Kisah Batik di Pagi Hari

Selamat pagiiii. Eh, ketemu lagi dengan kami Prajanaparamita Indonesian Batik. Kalian belum pada kenal ya? Kasian. Okay, sesuai rencana awal kita akan kembali Explore Desa Batik Girilayu. Ada cerita yang menarik, atau apa yang kalian punya tentang batik, akan kita datangi suatu saat nanti, jangan lengah, kami bisa berada di tempat kalian kapan saja. Hihihi.

Setiap kali kami berangkat menuju galeri Prajnaparamita, di sebuah rumah yang tidak megah yang berada di pinggir jalan, di kiri jalan, seorang pembatik sibuk dengan kepulan asap dari tumpernya. Kalian perlu tahu, tumper itu adalah bahan bakar berbentuk kayu yang disusun untuk menghasilkan bara yang digunakan memenaskan wajan untuk malam yang digunakan untuk membatik.

3

Sebelumnya, perkenalkan, Ibu Pani, Dusun Wetankali, salah satu bagian dari Desa Girilayu, Desa Batik Girilayu, atau Kampung Batik Girilayu. Beliaulah yang setiap pagi duduk manis bercengkrama dengan batiknya, entah hari apa itu, yang pasti setiap pagi, kami pasti menemukan beliau di depan batiknya.

Dan kami berkesempatan menemui beliau di salah satu pagi yang entah sudah ke berapa. Pada awalnya beliau tidak mau diabadikan momen ketika membatik. Takut terkenal katanya.

Beliau sedang mengerjakan batik pesanan yang memiliki motif kontemporer, kelihatannya. Sayangnya kami lupa bertanya sejak kapan beliau membatik. Atau berapa batik yang telah dibuat oleh beliau.

Menurut beliau, membatik bukan semata-mata mengisi waktu yang luang. Setelah selesai dengan kegiatan rumah tangga, pasti tumper, asap, dan batik di depannya menjadi pembuka pagi sampai sorenya. Sebuah kisah klasik yang beliau nikmati dan cerita selanjutnya bagi generasi beliau.

2

Dengan atap rumah yang berwarna hitam karena asap dari tumper selalu mengarah ke atas, atau terkadang mengejar kami. Dari beliau kami bisa membaca bahwa keinginan untuk tetap melestarikan batik di Desa Girilayu begitu besar.

Tanpa tahu nominal rupiah yang akan dihasilkan. Ketika motifnya hanya simple dan mudah, maka harga juga cenderung murah, meskipun hanya membutuhkan waktu 3 sampai 4 hari. Dan ketika mengerjakan motif yang sulit, meskipun dihargai cukup mahal, tetapi waktu yang dihabiskan juga lebih dari 2 minggu.

Dari perkiraan dan penelitian kami, tidak banyak untuk nerusi batik yang memiliki motif sulit tidak lebih dari 300 ribu rupiah. Tergantung pesanan harga dan kesulitan motif batik yang akan dibuat. Harga yang murah untuk membatik tulis menurut kami.

Keinginan beliau sederhana, tidak ingin berhenti membatik, ketika satu pesanan selesai maka harus ada setelah itu motif lain yang dikerjakan. Agar asap tumper tetap mengebul menghitamkan atap rumahnya. Meskipun beliau tidak pernah tahu harga batik yang akan dijualnya, atau apakah namanya ada dalam batik tersebut.

Hanya sejengkal cerita Ibu Pani yang kita mampu sampaikan, karena kami juga ingin berusaha, menjadikan hati dan hidup para pembatik sejahtera, paling tidak untuk membuat sarapan pagi sang suami, atau uang jajan cucu beliau.

Semoga kesehatan dan keberkahan selalu dilimpahkan kepada beliau untuk tetap melestarikan batik Indonesia umumnya dan Batik Desa Girilayu khususnya.

Dari membatik, ada pengabdian tersendiri yang beliau ingin sampaikan kepada kita.

“tidak akan pernah ada nyala tumper yang padam untuk membatik, sampai usia memadamkannya”

1

Silahkan share, atau jika kalian ingin bertemu dan belajar membatik bersama beliau, kami akan dengan senang hati mengantarkan.

Terima Kasih Sudah Membaca dan Berkunjung,

Salam Hangat, Indonesian Batik

-prajnaparamita-

Posted in Indonesian Article and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , .

One Comment

  1. Pingback: Selamat Hari Batik Nasional, 2 Oktober 2018, Dari Sejengkal Bumi Batik Desa Girilayu - Indonesian Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *